Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Pergilah Sendirian


__ADS_3

Sejak dia tahu dirinya hamil, Tenri belum juga memeriksa kandungannya ke dokter kandungan. Selain karena memang dia agak sibuk juga karena dia masih berpikir tentang banyak hal. Namun kali ini, dengan sisa tabungan yang dia miliki, dia pun memutuskan untuk mencari klinik terdekat yang ada di komplek perumahannya untuk memeriksa kandungannya itu.


Setelah mencari informasi di internet tentang lokasi klinik kandungan yang ada di dekat perumahannya, akhirnya ketemulah satu yang kebetulan terletak di depan pintu gerbang masuk komplek perumahan. Nama kliniknya Cipta Medika Ramadhan atau biasanya disebut CIMERA. Tenri senang sekali karena dia tak perlu pergi jauh untuk memeriksakan kandungannya, bukan apa-apa dia sama sekali belum tahu persis seluk beluk kota Jakarta. Jika saja sikap Reno belum berubah maka hal itu bukanlah menjadi suatu masalah. Namun sekarang kondisinya berbeda.


Reno masih betah di rumah, tak juga cari kerja atau berusaha untuk bisa membangun usaha baru. Dia benar-benar mendekam di rumah seharian. Kecuali jika dia tak pergi minum-minum maka seharian itu dia tak akan pernah keluar rumah.


Tenri mendekati Reno yang sedang berbaring memainkan ponselnya, dia ingin minta izin kepada suaminya itu untuk pergi sebentar untuk memeriksa kandungan. Syukur-syukur jika Reno mau menemaninya maka dia akan merasa sangat senang.


"Daeng, aku mau minta izin keluar sebentar. Aku mau memeriksa kandungan di klinik di depan komplek kita. Boleh kan?"


"Pergilah, jangan mampir ke mana-mana. Keuangan kita sedang sekarat, kamu tidak boleh menghabiskan uang sembarangan." Reno mengizinkan tapi juga sambil berceramah.


Padahal uang mana yang dia maksud? Dia sendiri tak memberikan apapun lagi kepada Tenri sejak sebulan terakhir.


"Daeng tidak mau sekalian ikut? Menemani aku sekaligus melihat kondisi calon bayi kita, pasti dia tumbuh hebat seperti kamu." Tenri mencoba untuk berinteraksi lebih jauh dengan suaminya, siapa tahu dengan begitu hatinya luluh dan mau mangantar Tenri sekalian.


"Tidak usah bermimpi terlalu jauh, aku bukan orang hebat. Kamu pergi saja sana sendirian, aku mau tidur lagi."


Pupuslah sudah harapan Tenri untuk pergi ditemani suaminya, "baik daeng, kalau begitu aku jalan dulu."


Ada sekiti kekecewaan namun bagi Tenri itu adalah hal biasa. Dia sudah sering mendapatkan perlakuan serupa, hanya saja kali ini untuk seorang anak yang belum lahir saja, Reno tak mau sedikit pun berkorban waktu untuknya. Padahal itu adalah darah dagingnya sendiri, tidakkah dia merasa bahagia karenanya?


Tenri pergi setelah memesan jasa kendaraan online. Hanya butuh beberapa menit untuk Tenri sampai di klinik tersebut. Tenri pun melakukan pendaftaran kemudian menunggu gilirian untuk diperiksa. Tak ada rasa curiga ataupun prasangka di hati Tenri, dia menunggu dengan sabar sampai gilirannya dipanggil.

__ADS_1


"Ibu Tenri ...." terdengar suara seorang suster memanggil.


"Ya, Sust."


"Silakan masuk, Anda sudah ditunggu oleh dokter di dalam."


Tenri segera berdiri dan mengambil tasnya kemudian berjalan masuk ke ruangan periksa seperti yang ditunjukkan oleh sang suster.


"Assalamu alaikum, selamat sore dokter." Tenri menyap sang dokter dengan ramah.


Dokter yang sedari Tenri masuk sedang menulis di sebuah buku itu langsung menjawab, "alaikum salam, silakan duduk."


Alangkah terkejutnya mereka, baik Tenri maupun sang dokter saat mereka masing-masing saling menatap.


"Daffa ...."


Ya, Daffa sebetulnya adalah seorang dokter. Tenri baru menyadari hal itu setelah melihat Daffa mengenakan jas putih berlabel dokter itu. Hanya saja dulu dia tak pernah bertanya Daffa mengambil jurusan dokter apa. Apalagi memang Tenri bukan orang yang terlalu kepo dengan urusan orang lain. Jadi, ternyata Daffa adalah seorang dokter kandungan? Yang benar saja. (Kayaknya akan semakin seru nih, hihi ... author aja penasaran).


"Kamu mau periksa kandungan? Duduklah ...."


"Iyah," jawab Tenri singkat lalu duduk.


"Sudah berapa lama?"

__ADS_1


"Aku belum tahu berapanya, hanya saja aku sudah melakukan test pack dan ada dua garis samar-samar. Aku ingin memastikan apakah aku benar hamil."


"Baiklah kalau begitu, silakan berbaring di sana."


Tenri merasa sungkan, apalagi yang akan memeriksa dirinya adalah Daffa, orang yang pernah mencintai dan juga mengejar-ngejar dirinya.


"Selamat ya kamu akan jadi ibu, jaga kesehatan kamu. Tidak boleh stres, bekerja terlalu berat dan selalu makan makanan yang bergizi, biar anak kamu juga sehat. Apa kabar Reno? Dia tak menemani kamu periksa?"


Daffa mencoba seprofesional mungkin dalam memeriksa Tenri, tidak melibatkan perasaan apapun karena dia tahu Tenri kini sudah menjadi isteri sahabatnya.


"Jadi aku positif hamil kan?"


"Iyah, usianya sekitar 6-7 minggu. Aku akan resepkan beberapa vitamin penguat kandungan agar calon bayi kamu bisa tumbuh dengan baik. Sekarang, bangunlah."


Tenri pun merapikan pakaiannya setelah diperiksa oleh Daffa, sekarang dia pun menjadi bingung akankah dia akan ke klinik ini terus atau mencari klinik lain agar tak menimbulkan fitnah. Walaupun tak ada yang tahu masa lalu mereka, namun tetap saja Tenri berusaha agar tak terjadi kontak perasaan antara mereka. Terlebih karena Daffa memang sangat menyukai dirinya.


"Ini resep vitaminnya, anjuran minumnya sudah aku tulis di sana. Silakan tebus obatnya di apotek depan."


"Baik, terimakasih dokter."


"Jangan panggil dokter, Tenri. Panggil namaku saja, lagi pula jangan seperti ini. Jangan bersikap seolah-olah kita ini belum pernah saling mengenal sebelumnya."


"Maaf, aku harus pulang."

__ADS_1


Tenri bersikap dingin sekali kepada Daffa, dia seperti itu semata-mata menjaga hubungan baik antara dia, Daffa dan juga Reno. Dia tak mau terlibat hubungan yang lebih rumit daripada yang dijalaninya sekarang. Sekarang aja sudah membuatnya kepikiran, bagaimana nanti?


__ADS_2