Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Kenaifan Doni


__ADS_3

Hari itu langit sangat cerah untuk berjalan-jalan. Cuaca sedang baik-baiknya, janji Reno dan untuk membawa keluarga dari Makassar untuk berjalan-jalan pun terwujud.


Angin sejuk berembus lembut dari Utara, mengiringi perjalanan mereka. Lalu lintas Jakarta yang padat seperti biasanya tak memundurkan niat mereka. Bapak Reno, Tantenya beserta Olla sangat senang akhirnya mereka diajak jalan-jalan juga. Dalam kurun waktu tiga hari lagi mereka di Jakarta, hal itu tentu saja dihabiskan untuk berkeliling kota Jakarta.


Sayangnya baby Queen tidak ikut, umurnya menurut penanggalan tradisional, belum boleh keluar rumah. Belum di aqiqah juga jadi yang pergi mengantar mereka jalan-jalan adalah Reno. Bisa saja Tenri ikut dan meninggalkan baby Queen dengan seorang pengasuh namun Tenri tidak tega. Itu sebabnya dia memutuskan untuk menunggu mereka di rumah saja.


"Ren, Tenri tidak apa-apa ditinggal sendiri?" Olla bertanya pada Reno yang sementara sedang menyetir.


"La kamu dengar sendiri kan, dia bicara apa. Tenang saja, lagi pula aku dan dia akan merasa sangat bersalah jika tidak mengantar kalian jalan-jalan padahal sudah datang jauh-jauh dari Makassar. Untuk kasus ini pun, Tenri yang menyarankan. Selagi ada waktu dan aku juga sempat mengajak kalian, kenapa tidak."


"Oh iya Ren, kapan kamu akan berencana melangsungkan tasyakuran aqiqah cucu Papa?" Papanya yang sedari tadi tak banyak bicara akhirnya ikut angkat bicara.


"Yang pasti sehari sebelum keberangkatan Papa ke Makassar. Lusa insyaallah Pa, aku dan Tenri sudah mengurus semuanya."


"Syukurlah, andai saja Mama kamu masih ada. Dia pasti akan sangat gembira menyambut kelahiran cucu pertamanya. Papa kangen sama mama kamu, Nak."


"Iyah, Pa. Reno juga berharap demikian, hanya saja takdir sudah berkehendak lain."


Seketika suasana menjadi muram, padahal mereka harusnya berbahagia karena akan jalan-jalan. Namun hal itu tak berlangsung lama, sebab setelah perjalanan kurang lebih satu jam mereka sampai di Monas. Tempat yang ingin sekali dikunjungi tantenya.


"Ini ya yang dibilang Monas, Ren?" tanya tantenya.


"Iyah Tan, gimana senang tidak akhirnya bisa ke sini?"


"Ternyata tinggi sekali ya, Tante sangat takjub melihatnya."


Kebetulan hari itu adalah hari Minggu jadi yang datang juga jumlahnya banyak. Para pengunjung melakukan aktifitas masing-masing. Tak lupa Reno memfoto mereka secara bergantian agar mendapatkan kenang-kenangan bahwa mereka sudah pernah menginjak Monas.


"Pa, bergaya sedikit ya. Reno akan ambil gambar," Papanya pun menurut, meski ini bukan kali pertama dia ke Monas tapi tetap saja antusias papanya cukup besar untuk mendapatkan momen di Monas tersebut.

__ADS_1


Sang Papa segera mengambil pose terbaiknya dan cekrek, cekrek. Foto pun telah diambil, selanjutnya Reno melakukan foto selfie dengan mereka bertiga. Tersenyum lebar dan terlihat begitu bahagia.


Wajah Olla pun sangat ceria, menyesuaikan usia dengan para orang tua yang ikut bersamanya itu. Olla tidak tahu kalau Reno sudah menghubungi Doni lebih dulu. Reno janjian bertemu Doni di Monas sana, tanpa sepengetahuan Olla.


Reno sedang melancarkan aksinya menjodohkan sahabat isterinya dengan sahabatnya sendiri. Dari jauh, Doni melambaikan tangan pada Reno. Pada saat itu, Olla juga melihat ke arah datangnya Doni. Dia pun jadi salah tingkah. Dari yang tadinya dia ingin berselfi-selfi ria akhirnya tak jadi karena canggung dengan kedatangan Doni.


