
"Mungkin beberapa orang akan bilang bahwa aku ini wanita yang bodoh, wanita lemah, wanita yang mau mau saja menerima segala perbuatan buruk Reno. Tapi, aku berumah tangga baru beberapa bulan. Butuh waktu yang lama agar dapat beradaptasi, lagi pula aku sudah janji untuk bertahan. Janji Tuhan itu pasti, sekeras-kerasnya batu akan ada masanya dia tergerus. Itulah prinsip yang aku pegang saat ini. Aku Tenri, perempuan Makassar, tak akan menyerah bila aku belum berkata menyerah."
"Terbuat dari apa sih hati kamu, Tenri? Aku sampai tidak habis pikir dengan kerasnya hati kamu mempertahankan rumah tanggamu." Olla membalas ucapan Tenri di telepon. Saat ini memang hanya Olla tempat Tenri menceritakan seluruh kesahnya.
"Aku bisa saja menemui Daffa, menjadikannya pelarian dari setiap masalah yang ada saat ini. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu, Olla. Hidup berumah tangga tidak bisa setengah-setengah, jika kita masih mampu bertahan mengapa tidak?"
"Lagi pula, aku akan berdosa seumur hidupku karena telah berzina dengan laki-laki lain yang bukan muhrimku. Bukan sesuatu yang ditakdirkan untukku, dan lagi aku juga tidak mencintai Daffa. Bagiku, saat nama Reno disebut-sebut oleh keluargaku sebagai calon isterinya maka saat itu telah kuputus perasaan terhadap lelaki lain jikapun itu ada."
"Hahhh ...." Olla menarik napas dalam dan melepaskannya. "Aku sebagai sahabat hanya bisa mendoakan kamu, Tenri. Apapun keputusanmu saat ini, kuharap itulah yang terbaik."
"Terimakasih, Olla."
***
"Braaakkk ...."
Daun pintu kamar Tenri terbuka lebar setelah didorong dengan keras. Sosok Reno muncul dalam keadaan terhuyung-huyung masuk ke kamar.
Tenri segera menangkap tubuh Reno yang hampir terjatuh ke lantai.
"Astaga, daeng!" pekik Tenri.
"Lepaskan ... lepaskan aku ...." suara Reno terdengar parau akibat terlalu banyak menenggak alkohol.
__ADS_1
"Bahkan semua orang sudah meninggalkan aku karena aku sudah bangkrut sekarang. Aku tidak lagi punya apa-apa." Reno terus berbicara mengenai nasib dia yang sekarang karena banyak ditinggal teman-temannya.
Ya, Reno sekarang menyadari dirinya telah ditipu habis-habisan oleh Rama. Melapor ke pihak berwajib pun percuma. Reno tak punya bukti bahwa dia telah ditipu. Kini seluruh usaha yang dia bangun benar-benar telah berakhir. Tak ada sisa lagi.
"Bangunlah, daeng. Ayok ...." Tenri berusaha sekuat tenaganya untuk memapah suaminya sampai ke tempat tidur.
Walau harus terseok-seok, namun dia pun berhasil membawa Reno dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemeja yang dipakai suaminya telah lusuh, kancingnya terbuka beberapa di bagian atas. Keadaannya benar-benar memprihatinkan.
"Tenri ...! Di mana kamu? Mengapa kamu juga tidak ikut pergi dan kabur meninggalkan aku di sini sendirian, hah?"
Tenri membiarkan suaminya terus meracau tak karuan, dia sedang berusaha melepas sepatu Reno yang masih dipakainya. Lalu tak lama kemudian, suara Reno perlahan mengecil dan tak lagi meracau. Dia pun tertidur persis anak kecil yang sudah puas bermain.
Tenri menutupi tubuh suaminya dengan selimut, setelah sebelumnya dia berusaha melepas baju suaminya yang berbau alkohol itu. Meskipun hal itu sulit dia lakukan karena badan Reno yang besar, namun usahanya tak sia-sia. Bajunya berhasil dia lepaskan juga.
"Kembalilah seperti dulu, di awal-awal pernikahan kita. Aku bisa menerima apapun keadaanmu. Aku akan mengesampingkan ego demi kehidupan bahagia bersamamu. Banyak orang yang menaruh harapan besar atas pernikahan kita, sekalipun kita dijodohkan tapi aku juga kamu berhak bahagia atas pernikahan ini."
Dia tetap saja berbicara seorang diri, meskipun Reno tidak mendengarkannya. Tenri sangat merindukan saat di mana mereka bercengkrama satu sama lain, berbagi cerita dan berbagi pengalaman.
Kebahagiaan yang dirasakannya terlalu singkat, sampai Tenri mengira bahwa hanya itulah jatah bahagia yang dia peroleh dari suaminya.
Kini Tenri tidur di samping suaminya, sembari mengusap pelan rambut Reno yang lembab karena keringat saat dia baru saja tiba di rumah.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, saat matahari mulai bersinar dengan terang. Reno pun terbangun dari tidurnya, matahari yang mengintip dari balik jendelanya, menyilaukan matanya. Pada saat dia terbangun, dia merasa pusing dan mual. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya yang hendak keluar.
Suara air mengalir berpacu dengan suara Reno yang muntah. Hal itu terdengar oleh Tenri yang baru saja masuk ke kamar membawa kopi untuk Reno.
Tenri pun cepat meletakkan gelas kopi itu dan mendekati kamar mandi.
"Daeng, daeng ...! Apa yang terjadi?" teriaknya dari luar.
Tidak ada jawaban dari Reno, Tenri menunggu dengan sabar sampai Reno selesai.
Pintu kamar mandi terbuka dan Reno muncul dengan wajah pucat.
"Daeng, kamu baik-baik saja?" Tenri hendak menyentuh lengan Reno, namun tangannya dihalau oleh suaminya itu. Kedua tangan Tenri pun terpaksa ditarik kembali olehnya.
"Jangan sentuh aku, aku baik-baik saja."
"Kopi dan sarapannya sudah aku siapkan, daeng bisa turun jika sudah selesai. Aku tunggu."
Dengan tatapan menunduk, Tenri pun berlalu di hadapan Reno.
Reno menatap wajahnya di cermin, meskipun tubuhnya masih tampak gagah. Namun aura dari wajahnya seperti memudar, kusam dan agak gelap.
"Aku tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup lagi, usahaku hancur, rumah tanggaku juga ikut hancur. Aku sudah menghancurkan semuanya."
__ADS_1
Dalam keadaan dia yang seperti itu, dia menyadari dirinya telah banyak kehilangan. Termasuk kehilangan rasa bahagia bersama isterinya.