
"Serius???" pekik Doni ketika Reno baru saja selesai menceritakan tentang apa yang baru saja didengarnya di klinik tempat Tenri periksa dan dokternya adalah Daffa, sahabat mereka.
"Untuk apa aku berbohong, Don. Aku mendengarnya dengan telinga yang masih normal. Daffa ngomong kalau dia punya perasaan kepada Tenri dan itu terjadi di masa lalu mereka. Apa mungkin sebenarnya Daffa dulu pindah ke Makassar?"
"Dugaan kamu bisa jadi benar, Ren. Soalnya setelah kita tamat SMK emang dia nggak pernah terdengar kabar lagi. Kayak hilang ditelan bumi, gitu aja tanpa jejak. Lalu sekarang tiba-tiba muncul di Jakarta dan dia mengenal Tenri. Itu kejutan sekali, Ren."
"Itu dia, apa di masa lalu Tenri pernah berpacaran dengan dia?"
Dugaan Reno semakin jauh, dan semakin jauh dia berprasangka maka semakin sakit yang dia terima di dadanya.
"Apa mungkin?"
"Ah tidak mungkin." sergah Reno cepat.
"Kenapa? Kamu cemburu?"
"Tidak. Aku tidak cemburu, itu hanya masa lalu."
"Yakin? Tapi ekspresi kamu tidak bilang kalau itu cuma tentang masa lalu, Ren. Jelas-jelas wajah kamu memasang wajah tidak suka begitu."
"Don, wajarlah aku tidak suka. Tenri itu isteriku."
"Sekarang kamu baru sadar? Ke mana aja, Ren?"
"Jangan begitu, Don. Sudah cukup jangan menyindir aku terus. Aku mengakui semua kesalahanku dan aku akan berusaha memperbaikinya kok."
"Haha ... iya, iya. Kamu atau aku yang selidiki tentang mereka?"
"Apapun informasi yang kamu dapatkan, aku harap tidak terlalu menyakitkan." balas Reno dengan wajah meringis.
"Segitu takutnya kamu, Ren?" tawa Doni langsung meledak begitu saja.
"Sialan kamu, Don."
Mereka berdua pun kembali bekerja, sekaligus mengawasi montir yang bekerja di bengkel. Reno tampak sangat cekatan melatih dan membimbing calon montir yang akan bekerja di bengkel mereka. Setiap harinya, pengunjung bengkel itu semakin menunjukkan peningkatan yang bagus. Itu sebabnya, mereka sangat optimis kalau usaha bengkel tersebut akan tumbuh pesat nantinya.
***
Tenri baru saja sampai di rumah, dia berjalan dengan langkah yang sedikit goyah. Kata-kata Daffa di klinik tadi membuat hatinya kembali merasakan sakit. Kembali mengingat setiap luka yang ditorehkan Reno padanya. Dia lelah untuk berpura-pura kuat, padahal setiap malam dia hanya bisa menangis mengingat rumah tangga mereka sampai seperti sekarang. Hancur berantakan.
__ADS_1
Setiap kata maaf yang diucapkan Reno malah semakin membuatnya sakit hati. Tenri masuk ke kamar, sebuah foto di atas meja mengingatkan dia pada pernikahannya dengan Reno beberapa bulan lalu.
Tenri mengusap kaca figura tersebut, "Daeng, lihat aku sebentar saja. Kumohon untuk tidak menggoreskan luka lagi. Aku tidak kuat jika harus sakit seperti ini terus."
"Meski aku sangat mencintaimu, sejak pertama bertemu denganmu, tapi jika aku terus menerus kau sakiti, aku tak yakin bisa bertahan lagi, daeng."
"Aku mungkin terlihat kuat, tapi sesungguhnya aku begitu rapuh di dalam. Sampai aku pernah berpikir, apa aku kembali saja ke Makassar? Bertahan di sini dengan orang yang tak pernah cinta sama aku, sama saja menggali kuburan ku sendiri."
Tenri terus berucap seolah berbicara pada foto yang dipegangnya. Air mata mengalir deras di kedua pipinya. Dia menyentuh sesaat perutnya, mengusapnya pelan.
