Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Naloko Nakku (Rindu yang Meresahkan)


__ADS_3

Reno sedang mendengarkan sebuah lagu Makassar melalui ponselnya. Baru kali ini, dia seperti sangat merindukan kampung halamannya itu. Dulu dia sering sekali mendengarkan lagu dari penyanyi asal Makassar, kali ini tak sengaja dia mendapatkan sebuah lagu dari YouTube yang berjudul Naloko Nakku (Rindu yang Membuatku Lelah). Lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang musisi asal Makassar yang bernama Ridwan Sau.


Liriknya sangat cocok dengan kondisinya saat ini yang begitu merindukan sosok perempuan yang tak lain adalah isterinya. Meski tak ada jarak yang memisahkan mereka, tapi keduanya justru terpisah jarak tak kasat mata. Jarak yang labih jauh dibanding antara Makassar dan Jakarta atau jarak yang dapat ditempuh lainnya.


Tenri begitu dekat dengannya namun terasa sangat jauh dan tak bisa dijangkaunya. Disebabkan kesalahan dirinya yang akhirnya dihukum karma tak bisa lagi menyentuh tubuh isterinya.


Salloku ammoli' nakku, Rampa takubosarrang. Aule lanri mallaku, Salasa ri panrannuang. Kuempo-empoang minne Kutinro-tinroang tommi. Aule kupila' kamma la panra' naloko nakku.


Arti dalam bahasa Indonesia lagu tersebut adalah, "Sekian lama aku menyimpan rindu, yang tidak pernah aku ungkapkan. Oh... karena aku takut aku terlalu banyak mengharap. Saat aku duduk juga saat aku tidur. Oh ... aku merasa ingin hancur karena rindu yang meresahkan."


Lihatlah betapa frustrasinya Reno didiamkan oleh Tenri. Tak terasa dia mendadak sedih karena lirik lagunya begitu menyentuh kedalaman jiwanya. Lirik yang sama persis dengan apa yang dirasakannya saat ini. Membuat dia sampai tidak fokus mengerjakan pekerjaannya. Kepalanya pun berdenyut sakit karena harus memikirkan semua kesalahannya lagi pada Tenri.


Dia termenung di kursinya, bahkan saat Doni masuk ke ruangannya, dia tak sadar kalo sahabatnya itu bahkan sudah duduk di depannya.


"Ren ...." panggil Doni pelan karena melihat sahabatnya itu tak baik-baik saja.


"Ren ...." panggilnya lagi. Tak ada sahutan dari Reno.


Sampai pada panggilan ke empat barulah Reno terkesiap dan seakan sadar kalau Doni ada di situ.


"Eh apa, Don? Tadi kenapa?" jawabnya seraya menggosok wajahnya.


"Kamu sakit?" tanya Doni penuh selidik.


"Tidak. Hanya sedikit pusing, Don. Nggak tahu kenapa."


"Kamu kayaknya istirahat dulu deh, lihat wajah kamu pucat dan tidak bersemangat begitu. Jangan bekerja dalam kondisi seperti ini, nanti sakit yang kamu alami tambah parah. Aku antar pulang ya," lanjut Doni prihatin dengan kondisi sahabatnya itu.


"Tidak, tidak, aku masih bisa bekerja. Aku harus memantau pekerjaan para montir hari ini. Aku ... aku ...."


"Ren, sudah cukup. Kamu perlu istirahat," potong Doni cepat.


"Aku pulang sendiri saja kalau begitu."


"Yakin?"

__ADS_1


"Iyah, bisa kok."


Doni menarik napas panjang, dia sebenarnya khawatir dengan Reno di perjalanan saat pulang. Tapi laki-laki itu bersikeras tetap ingin pulang sendiri.


Reno berdiri, namun sedikit oleng. Dia berusaha keras agar tak jatuh, selain karena tidak mau merepotkan Doni, dia juga tak ingin kelihatan lemah di hadapan siapapun.


Dengan tertatih dan dibantu diawasi Doni saat ke parkiran, akhirnya dia sampai juga. Dia membuka pintu mobil dan mulai menghidupkan mesinnya. Tak lama setelah itu, perlahan ban mobil bergerak meninggalkan halaman parkir bengkel itu.


