Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Daeng, Kamu Dimana?


__ADS_3

Hari demi hari sudah berlalu, hubungan Tenri dan Reno tak kunjung membaik. Baru-baru ini, Reno tak pulang ke rumah entah menginap di mana. Tenri selalu cemas menunggu kepulangan suaminya itu.


Kadang saat pulang tengah malam, Tenri memilih untuk pura-pura tidur. Terpenting dia sudah tahu Reno masih pulang ke rumah. Namun kali ini berbeda, biasanya dia yang pulang pukul 11 malam sampai pukul 1 dini hari belum juga pulang.


Tenri bolak balik antara tempat tidur dan berdiri mendekati jendela, melihat keluar kalau kalau suaminya sudah pulang. Namun hingga jam satu sekarang, kecemasan Tenri makin bertambah. Reno tak kunjung datang.


Ujian rumah tangga Tenri benar-benar diuji oleh Tuhan. Usia pernikahan mereka baru memasuki bulan ke lima dan belum ada kedamaian di rumah itu sejak pertengkaran yang terjadi antara mereka.


Tenri mencoba untuk terus menghubungi suaminya, namun nomornya malah tak aktif. Berulang kali Tenri mencoba namun berulang kali juga hanya suara operator yang terdengar. Dia sampai hapal setiap kalimatnya.


"Di mana kamu, daeng?" ucapnya cemas, tangannya sampai gemetaran.


Waktu terus berlalu, pagi pun menjelang. Tenri baru bisa tidur usai melaksanakan shalat subuh. Reno belum juga pulang. Saat terbangun dan meraba tempat tidurnya, Tenri pikir mungkin Reno sudah datang dan tidur tanpa sepengetahuan dirinya. Namun, tempat tidur di sebelahnya masih kosong. Hanya ruang hampa.


Ada gurat kecewa di wajah Tenri, dia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Doni.


"Dia tidak di sini, Tenri. Apa dia tak pulang?" suara Doni terdengar masih serak karena terbangun oleh suara dering telepon. Suara Tenri yang menanyakan kabar suaminya membuatnya terpaksa harus terjaga lagi.


"Dia tidak pulang. Makasih ya, Don."


Baru saja dia mau meletakkan ponselnya, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselnya. Dia penasaran karena pesan tersebut berisi gambar. Pengirimnya dari nomor tak dikenal, tidak terdaftar dalam kontak Tenri.


Proses mengunduh gambar pun dimulai ketika Tenri mulai meng-klik tengah dari gambar tersebut.


Betapa terkejutnya dia, saat melihat foto Elsa yang saat ini bersama suaminya di sebuah kamar. Elsa tampak tersenyum, memamerkan dirinya yang tengah menutupi bagian dadanya. Tenri seketika menutup mulutnya untuk menutupi rasa terkejutnya.


"Astaga ... daeng. Setega itu kamu sama aku?"


Tumpah sudah air mata Tenri, pria yang tertidur pulas di samping Elsa adalah Reno suaminya. Suami yang sangat dikhawatirkannya.

__ADS_1


Tenri mencoba kuat, mencoba sabar dan tetap berusaha menahan diri agar dia tak larut dalam emosi yang tiba-tiba menyeruak dari dalam dadanya.


Dia menarik napas panjang sekali lagi, sebuah dering telepon kembali mengejutkan dirinya. Tanpa melihat nama si penelpon, Tenri pun mencoba membenarkan suaranya agar tak serak dan tak terdengar seperti orang sedang menangis.


"Halo ...."


"Hu ... hu ... hu ...." terdengar suara tangis yang ramai sekali. Membuat tanda tanya besar di kepala Tenri. Ada apa gerangan?


"Halo ... kenapa banyak suara tangis? Dengan siapa aku bicara?" tanya Tenri cemas. Ponsel yang semula ada di telinganya itu, dia lihat kembali layarnya dan nama salah satu kerabatnya tertera di sana.


"Tenri ... Tenri ... kuatkan dirimu. Kabarkan pada suamimu, kalau ibunya sudah tidak ada. Hiks ... hiks ...."