Hal itu terlihat dari gestur Olla yang tiba-tiba seperti jaga image. Doni menyapa satu persatu mulai dari Doni, papanya, Tante, dan terakhir Olla.


"Hai apa kabarmu?" tanyanya canggung.


"Baik." Olla menjawab sekilas.


Reno memberi kode kepada kedua Tante dan papanya agar meninggalkan Doni dan Olla agar mereka bisa ngobrol dengan leluasa.


"Eh mau ke mana?" tanya Doni


"Tan, di sini saja." sergah Olla pada sang Tante yang akan meninggalkannya bersama dengan Doni.


Firasat Olla mulai tidak enak, dia yakin ini ada konspirasi terselubung lagi. Mau tak mau dia pun harus melakukan hal tersebut. Yaitu, ngobrol berdua saja dengan Olla.


Mereka pun ngobrol sambil jalan, Doni tampaknya terlalu kaku dalam hal melakukan pedekate dengan seorang perempuan. Kayaknya itu masalah utama Doni dalam menggaet hati perempuan. Dia terlalu amatir.


"Kapan rencana kamu balik ke Makassar?" tanyanya pada Olla.


"Kalau tidak ada halangan, mungkin tiga hari dari sekarang. Menunggu baby Queen selesai tasyakuran aqiqah."


"O ... kamu sudah lama ya kenal dengan Daffa? Dia itu sahabat aku juga dari SMA, kami semua baik aku dan Reno tidak tahu menahu kalah Daffa berpindah ke Makassar. Soalnya setelah lulus SMA komunikasi pun putus dan sekarang malah dipertemukan lagi di Jakarta ini."


"Iyah dunia memang sempit kayaknya, persahabatan kalian cukup langgeng juga ya. Sama kayak aku dan Tenri, kita temenan udah dari kecil. Main bareng, sekolah bareng, dan masih banyak lagi hal yang kita lakukan bersama-sama."

__ADS_1


"Berarti sudah deket banget ya, udah kayak saudara mungkin."


"Begitulah, aku dan Tenri tumbuh bersama, jadi tahu betul. Kita berdua bisa dibilang sudah hapal luar dalam, entah sikap, karakter, atau apapun itu."


"Iyah aku bisa melihat kedekatan kalian, melebihi saudara kandung malahan."


Setelah puas berkeliling, mereka pun duduk di sebuah tempat duduk yang tersedia di area sekitar Monas.


"Menurutmu apa aku mengganggu jalan-jalanmu hari ini dengan kedatangan aku?" tanya Doni jujur pada Olla. Soalnya dia takut Olla malah jadi nggak nyaman berjalan dengannya.


"Tidak kok, ya senang aja ada yang bisa diajak ngobrol dan nyambung."


"Syukurlah."


Sebenarnya ada hal yang lebih mendalam ingin ditanyakan Doni, namun kayaknya itu terlalu naif dan dia memang tidak pandai dalam hal menaklukkan seorang wanita.


Makanya dia biarkan saja berjalan apa adanya, dia ingin mengenal Tenri lebih jauh dengan caranya sendiri. Dengan pendekatan yang dia lakukan sendiri.


"Em ... La, eh ini tidak apa-apa aku panggil nama sapaan kamu sama seperti Reno dan Tenri memanggil kamu."


"Memangnya mau manggil nama siapa lagi?"


"Ya kan ada orang-orang tertentu yang sebel karena memanggil nama sapaan dengan akrab padahal baru saja kenal. Makanya aku izin dulu sama kamu."


"Hehe, santai saja. Aku bukan orang yang terlalu kaku dalam menghadapi soal yang beginian."


Keduanya pun tersenyum tipis, mengetawai tingkah masing-masing yang salah tingkah.


Canggung. Berdebar. Keringatan. Hal itulah yang sedang dialami Doni. Bahkan jantungnya memompa dengan cepat hanya karena menyebut nama Olla saja.

__ADS_1


"Saat terakhir kamu di Jakarta, boleh tidak malam sebelum kamu balik kita makan malam berdua saja?"


Doni termasuk cukup berani mengungkapkan itu pada akhirnya.


__ADS_2