Dia pun menyetir sangat pelan, dia masih takut jika harus celaka di jalan.


Sementara Doni segera mengirim pesan ke Tenri, bagaimana pun dia harus membantu sahabatnya itu memperbaiki rumah tangganya. Dia sedih melihat Reno yang seakan tak punya semangat hidup lagi.


***Reno pulang cepat hari ini, dia sudah di jalan. Tubuhnya sangat lemas, wajahnya pucat. Saat kutanya kenapa dia mengeluh pusing, mau kuantar pulang dia tidak mau. Tenri, mohon kabari aku kalau dia sudah sampai dengan selamat ya.


___ Doni***.


Tenri membaca pesan tersebut saat dia sedang mengajar les di rumahnya. Kebetulan hari itu Chaca minta les dimajukan karena dia harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya.


Beruntung karena hari itu Chaca hampir selesai les. Dia pun menyimpan kembali ponselnya, meski dia juga agak cemas dengan kondisi Reno tapi dia berusaha untuk tenang.


"Sudah Miss, ternyata asyik juga ya. Kan semua berkat Miss. Kalau nggak ada Miss juga Chaca mana bisa mengerjakan soal sulit begini."


"Bukan. Itu karena Chaca mau belajar, tidak ada yang sulit kalau kita mau belajar. Iya nggak?"


"Iya, Miss."


Tak lama kemudian, jemputan Chaca pun tiba. Chaca pamit setelah membereskan perlengkapan lesnya.


"Dadah ... Miss ...."


"Daahh ... sampai jumpa akhir pekan nanti ya."


Tenri tersenyum melihat Chaca yang bersemangat. Dia pun masuk ke rumah, namun baru hendak menutup pintu, sebuah deru mesin berhenti tepat di halaman rumahnya. Tenri membuka pintu kembali dan melihat siapa yang datang.


Reno turun dari mobil sambil memegang pelipisnya. Lalu berusaha berjalan dengan langkah sempoyongan. Tenri berjalan cepat menghampiri Reno sebelum dia bisa saja terjatuh ke tanah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku bisa jalan sendiri." ucap Reno teguh pendirian bisa jalan sendiri masuk ke rumah. Padahal Tenri sudah berada di sampingnya. Dia masih keras kepala saja.


"Sini biar aku bantu," ucap Tenri tak mau kalah. Dia memapah tubuh suaminya masuk hingga sampai ke ruang tamu.


Tenri cekatan menaikkan kaki Reno ke kursi dan melepas sepatunya. Reno berusaha melepaskan jas yang masih dikenakannya. Sementara Tenri ke dapur mengambil air hangat untuk Reno.


"Ini minum dulu air hangatnya, semoga bisa sedikit lebih baik. Daeng sudah makan?"


Setelah meminum air itu, Reno berbaring lagi.


"Sudah, kayaknya aku tidur dulu sebentar. Kepalaku pusing sekali."


"Baiklah, daeng tidur di kamar aku saja dulu. Jangan tidur di sofa."


Reno mengangguk pelan, dia pun bangun dan berdiri pelan untuk bisa jalan ke kamar Tenri. Mereka sampai sekarang masih saja tidur terpisah.


Reno berbaring di atas tempat tidur, Tenri sedang mencari obat pereda pusing dan sakit kepala di kotak P3K untuk Reno.


Selang beberapa menit kemudian, Tenri masuk membawa obat dan juga air minum.


"Diminum dulu obatnya, daeng."


Reno menuruti semua permintaan Tenri, karena saat ini memang hanya itu yang bisa dia lakukan. Setelah minum obat, dia pun berbalik miring agar bisa lebih nyaman. Tenri pun akan pergi dari sana, karena takut Reno malah tak bisa tidur jika dia terus berada di sampingnya.


"Mau ke mana?" tanya Reno saat Tenri ingin pergi.


"Aku mau ke ruang les."


"Jangan pergi dulu Tenri, temani aku di sini sebentar lagi."


Tenri melihat tangan Reno yang sudah bertaut di jemarinya. Dia ingin menghindar namun Reno lebih dulu menahannya.


"Please ...."


Tenri pun mengalah, dia menarik kursi ke samping tempat tidurnya dan menemani Reno sampai tertidur.

__ADS_1


__ADS_2