"Aa ... Apa ....? Siapa? Maksudnya tidak ada? Meninggal? Ibu Reno meninggal?"


"Iya, Tenri. Cepat suruh dia pulang ke Makassar."


"Bagaimana aku bisa menghubungi suamiku? Sedangkan nomornya saja tidak aktif." Dia menangis sesenggukan, berbicara pada dirinya sendiri yang sedang putus asa.


Lalu dia pun teringat dengan pesan yang baru saja dikirim Elsa.


'Aku harus menyingkirkan egoku sekarang, sekalipun aku marah kepada Reno dan juga pada perempuan tak tahu malu itu. Bagaimana pun Reno harus tahu kabar meninggalnya ibunya. Semua keluarga sedanf menunggu dia pulang.' Suara hati Tenri kembali menguatkan dirinya.


Walaupun rasanya sakit sekali, namun dia berusaha tahan. Dia mengetik pesan untuk dikirim ke nomor Elsa.


Sampaikan pada suamiku, Ibunya meninggal di Makassar. Jika kamu perempuan yang masih punya hati, maka sampaikan padanya sekarang juga.


Pesan itu pun terkirim. Tanpa pikir panjang, Tenri langsung membenahi beberapa pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam tas. Setelah semuanya selesai, dia turun dengan tergesa untuk menemui Bi Surti.


"Bu, mau ke mana tergesa-gesa sekali?"

__ADS_1


"Bi, maaf aku harus ke Bandara. Aku akan terbang ke Makassar sekarang juga. Ibu Reno meninggal. Tolong sampaikan pada Reno jika dia pulang, kalau aku menunggunya di bandara." Suara Tenri terengah-engah, dia bicara terlalu cepat sampai Bi Surti hampir tidak bisa mencerna satu-satu kalimat yang keluar dari mulut Tenri.


"Bi, aku berangkat sekarang juga. Taksi ku sudah menunggu di depan."


"Bu ... Bu ... hati-hati di jalan!" teriak Bi Surti.


***


Tenri menunggu hampir dua jam di Bandara dan Reno belum juga datang. Terpaksa dia berangkat terlebih dahulu dengan membeli tiket yang akan berangkat setengah jam dari sekarang.


Rasa kecewa Tenri sudah tak terbilang lagi, Reno bahkan mungkin belum tahu kalau ibunya meninggal. Bagaimana pun dia harus jadi pembela bagi suaminya, dia harus menyusun kalimat yang pas agar semua orang di Makassar tak terkejut melihat kepulangannya tanpa Reno.


Sementara Tenri sudah bersiap naik pesawat, Elsa baru membuka ponselnya dan memberikan pesan tersebut kepada Reno untuk dibaca.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Itu ibu aku Elsa! Kenapa kamu malah menahan aku di sini!" teriaknya di depan wajah Elsa penuh kemarahan.


Dengan cepat dia pulang ke rumahnya dan sampai di rumah dia tak menemukan Tenri lagi.


"Ke mana Tenri, Bi?"


"Sudah berangkat ke Makassar duluan, Pak. Tadinya Ibu menunggu bapak di bandara selama dua jam, kalau-kalau bapak masih bisa menyusul. Namun kata Ibu tadi di telepon, suruh kasih tahu bapak saja kalau dia sudah berangkat. Dia tak bisa menunggu lebih lama lagi, karena keluarga bapak di Makassar terus menanyakan kabar sudah sampai di mana."


Reno meremas rambutnya yang tak gatal, dia baru saja melakukan kesalahan fatal karena tak tahu sama sekali bahwa ibunya sudah meninggal. Dia aktifkan kembali ponselnya dan banyak sekali pesan serta panggilan WhatsApp masuk ke nomornya.


Tanpa kata, tanpa jawaban lagi, Reno berlari menaiki anak tangga. Bersalin pakaian lalu menyambar kunci dan pergi begitu saja.


Barangkali, penyesalan memang tempatnya harus di belakang. Namun, setiap penyesalan harusnya membuat pribadi seseorang menjadi lebih baik. Entah pada diri Reno suatu saat nanti.


Sementara Reno baru berangkat ke Bandara, Tenri sudah tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

__ADS_1


__ADS_2