Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Cukup Papa Aja Yang Nakal


__ADS_3

"Daeng jangan besok juga kita ke Makassar, Chaca gimana?" tanya Tenri saat mereka baru saja selesai makan.


"Terus kalau nggak besok, kapan?" Reno terlalu menggebu-gebu. Padahal biasanya dia paling malas kalau menyebut pulang kampung.


"Minggu depan saja, soalnya pas Minggu itu materi Chaca sudah kelar untuk satu modul. Lagi pula belum 7 bulan juga. 7 bulannya 2 Minggu lagi, jadi kita masih bisa siapin diri."


"Baiklah, aku ikut kamu saja."


Kening Tenri mengernyit, 'tumben ikut aku saja? Biasanya juga kemauan dia yang mau diikuti.' Semoga saja itu pertanda baik untuk rumah tangga kalian Tenri. Mana tahu Reno beneran serius berubah. Tapi memang sejauh ini, Tenri menunjukkan perkembangan yang bagus dibanding sebelumnya.


"Aku mau ke supermarket sebentar, daeng." Tenri berdiri seraya membereskan piring-piring.


"Ngapain?"


"Mandi sore."


Reno ternganga dengan jawaban Tenri, "sayang, kamar mandi kita di rumah masih banyak ngapain mandi di supermarket?" wajah Reno yang terlihat serius semakin menambah kejengkelan Tenri karena Reno masih pura-pura bego saja. Belum lagi panggilan sayang yang dilontarkannya itu sangat-sangat ganjil di hati Tenri.


Tenri melotot ke arah Reno, dengan tangan di kedua pinggangnya.


"Hehe, aku antar ya?" Reno mengerling kepada Tenri, dia lalu berbalik masuk kamar. Mungkin untuk ganti baju.


"Kalau nggak jawab berarti mau ... aku tunggu di depan ya ...." teriak Reno sambil cekikikan puas menggoda isterinya.


***


Mereka sudah berada di dalam mobil, Reno mengusap-usap dagunya yang sedang tumbuh anak-anak jenggot. Terasa kasar jika dilihat dari teksturnya, sementara Tenri diam saja sembari menahan perutnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Jagoan papa, jangan nyusahin mommy kamu ya. Jadi anak baik, cukup papa aja yang nakal." seloroh Reno yang langsung mendapatkan cubitan di perutnya oleh Tenri.


Reno langsung mengaduh panjang saat dia menyetir karena mendapatkan serangan tak terduga.


"Sayang ... mommy kamu nakal. Jangan tiru mommy kamu, itu adegan berbahaya."


"Berhenti bercanda daeng, menyetir-lah yang benar."


Reno pun nyengir kuda, berhasil mengganggu isterinya.


Mobil memasuki halaman parkir sebuah supermarket yang tak jauh dari perumahan mereka. Reno lebih dulu turun dan berjalan membuka pintu untuk Tenri.


"Silakan turun permaisuri ku ...."


"Terimakasih pangeran si buruk rupa ...."


"Buruk rupa tapi kok mau dijodohkan ya?"


"Karena stok pilihan calon suami saat itu sudah habis."


Obrolan mereka hari ini lebih banyak obrolan unfaedah tapi bikin Reno bahagia banget. Tenri meskipun sedikit kesal tapi yakin sekali dalam hatinya dia juga menikmati tingkah laku dan omongan unfaedah Reno. Dia pikir Reno sama sekali tidak memiliki selera humor. Wajahnya selalu serius dan tak pernah bisa diajak bercanda. Rupanya jiwa humorisnya lumayan juga.


Tenri ke rak susu ibu hamil, kemudian melangkah ke rak-rak makanan, lalu sayuran dan lain lagi. Membuat Reno sudah semakin kewalahan membawa barang belanjaan.


"Ini belanja bulanan kamu emang sering segini ya?" tanya Reno heran.


"Itu bukan sebulan tapi satu Minggu, sisanya buat oleh-oleh saat pulang ke Makassar."

__ADS_1


Memang Tenri membeli beberapa macam kue-kue, serta jenis oleh-oleh yang akan dia bagi ke keluarga besar.


"Kok aku nggak kepikiran ya?"


"Karena di kepala daeng isinya hanya---


"Hanya kamu sayang, serius, belahlah dadaku kalau tak percaya," potong Reno cepat yang kemudian berekspresi norak dengan keranjang belanjaan.


Dia berhasil menarik perhatian orang-orang yang sedang belanja. Tingkah konyolnya itu menuai senyum dan tawa para pengunjung.


"Lucu sekali ya mereka," ujar salah seorang pengunjung.


"Iyah, mereka pasangan ter-uwuw. Lihat isterinya lagi hamil dan dia berusaha menghibur isterinya itu. So sweet kan ...." balas yang lain.


Tenri yang mendengar itu langsung membatin 'Ya Tuhan kenapa suami aku berubah jadi norak begini si?' Kepala dia nggak lagi terbentur atau pernah jatuh kan?'


"Maafkan suami saya, dia lagi kurang sehat, makanya tingkahnya jadi aneh begini." Tenri langsung menarik keranjang belanja menjauh bersama Reno yang ikut terseret.


Usai belanja, Reno mengangkut semua kantong belanja itu ke mobil. Tenri berjalan pelan masih dengan memegang perutnya yang membuncit.


Dengan cepat Reno memasukkan barang belanjaan dan menuntun Tenri berjalan. Takut jika isterinya itu terjatuh atau tersandung batu.


"Hati-hati, kamu lagi hamil. Jalannya jangan cepat-cepat. Biar aku bantu ya."


Reno menggamit bahu Tenri, sentuhan tangannya di bahu isterinya itu membuat Tenri merasa seperti anak kecil diajari berjalan. Tapi di sisi lain dia juga senang Reno memberikan perhatian besar padanya.


Mereka masuk ke mobil lalu pergi meninggalkan halaman parkir supermarket.

__ADS_1


__ADS_2