
"Dia kabur dari rumah sakit," keluh Reno saat dia baru saja masuk rumah dan Tenri menyambutnya dengan menanyakan kabar Elsa.
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Biarkan saja, yang penting aku sudah mau mengurus dia. Itu sudah pilihannya, jika tebakanku benar paling dia pergi mencari Rama."
"Kasihan, Elsa."
"Sayang, kamu jangan terlalu baik dong sama orang. Elsa itu hampir saja menghancurkan rumah tangga kita. Karena dia juga kan kita sempat ribut beberapa waktu lalu. Jadi, biarkan dia untuk sementara mencari jalan terbaik untuk dirinya sendiri."
"Aku perempuan daeng, sebagai sesama perempuan aku bisa merasakan bagaimana kebingungan yang dialami Elsa. Apalagi dia sampai harus kehilangan bayinya, itu pasti jadi momen tersulit dalam hidup Elsa."
"Ibu memang tak pernah salah memilih kamu jadi isteriku, sekarang kita jangan bahas Elsa lagi. Lebih baik kita fokus pada calon baby di dalam perut kamu itu. Hey girl, apa kabar?" Reno berjongkok untuk menyejajarkan wajahnya dengan perut Tenri.
Dia mendekatkan telinganya ke perut buncit isterinya untuk mendapatkan respon sang bayi. Biasanya jika dia melakukan itu, maka tak lama setelahnya bayi di dalam perut Tenri akan menendang atau pun bergerak. Seolah bayi itu memiliki hubungan yang kuat dengan Reno, tahu kalau yang sering mengajaknya berbicara adalah sang papa.
***
Lima hari kemudian. Hasil tes DNA Prenatal sudah keluar. Daffa mengabarkan hal tersebut kepada Reno dan meminta pria itu ke kliniknya untuk tahu apa hasil dari tes tersebut.
"Sayang, barusan Daffa telepon, hasil tes DNA-nya sudah keluar. Dia meminta kita ke klinik CIMERA sekarang."
"Benarkah? Kalau begitu, tunggu apa lagi. Aku sudah tak sabar, Daeng."
Tanpa menunggu waktu lagi, Reno mengeluarkan mobil dari garasi dan Tenri sedang menunggu di teras. Keduanya pergi bersama.
Tiba di klinik CIMERA, mereka berdua terpaksa menunggu beberapa saat karena Daffa memiliki beberapa pasien yang hendak memeriksa. Reno menjaga Tenri dengan baik, sesekali jemari tangannya mendarat di perut buncit Tenri untuk mengusap dan menyapa calon anak mereka.
__ADS_1
"Sabar ya, Papa sama Mama lagi ada urusan. Kita menuggu sebentar dan setelah itu, papa akan mengajak kamu dan Mama belanja keperluan kelahiran kamu nanti. Gimana, senang tidak?"
Tenri merasakan kehangatan, Reno begitu perhatian padanya dan juga pada bayinya. Mereka berdua memang belum menyiapkan apapun sama sekali. Takut pamali, namun memasuki usia kehamilan delapan bulan mereka berdua pun memutuskan untuk membeli keperluan melahirkan dan pasca melahirkan.
***
Setelah menunggu beberapa saat, Tenri dan juga Reno dipersilakan masuk ke ruang periksa Daffa. Senyum hangat Daffa menyapa mereka berdua.
"Silakan duduk," ucap Daffa.
Tenri dan Reno pun duduk di depan Daffa diantarai oleh sebuah meja kerja.
"Apa kalian sudah siap mendengar hasilnya? Aku akan bacakan untuk kalian," mimik wajah Daffa tak bisa ditebak. Hasil dari tes DNA itu pun masih misteri. Mereka berdua menunggu dengan cemas, namun tetap berpikiran positif.
"Aku sudah tak sabar," sambung Reno.
Padahal sudah jelas-jelas dia tahu bahwa Elsa bukan hamil olehnya melainkan Rama. Namun tetap saja Reno seperti khawatir jika saja hasil tes DNA itu justru mengungkapkan fakta lain.
Kedua tangan Reno dan Tenri saling bertaut di bawah meja. Berusaha saling menguatkan, apapun hasilnya nanti.
"Sesuai hasil yang tertera di sini, tentang pengambilan sampel Ayah, Ibu dan juga janinnya menunjukkan hasil bahwa DNA anak tidak cocok dengan DNA ayah."
