Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Lebih Baik Diam Saja


__ADS_3

'Sampai kapan perang dingin ini berakhir? Sampai kapan kita harus berdiam seperti dua orang tak saling mengenal? Kau dengan duniamu, aku dengan duniaku yang juga sedang goyah.'


____


"Ren, apa benar kamu bertemu dengan orang bernama Rama?" tanya Doni yang saat itu ditemui Reno di apartemennya.


"Dari mana kamu tahu?"


"Tenri cerita semuanya padaku, saat kepergian kamu ke Australia dia didatangi oleh Elsa. Elsa membeberkan semua tentang Rama yang katanya bukanlah partner bisnis yang baik. Lalu Tenri yang khawatir berusaha menghubungi aku karena nomor kamu selama di sana tak pernah aktif. Sekarang aku cuma mau tahu apa yang sedang kamu dan orang bernama Rama itu rencanakan?"


"Aku menjual seluruh aset usaha bengkel Cahaya Timur."


Kalimat yang cukup pendek, padat namun menghujam jantung Doni.


"Apa? Kau gila ya? Bagaimana dengan seluruh karyawan kita?"


"Hal itu yang ingin aku bicarakan padamu, makanya aku datang kemari. Aku minta tolong agar kamu mengurus semua karyawan-karyawan itu, termasuk pesangon dan juga yang lainnya. Aku masih ada sedikit uang untuk memberikan penghargaan terakhir kepada mereka yang sudah membersamai kita selama ini."


"Ren, jangan bilang kau menjualnya pada seorang bernama Rama itu?"


"Kamu benar. Aku menjualnya pada Rama. Apa ada yang salah?"


"Astaga. Kenapa kamu tidak diskusikan ini dulu sih ke aku? Kamu kan bisa nanya pendapat aku, bisa nyari tahu orang bernama Rama itu seperti apa. Kamu gegabah sekali, Ren."

__ADS_1


"Rasanya aku tak perlu berdiskusi denganmu, Don. Perusahaan itu adalah milikku, sepenuhnya atas namaku dan aku berhak melakukan apapun terhadap perusahaan itu."


"Padahal usaha itu masih bisa kita bangun lagi dari nol, Ren. Tidak perlu kamu jual semua yang masih tersisa. Usaha itu adalah yang kamu bangun dari bawah, bukan usaha yang ujug-ujug langsung muncul dan besar begitu saja. Aku rasa kamu salah mengambil langkah, Ren."


"Tidak usah khawatir, aku akan membuka usaha baru, yaitu membuka showroom penjualan mobil dari Jepang. Bulan depan semuanya akan dimulai dan aku juga sudah memilih lokasi yang strategis untuk showroom tersebut."


"Sekali lagi aku tanya, apa kamu tak berniat mencari tahu dulu asal usul orang bernama Rama itu? Jangan sampai kamu menyesal, Ren. Tidak ada salahnya kita dengarkan Elsa kali ini, barangkali aja dia tahu Rama dengan detil."


"Sudahlah, kontrak kerjasamanya sudah berjalan, aku percaya pada Rama. Tolong ya Don, urus semua karyawan-karyawan itu. Aku mengandalkanmu."


"Ren, Reno ...." panggil Doni karena Reno tiba-tiba saja beranjak pergi tanpa mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.


***


"Kamu sudah pulang, daeng. Aku sudah siapkan air hangat untuk daeng mandi, juga sudah ada kopi jika sekiranya daeng mau ngopi dulu sebentar. Setelah itu, kita makan malam bersama di bawah. Aku tunggu, daeng."


Reno tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia membuka kemejanya dan bertelanjang dada. Lewat begitu saja di depan Tenri dan masuk ke kamar mandi. Tenri berusaha memaklumi, mungkin suaminya sudah gerah sekali dan ingin segera membersihkan badannya.


Tenri pun turun ke lantai satu menyediakan makanan, dibantu oleh Bi Surti. Dua puluh menit kemudian, karena Reno tak kunjung turun, dia pun naik ke atas untuk memanggil suaminya itu.


"Daeng, makan malamnya sudah siap. Turun, yuk." Tenri berdiri di depan suaminya yang tak pernah mau menatap dirinya.


Reno berdiri dan berjalan mendahului dirinya keluar kamar. Tenri menarik napas dalam, lalu mengikuti langkah suaminya menuruni satu persatu anak tangga.

__ADS_1


Mereka pun duduk di kursi masing-masing. Hanya berdua. Tenri hendak menyendokkan nasi ke piring Reno, "aku bisa sendiri." Ucapan Reno itu lantas membuat tangannya terhenti begitu saja. Tenri pun menyerahkan sendok nasi itu pada Reno.


Selanjutnya mereka makan dalam suasana hening, hanya ada suara sendok beradu dengan piring. Selebihnya dari mulut mereka tak pernah keluar kata-kata lagi sampai mereka selesai makan.


Bi Surti datang dan membereskan semua yang ada di atas meja makan. Reno sudah meninggalkan meja makan sejak tadi.


"Bu, usaha terus. Batu saja bisa luluh setelah terkena air terus menerus, apalagi cuma hati manusia. Suatu saat pasti akan luluh oleh ketulusan. Bibi tahu, Ibu tulus menyayangi bapak."


"Iya Bi, terimakasih. Aku ke atas dulu, barangkali ada yang dibutuhkan Reno dari aku."


Sampai di atas, dilihatnya Reno sedang duduk bersandarkan bantal di atas tempat tidur. Tenri pun ikut naik ke tempat tidur dan duduk bersisian dengan suaminya, Tenri berusaha memijat bagian kaki suaminya.


"Daeng, bagaimana usahamu? Apakah berjalan lancar?" Tenri berusaha memancing pembicaraan.


"Tadi, ibu menelpon dan menanyakan kabarmu. Dia merindukanmu karena katanya kamu sudah lama tak menghubunginya."


"Kau cerita macam-macam ya pada ibu?" tiba-tiba Reno berbicara dengan nada suara tinggi. Membuat Tenri terkejut dan berhenti sebentar untuk memijat kaki suaminya itu.


"Tidak daeng, aku tidak pernah membicarakan satu pun permasalahan yang kita alami di sini. Aku hanya bilang semuanya baik-baik saja di sini, aku bilang kamu sibuk dan karena itu tidak sempat menghubungi ibu. Apa ada yang salah dari kalimatku, daeng?"


"Lain kali kamu tidak usah bicara pada ibu, biar aku yang bicara langsung dengannya."


"Baik, daeng."

__ADS_1


Apa yang dilakukan Tenri selalu salah di mata suaminya, karena itu mungkin dia lebih baik diam saja.


__ADS_2