
Dua hari setelah pelaksanaan takziah, Reno dan Tenri memutuskan kembali ke Jakarta. Sejujurnya Tenri masih ingin tinggal sebentar lagi, menenangkan hatinya yang belakangan ini babak belur terluka oleh sikap Reno. Namun, lagi-lagi dia tak mau membuat suaminya kecewa. Dia pun ikut ke Jakarta bersama suaminya, juga untuk menghindari komentar-komentar para keluarga yang mulai mempertanyakan rumah tangga mereka. Meski tak secara langsung bertanya.
"Kalian hati-hati di jalan, kabari bapak jika kalian sudah sampai di Jakarta."
"Iyah, Pak. Kami pergi dulu." Keduanya mencium punggung tangan sang bapak kemudian masuk ke mobil yang akan membawa mereka pergi ke Bandara.
Suasana di dalam mobil sangat tenang, bahkan bila ada lalat di sana mungkin hanya suara lalat berdengung saja yang kedengaran. Sebelum akhirnya Reno mulai membuka suara.
"Aku baru ingat, kemarin kamu yang menghubungi Elsa?"
"Iyah, daeng."
"Kenapa tidak menghubungi aku langsung saja?"
"Nomor daeng tidak bisa dihubungi, kebetulan Elsa mengirimiku gambar kalian dan daeng sedang tidur di sampingnya ...." Nada suara Tenri sempat tercekat karena tak kuasa mengucapkan kata-kata itu. "Aku rasa kabar kematian ibu harus cepat daeng terima, maka aku pun menitipkan pesan untuk daeng kepada Elsa."
Tenri berusaha sekuat mungkin, meski dadanya sakit, meski bibirnya bergetar untuk mengucapkan itu.
"Jadi kamu sudah tahu semuanya?"
Tenri memalingkan wajahnya ke jendela mobil, sebab pertanyaan Reno semakin memperparah sakit yang dia rasakan. Sehingga air matanya pun tak terbendung lagi.
"Kenapa diam?" tanyanya lagi.
Tenri menyeka air matanya, sebenarnya ada kabar baik yang ingin dia sampaikan kepada suaminya itu. Namun rasanya situasi dan kondisi belum memungkinkan agar dia mengatakannya. Meski begitu dia tetap harus memberi tahu suaminya.
Lalu Tenri, mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Benda kecil berukuran kurang lebih 10 cm dan berwarna putih. Dia menatap benda kecil itu sebentar dan menyodorkannya kepada Reno tanpa berkata apa-apa.
"Apa maksudnya ini?" tanya Reno yang kaget melihat benda itu.
"Menurut artikel yang aku baca, jika garisnya dua maka seorang perempuan dikatakan sedang hamil."
__ADS_1
"Tenri ...." Reno menarik lengan Tenri agar mereka bisa saling berhadapan di kursi penumpang.
"A ... Apa itu artinya kamu hamil?" lanjutnya lagi.
Air mata Tenri semakin deras saja, dia tak kuasa lagi menahannya. Dia kira ketika dia memberitahu kabar gembira ini pada suaminya maka suasana bahagia pun akan tercipta seketika. Namun rasanya saat ini semua bagai percuma. Reno sama sekali tak senang mendengarnya.
Tenri mengangguk. "Aku hamil anakmu, Daeng."
"** ... ta ... tapi aku belum siap Tenri. Kamu tahu kan seperti apa kondisi kita sekarang? Aku baru akan memulai usaha lagi, asuransi atas kebakaran yang terjadi tidak bisa menutupi segala kerugian yang aku terima.
"Kita bicarakan ini di rumah daeng, sebentar lagi kita sampai di bandara."
***
Malam setelah mereka tiba di rumah, Tenri masuk ke kamar dan menunggu Reno untuk melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus saat dalam perjalanan menuju bandara.
"Lantas kamu mau aku bagaimana?"
"APA? Coba katakan sekali lagi daeng? Apa itu artinya kamu tidak menginginkan dia? Sadarlah daeng? Setan mana yang sedang merasukimu?" teriak Tenri yang saat itu emosinya benar-benar pecah.
"Kamu jangan teriak di depan wajahku. Kamu ini isteri yang harusnya patuh terhadap suami."
"Apa karena kamu besar dan sukses di luar kota dan bukan di Makassar lantas daeng bisa kehilangan akal begini? Juga melupakan adat dan istiadat yang berlaku di daerah kita? Di dalam darah daeng mengalir darah suku Bugis Makassar, siri' na pacce (Harga diri dan kasih sayang) harusnya daeng junjung tinggi-tinggi bukannya bersikap memalukan seperti ini!"
"Kau sedang mengajariku? Aku bukan muridmu, Tenri."
"Aku bukan mengajarimu, daeng. Aku mengingatkanmu."
"Sudahlah, kau membuat kepalaku mau pecah saja. Aku pergi ...."
Tenri pun tidak melarang Reno pergi, dia sudah tak punya daya lagi untuk melakukan itu. Semakin dia berusaha untuk memperbaiki keadaan, Reno semakin membuatnya keruh dan bertambah runyam.
__ADS_1
'Sekarang pergilah daeng, kau pasti ingin melampiaskan semua kemarahanmu lewat hasratmu bersama Elsa. Ya Tuhan ... kapan derita rumah tanggaku ini akan usai?' pekiknya dalam hati.
Selang beberapa saat, Doni menghubungi Tenri.
"Mbak, apa Reno ada di rumah?" tanya Doni seperti orang cemas.
"Tidak ada, kenapa Doni?"
"Apakah dia sudah tahu, kalau bengkel-bengkel yang tersisa sudah beralih nama dari nama Reno ke nama seseorang yang asing sekali di telingaku."
"Astaga ... benarkah, Doni?"
"Benar, Mbak. Aku menghubunginya namun nomornya tak aktif. Aku harus menghubungi dia ke mana?"
"Kamu bisa menghubungi Elsa, mungkin dia ada di sana."
"Apa?" Doni terkejut sekali mendengar ucapan Tenri.
"Iyah, mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Reno sama sekali belum bisa move on dari Elsa."
"Mbak ... sabar ya. Mbak harus menuntun Reno kembali lagi kepada Mbak."
"Iyah, semoga saja."
Telepon itu terputus. Hati Tenri semakin tak karuan, dia merasa khawatir kalau masih ada ujian selanjutnya yang harus dijalani suaminya.
"Ya Tuhan, ada apa lagi ini?" ucap Tenri yang tak bisa tenang.
Tenri hanya bisa mengelus perutnya yang masih rata, dia dalam usia kehamilannya yang masih muda, harus banyak menanggung derita.
"Bantu Mama berjuang ya, Nak. Kita pasti bisa melewati ini semua, Papamu pasti akan kembali bersama kita."
__ADS_1
Kesedihan masih terus menggantung di pelupuk mata Tenri. Dia tak dapat tidur hingga tanpa disadarinya pagi sudah menjelang.