Mendengar penuturan Daffa, Reno dan Tenri saling berpandangan dan tak bisa menutupi kegembiraannya. Mereka berdua berpelukan di depan Daffa.
Jujur, aku bisa saja memalsukan hasilnya Tenri. Namun sisi kemanusiaanku tidak mengizinkan hal itu terjadi. Belum lagi mengingat kode etik kedokteran bahwa siapapun yang mengabdi atas nama masyarakat maka tak boleh ada kebohongan di dalamnya. Aku ikhlaskan kamu bersama Reno, mungkin takdirku adalah hanya mampu mencintaimu dalam diam. Tetaplah bahagia, sebab jika kamu bersedih dan Reno menyakitimu maka aku tidak akan segan-segan mengambilmu dari Reno, Tenri. Apapun caranya.
Daffa tersenyum, ikut bergembira dengan hasil tes yang menyatakan bahwa Reno bukanlah ayah biologis dari anak yang dikandung Elsa. Meskipun sebenarnya hasil tes itu tak perlu ada, sebab sang bayi sudah pergi lebih dulu dan Reno sudah tahu kebenarannya bahwa Rama yang melakukan itu pada Elsa.
__ADS_1
"Aku senang sekali, Daeng. Aku sampai terharu dan menangis seperti ini. Aku benar-benar bahagia ...."
"Terimakasih sudah percaya padaku hingga saat ini, aku tidak akan melakukan hal apapun yang mungkin bisa menyakiti hati kamu, Tenri."
"Sekarang, saatnya kita melanjutkan perjalanan rumah tangga kita. Kita tunggu kelahiran anak kita, pasti suasana rumah akan semakin ramai dengan kehadirannya."
"Oh iya, terimakasih ya Daff. Kamu sudah membantu kami untuk urusan ini. Maafkan kami juga sudah merepotkan kamu."
"Tidak apa-apa, kita ini sahabat, tidak perlu sungkan."
"Terimakasih dokter Daffa," ucap Tenri dengan senyum yang mampu membuat Daffa meleleh.
***
Semua orang tentu menghadapi masalah dalam hidupnya, termasuk juga pasangan suami istri yang sudah menikah sekian lama. Masalah dalam rumah tangga memang tidak semuanya sama, namun peliknya masalah tersebut terkadang membuat kedua belah pihak merasa nelangsa dan akhirnya menyerah dengan ujung perceraian.
Beruntung Tenri dan Reno dapat melewati semua masalah itu bersama-sama. Sejatinya, hidup adalah ujian. Jangan pernah merasa bahwa ujian yang kamu hadapi adalah yang paling besar dan paling berat. Sebab di luar sana, masih ada orang yang masalahnya jauh lebih besar dan berat dibanding kita.
Bukan perkara seberapa besar masalahnya, namun seberapa bisa kita keluar dari masalah tersebut. Hadapi jangan lari, fokus bukan pada masalah tapi fokuslah pada penyelesaian.
Tak ada manusia yang bisa menampik masalah dalam hidupnya. Karena sejatinya masalah akan terus ada hingga manusia tersebut meninggalkan dunia. Untuk itu tak perlu sedih dan putus asa berkepanjangan menangisi masalah dalam rumah tangga. Cobalah menerima dengan lapang dan lalui dengan penuh keikhlasan. Ingat, janji Tuhan adalah pasti.
Tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa masalah yang datang bukan untuk dihindari, melainkan dihadapi dengan pikiran yang tenang. Setiap ujian hidup selalu menyisakan hikmah di baliknya. Maka dari itu, petik hikmah terbaik dari setiap masalah yang kamu lalui dan jangan bersikap putus asa dalam menghadapinya. Beri ruang dalam hati dan pikiranmu untuk mencerna tindakan terbaik dalam menghadapi kemelut yang ada dalam rumah tanggamu. Tetaplah berani menghadapinya.
Kemelut rumah tangga seperti sebuah bumbu, harus ada penyeimbang dalam hidup. Agar kita tahu bagaimana rasanya menderita, bagaimana rasanya bahagia. Terpenting adalah bagaimana kita mampu keluar bersama-sama tanpa saling menyalahkan satu sama lain.
Happy Ending ....
__ADS_1
_________
Terimakasih sudah membaca novel ini. Maaf jika banyak kekurangan di dalamnya. 🙏🙏🙏