
Sebuah dering telepon membangunkan mereka di pagi hari saat matahari belum terlalu tinggi. Dering telepon itu tak juga berhenti meski berkali-kali diabaikan oleh Reno.
"Siapa sih, mengganggu tidur orang saja." Reno terus mengomel namun saat terakhir dia mengangkatnya juga. Matanya baru terbuka sempurna begitu melihat nama si penelpon yang tertera di layar ponselnya.
"Astaga, Bapak!" pekiknya.
"Halo, Pak. Iyah ada apa? Maaf aku baru bangun." Reno mendadak berbicara seperti anak baik di hadapan orangtuanya.
"Maaf Bapak mengganggu tidur kamu ya? Ini bapak putuskan untuk menengok kamu dan Tenri di Jakarta. Bapak sudah memesan tiketnya, sekarang bapak sedang dalam perjalanan menuju bandara. Kamu jemput bapak nanti ya di bandara setelah tiba di Jakarta?"
Reno belum mencerna keseluruhan kalimat bapaknya, yang tertangkap hanyalah ucapan 'bapak ke Jakarta'. Dengan cepat Reno membangunkan Tenri, menggoyang-goyangkan tubuh isterinya itu agar segera bangun.
"Ii ... iya Pak. Nanti Reno jemput di Bandara."
Setelah itu telepon terputus dan Tenri terbangun dari tidurnya sedang menatap Reno seperti orang kena hipnotis.
"Cepat, kamu bereskan rumah. Bapak mau ke Jakarta, siapkan kamar untuk bapak, siapkan makanan enak untuk bapak. Satu lagi, bersikaplah normal. Jangan sampai bapak tahu kita sedang tak baik-baik saja. Kamu harus tampil tersenyum, banggakan aku, dan satu lagi jangan pernah keluar dari mulut kamu tentang rumah tangga kita yang hancur ini."
Reno berbicara dengan cepat, sementara Tenri masih tampak terpana dengan apa yang dilihatnya kini. Reno memegang kedua bahunya, mereka saling menatap dan segala sesuatu yang keluar dari mulut Reno, itu pertama kali suaminya berbicara padanya sejak mereka mengalami perang dingin.
"Tenri, kenapa kamu diam saja? Aku ini sedang bicara sama kamu. Kenapa tidak berkedip dan tidak merespon ucapanku?" lanjut Reno menyerang Tenri dengan sejumlah pertanyaan.
"Iiya, daeng. Tenri akan melakukan yang terbaik. Sekarang aku mau siapkan kamar bapak dulu, habis itu masak dan membereskan semuanya. Daeng silakan mandi dan bersiap untuk menjemput bapak di bandara."
Itu pagi pertama mereka bisa hidup normal sebagai sepasang suami isteri, meski bagi mata orang lain mungkin akan terlihat biasa saja atau malah abnormal. Namun ada yang meletup di dalam hati Tenri, rasa bahagia yang tak mampu diucapkannya. Reno berbicara padanya dan sangat mengharapkan bantuannya, di situlah dia merasa suaminya masih membutuhkan dirinya.
__ADS_1
Inilah kesempatan bagi Tenri untuk memperbaiki semuanya, dia juga akan menyampaikan sebuah kabar gembira mengenai kehamilannya itu kepada bapak mertuanya. Tentunya dia akan menyambut senang dan Reno tidak akan berani menggugatnya selama bapaknya ada di Jakarta.
Tenri tersenyum sendiri bagai orang kesurupan, dia bersenandung saat memasang seprei, begitu juga saat dia sedang membersihkan beras untuk dimasak. Tenri melakukan semua itu dengan suasana hati yang gembira dan bahagia.
"Tenri, aku berangkat. Pastikan semuanya beres saat aku pulang nanti, ingat ada bapak di sini maka kamu tidak boleh bertingkah aneh-aneh ataupun menceritakan sesuatu mengenai rumah tangga kita."
"Iya, daeng. Hati-hati di jalan."
Sebenarnya siapa yang akan bertingkah aneh? Bukannya kamu Reno yang harus menjaga sikap selama bapakmu ada? Hehe. Tenri sih woles saja, toh dia tak pernah macam-macam. Dia juga tak mungkin membeberkan aib rumah tanggannya sendiri, sekalipun itu orang tuanya.
***
Setelah beberapa jam menunggu di rumah, Tenri pun membuka pintu setelah ada suara ketukan dari luar. Dia menebak bahwa itu adalah suaminya dan juga bapak mertuanya. Segera dia berjalan mendekati pintu masuk dan membukanya.
"Bapak ... silakan masuk. Bagaimana perjalanannya?" tanya Tenri ramah kepada sang mertua.
Tenri pun ikut tertawa saat sang mertua menceritakan pengalaman perjalanannya lewat jalur udara. Reno tampak kaku, dia terlihat tak bisa berpura-pura di depan bapaknya. Namun Tenri yang terbiasa menghadapi situasi macam itu, akhirnya menjadikan hal itu menjadi suatu kesempatan untuk memperbaiki hubungan rumah tangga dia dengan Reno.
Tenri menggamit lengan Reno dan seperti seorang isteri yang bergelayut manja di lengan suaminya. Sang mertua pun tersenyum melihat itu semua. Setidaknya menepis tanggapan orang-orang di Makassar sana bahwa rumah tangga mereka sedang di ujung tanduk. Entah siapa yang berani menyebarkan gosip murahan seperti itu. Hal itu pula yang mendasari kedatangan Bapak Reno ke Jakarta. Untuk memastikan kondisi yang sebenarnya tentang anak dan menantunya itu.
Reno tampak tak suka dengan sikap Tenri yang berlebihan, tapi dia mana mungkin bisa marah di depan bapaknya sendiri. Bisa digorok dia nantinya.
"Pak, kita makan dulu ya." Tenri mengajak sang mertua untuk makan terlebih dulu setelah istirahat sejenak.
"Memangnya kamu masak apa?"
__ADS_1
"Coto Makassar kesukaan bapak dan juga Reno," jawabnya sambil tersenyum.
"Wahhh ... kamu juga ternyata bisa membuatnya ya. Terima kasih Tenri, sudah menyiapkan semuanya."
Mereka bertiga pun kini duduk di kursi meja makan, Tenri menyendokkan nasi ke piring Reno dan juga mertuanya. Setelah itu mereka makan bersama disertai sedikit obrolan santai.
"Bapak akan berapa lama di Jakarta?" tanya Reno.
"Kamu ini daeng, bapak baru datang sudah ditanya akan berapa lama. Tentu saja bapak akan sedikit lebih lama di sini, benar kan pak?"
"Hahaha ... kamu ini bisa saja Tenri. Tapi maaf, bapak sebenarnya tidak bisa lama-lama meninggalkan rumah di Makassar. Rencana awalnya ya seminggu cukuplah."
Reno melihat ke arah Tenri, tersenyum sinis dan puas seolah dia memenangkan sesuatu. Pesan tersirat seperti 'apa kubilang, bapak tidak mungkin lama.' Kalimat seperti itulah yang ditangkap dari pesan tersirat dari wajah Reno barusan.
"Kalau begitu, kami akan mengajak bapak keliling-keliling Jakarta dulu sebelum pulang."
"Tidak usah, Nak. Bapak lebih suka berada di rumah. Oh iyah, Reno selesai makan nanti ada yang bapak ingin bicarakan padamu."
"Baik, Pak."
Setelah itu tak ada pembicaraan lagi sampai acara makan itu selesai.
__ADS_1