Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Kepergian Reno yang Mendadak


__ADS_3

Tenri hendak pergi meninggalkan Reno sendirian di situ, namun baru saja dia melangkahkan kaki Reno sudah memanggilnya. "Mau ke mana kamu?"


"Tenri ingin ke kamar, Daeng." Tenri menjawab sambil menunduk, dia takut menatap kilatan mata Reno yang dipenuhi kemarahan.


"Tunggu sebentar, aku bisa jelasin tentang yang kamu lihat tadi." Reno meraih pergelangan tangan Tenri.


"Aku tidak apa-apa, Daeng. Lagi pula itu Elsa yang melakukannya bukan daeng yang menginginkanya. Aku cukup sadar mengenai posisi aku di hatimu."


"Please, Tenri jangan salah paham begitu. Jangan mengartikan segala sesuatunya dengan perasaan yang kita miliki di hati masing-masing."


"Tapi kenyataannya seperti itu, Daeng. Namun, sudahlah hal ini tidak usah kita perpanjang lagi. Omongan Elsa barusan sudah cukup membuatku sadar mengenai seperti apa posisiku saat ini."


Tenri pun berjalan menuju tangga dan perlahan menaikinya untuk sampai ke kamarnya di lantai dua. Reno mengikuti Tenri namun tak lagi menahan isterinya itu. Sesampainya di kamar, mereka pun tak saling bicara. Keduanya duduk di tepi tempat tidur di sisi kiri dan kanan namun saling membelakangi.


Reno belum cukup siap dengan masalah yang bertubi-tubi datang padanya, ucapan Elsa pun terngiang di kepalanya. Sejak dia menikahi Tenri, masalah demi masalah mulai bermunculan. Meski dia tak menuduh Tenri bahwa dialah biang masalanya.


Baru saja mereka menikmati liburan bulan madu berdua, kemudian semuanya hanya tinggal cerita. Kini mereka kembali seperti dua orang yang saling perang dingin tidak bisa mengalahkan ego masing-masing. Belum habis persoalan mereka di sana, kini Reno mengalami musibah besar yang berdampak pada karirnya sebagai pengusaha.


Setelah terjebak dalam situasi yang membingungkan itu, Tenri memilih untuk tidur saja. Tidak ada gunanya menunggu suaminya minta maaf atas kejadian di mana Elsa memeluk Reno di depannya itu. Tenri mengambil bantal, menepuk-nepuknya sebentar dan membaringkan badannya di sana.

__ADS_1


Reno entah sedang menghubungi siapa, mereka terlibat obrolan serius sampai akhirnya Tenri sudah tak sadar lalu tenggelam dalam tidurnya.


***


Keesokan harinya, Tenri sudah tidak menemukan Reno di tempat tidur mereka. Pintu kamar saat itu terbuka, sosok Reno muncul sudah berpakaian lengkap dan rapi.


"Aku berangkat ke Australia hari ini, aku akan bertemu teman di sana untuk membicarakan mengenai peluang bisnis yang baru."


Mendengar ucapan Reno, Tenri langsung beranjak dari tempat tidur mendekati suaminya yang berdiri di depan cermin sedang membenarkan dasi.


"Kenapa mendadak sekali, daeng?"


"Memangnya aku akan melakukan apa, daeng? Kamu mencurigaiku? Aku tak kenal siapapun di sini, mengapa kata-katamu seolah memojokkanku bahwa aku ini perempuan yang nakal?"


"Ciihh, baru segitu saja kamu sudah baper. Bagaimana jika sudah mengalami masalah besar seperti yang kualami sekarang."


"DAENG! Persoalannya bukan di situ, jangan karena daeng sedang mengalami musibah sekarang lantas daeng mengklaim bahwa masalah daeng lebih besar daripada masalah orang-orang di luar sana. Lagi pula, besar kecilnya masalah itu tergantung bagaimana kita menghadapi dan menyelesaikannya. Bukan malah mencari kambing hitam dan penghakiman dari pihak sendiri. Aku kecewa sama setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu pagi ini, daeng."


Ucapan Tenri sama sekali tak diindahkan oleh Reno, dia malah cuek saja dan lantas pergi meninggalkan Tenri di kamar sendirian.

__ADS_1


"Aku pergi," ucapnya.


Kali ini rasa sakit yang dirasakan Tenri benar-benar tak bisa dibendungnya lagi, perkataan Reno seperti tidak menggunakan hati. Tega-teganya dia berkata seperti itu, apa karena Tenri hanya di rumah saja tak melakukan apapun sampai-sampai dia tega mengatakan itu pada isterinya? (Author baper sendiri, hiks)


Sepeninggal kepergian Reno, Tenri sama sekali tak keluar kamar. Bi Surti pun khawatir lalu mengetuk pintu kamar yang tertutup itu.


Tok. Tok. Tok.


"Masuk, Bi."


Mata Tenri yang sembab itu berusaha disamarkan dengan cuci muka terlebih dahulu, sejak tadi memang hanya menangis yang dia lakukan. Dia bahkan tak berani curhat kepada Olla atau kepada siapapun tentang hal ini.


"Ada apa, Bi?"


"Ah tidak, Bibi hanya khawatir sama ibu. Soalnya ... sejak tadi Bibi tidak melihat ibu turun ke bawah sama sekali. Bahkan kepergian bapak pun, ibu tidak mengantar. Karena itu, Bibi cemas pada keadaan ibu."


"Aku baik-baik saja, Bi. Boleh tolong buatkan aku teh hangat?"


"Oh boleh, boleh. Bibi turun sebentar untuk mengambilkannya untuk ibu."

__ADS_1


Siapapun yang melihat keadaan Tenri yang sekarang akan mampu berasumsi bahwa wanita itu sedang tak baik-baik saja. Kadang luka yang tak samar justru lebih sakit dibandingkan luka yang jelas-jelas berdarah.


__ADS_2