"Kita sama-sama kuat ya, Nak. Bantu Mama untuk tetap tegar menghadapi Papa kamu. Doakan papa kamu segera berubah, dan kita bisa sama-sama lagi. Membangun keluarga yang bahagia. Kamu mau, kan?"
Perut Tenri semakin menonjol. Usia kehamilannya kini sudah enam bulan. Sebentar lagi memasuki usia tujuh bulan, semoga di saat itu Reno benar-benar telah berubah.
Ting.
Ponsel Tenri berbunyi satu kali, sebuah pesan masuk ke nomornya.
***Aku sangat minta maaf atas kejadian tadi, Tenri. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, aku hanya terbawa perasaan. Aku minta maaf, Tenri ....
__ Daffa***.
Ting.
Sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponsel Tenri.
***Kamu di mana? Kamu sudah pulang dari klinik? Bagaimana kabar anak kita? Sehat saja kan? Kamu juga jangan lupa untuk makan ya, kamu harus butuh banyak nutrisi, biar nanti anak kita tumbuh sehat, kuat dan pintar.
__ Reno, Calon Papa***.
Andai saja pesan itu dikirim saat mereka masih baik-baik saja, tentu saja Tenri akan langsung membalas pesan itu. Memberinya kabar baik dengan penuh kegembiraan. Sayangnya sekarang semuanya sudah berubah, hati Tenri menjadi dingin untuk hal yang menyangkut tentang Reno.
Meski begitu, Tenri memutuskan untuk membalas juga pesan itu.
Sudah di rumah, semuanya baik dan sehat.
__ Tenri
Hanya satu kalimat saja. Singkat, padat dan jelas. Tidak ada bumbu-bumbu rasa, seperti pesan yang dikirim Reno. Sayangnya hati Tenri terlanjur tersakiti.
__ADS_1
Pesan tersebut diterima Reno, harapannya terlalu muluk. Dia berharap Tenri akan membalas pesannya lebih panjang, sebab Reno mengajukan banyak pertanyaan.
Reno menatap ponselnya cukup lama, berharap ada balasan pesan lagi dari Tenri. Sayangnya balasan itu tak pernah ada lagi.
"Oi, kenapa? Melamun gitu?" sontak Reno terkejut karena Doni menepuk pundaknya dengan keras.
"Kamu mengagetkan saja, Don."
"Ada apa?"
"Don, menurut kamu apa aku masih punya kesempatan memperbaiki rumah tanggaku dengan Tenri?"
"Maksud kamu, Ren?"
"Aku seakan merasakan bahwa Tenri sengaja menjauhiku dan membuat jarak yang terlalu jauh di antara kita."
"Jangan terlalu banyak prasangka, tidak baik. Coba sekarang tetap berpikir positif, jangan menduga-duga yang justru malah menyakiti hati kamu, Ren."
"Entahlah, aku ... aku hanya merasa tidak optimis."
"Kamu harus optimis. Tenri itu mencintai kamu, mustahil dia meninggalkan kamu. Asalkan kamu berjuang untuk berubah, maka dia akan luluh juga nantinya. Lakukan yang terbaik, Reno."
"Terimakasih, Don."
Reno kembali menyibukkan dirinya, agar sejenak dia bisa lupa pada masalah yang ada sekarang. Kepalanya bisa meledak jika dia mencampur adukkan semuanya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, kata seseorang kalau penyesalan itu di depan maka namanya pendaftaran. Benar juga. Hehe.
Selamat berjuang Reno Premadi, seperti itulah hidup. Kadang manis, kadang pahit, kadang juga asam, pokoknya ramai rasanya. Jadi belajarlah untuk menjadi manusia yang lebih baik sebelum belajar menjadi suami yang baik.
Ada kerikil tajamnya, ada juga jalan mulus kayak aspal tol. Jadi yang perlu dilakukan adalah bersabar, semoga ada jalan baik dan bisa membawa kepada surganya.
Setiap rumah tangga memiliki ujiannya masing-masing, itulah mengapa setiap orang perlu bersyukur. Sebab hanya dengan bersyukur maka Semuanya terasa lebih mudah.
____
Sampai di sini, terimakasih sudah membaca novel MWIP.
__ADS_1