Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Lelaki Lemah


__ADS_3

Selang seminggu, bapak Reno pun akhirnya sudah sampai di hari terakhir keberadaan dia di Jakarta. Mendadak Tenri merasa sedih, sebab kehadiran bapak mertuanya itu di Jakarta, memberi warna tersendiri dalam kehidupan rumah tangganya.


Reno jadi lebih sering di rumah, nurut apapun kata Tenri dan juga jadi lebih damai karena mereka jarang bertengkar. Rumah mereka pun terlihat seperti rumah, karena lebih hidup. Bapak Reno memberikan banyak nasihat pada Reno dan Tenri tentang bagaimana megarungi bahtera rumah tangga.


"Dalam berumah tangga memang selalu ada pasang surut, tidak mungkin ada pasang terus, atau surut terus. Keduanya pasti saling beriringan dan bergantian. Bila hari ini kalian bahagia, mungkin besok lusa terjadi pertengkaran kecil dan itu biasa terjadi. Kalian harus pintar-pintar dalam memenej sebuah permasalahan. Tidak boleh saling egois, harus ada yang mengalah salah  satunya. Di sini kamu Reno, sebagai kepala keluarga harus banyak mengalah. Karena kamu adalah pemimpin keluarga, kamu yang harus jadi contoh bukannya malah memberikan kesan yang buruk nantinya." Itulah nasihat terakhir dari bapaknya sesaat sebelum Reno mengantarnya ke Bandara untuk terbang ke Makassar.


Tenri merasa sangat sedih dan kehilangan karena kepergian bapak mertuanya itu ke Makassar. Dia berharap bapak mertuanya masih tinggal lebih lama, sebab setelah kepergian mertuanya dia tidak tahu bagaimana nanti yang terjadi di rumah mereka.


"Hati-hati di jalan ya, Pak."


"Kamu baik-baik ya, kalau ada masalah telepon bapak."


Tenri tersenyum, bapak mertuanya ini seperti tahu membaca situasi dan kondisi. Seakan tahu permasalahan rumah tangga anaknya namun memilih untuk tidak ikut campur terlalu jauh. Minimal dia sudah banyak menasihati keduanya, maka tugasnya sebagai orang tua sudah berfungsi sebagai mana mestinya.


Tenri menatap kepergian mobil yang membawa bapak mertuanya menjauh dari jangkauannya kini. Selama bapak mertuanya ada di Jakarta, dia merasa benar-benar terhibur, dia jadi lebih banyak senyum bahkan tertawa. Selain itu bisa memikirkan banyak hal mengenai apa yang akan dilakukannya setelah ini.


***


Doni masih terus mencoba membujuk Reno untuk bergabung dengannya membangun sebuah perusahaan baru, namun Reno sama sekali tak tertarik. Jadilah Doni harus mengembangkan perusahaan itu sendirian, meski begitu dia tak pernah benci pada Reno sahabatnya itu. Sebab Reno-lah yang dulu mengangkatnya dari selokan hingga menjadi orang yang dapat dibanggakan oleh keluarganya.


Doni tidak mau saja disebut kacang lupa kulitnya, bagaimana pun Reno sangat berjasa dalam hidupnya saa itu. Berkat Reno dia bisa menjadi seperti sekarang, itu sebabnya saat Reno berada di titik paling rendah dalam hidupnya, Doni berusaha untuk merangkulnya. Namun bukan Reno namanya kalau dia bukan orang gengsian, dia memang memiliki pesonanya sendiri. Namun kelemahannya adalah mudah terpengaruh jika sudah dalam pikiran yang teramat kalut.


Seperti siang ini, Doni masih tak menyerah. Dia kembali mendatangi rumah Reno, namun dia belum pulang. Dia putuskan untuk menunggu saja, karena tidak mungkin dia pulang lagi sementara dia sudah terlanjur ada di rumah Reno.


"Tunggulah sebentar Don, mungkin dia akan langsung pulang setelah dari Bandara. Coba aku telepon dulu ya," tawar Tenri saat membawakan sebuah minuman hangat untuk Doni.


"Baiklah,"


Tenri mengambil ponselnya terlebih dahulu dan menghubungi Reno. Sesaat kemudian, terdengar suara berat Reno dari speaker ponsel tersebut.


"Ada apa? Aku langsung pulang kok, kamu ini aku baru keluar kamu sudah telepon." Sikap Reno sepertinya kembali lagi ke semula. Sama sekali tidak ada manis-manisnya sama isteri, apalagi bersuara lembut.

__ADS_1


"Doni menunggu daeng di rumah."


"Mau ngapain lagi pria brengsek itu."


Bahkan dia tak segan-segan memaki Doni di telepon, untung saja Tenri segera mengecilkan volume suara di ponselnya sehingga kalimta itu tidak terdengar oleh Doni.


"Kata daeng dia akan langsung pulang, Doni diminta menunggu saja, mungkin sebentar lagi sampai."


"Terima kasih, Tenri."


Tenri pun meninggalkan Doni sendirian di ruang tamu, dia ke kamarnya untuk mengerjakan kembali modul yang dia siapkan sebagai materi ajar untuk bimbingan belajarnya nanti. Walaupun anak bimbingannya baru satu orang, tapi dia tetap bersemangat. Semua memang diawali dari satu, tidak langsung banyak karena itu nikmatilah setiap prosesnya. Begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh Tenri.


Selain itu, memang tak baik berduaan laki-laki dan perempuan di dalam rumah yang sepi. Nanti malah menimbulkan fitnah, itu sebabnya Tenri putuskan untuk ke kamarnya saja.


Tak lama kemudian, suara deru mobil dari luar terdengar sampai ke kamar Tenri. Dia pun mengintip dari balik jendela kamarnya. Itu Reno sudah pulang. Dia pun keluar kamar dan turun untuk membukakan pintu buat Reno.


"Don, Reno sudah pulang." ucapnya pada Doni yang sedang berbaring santai di sofa ruang tamu. Doni segera memperbaiki duduknya sembari memainkan ponsel di tangannya.


Jadi semua nasihat-nasihat yang diucapkan bapaknya itu apa? Masuk ke telinga mana? Apa masuk ke telinga kanan keluar telinga kiri? Ada ya orang kepala batu kayak si Reno ini?


"Hei, Ren," sapa Doni.


"Ngapain lagi kamu, Don?" jawabnya malas seraya duduk di sofa.


"Ayolah Ren, pikirkan baik-baik. Kita bisa membangun perusahaan ini sama-sama."


"Aku sudah pernah bilang tidak ingin bergabung kenapa jadi memaksa begini? Lagi pula susah Don, kamu harus banyak belajar merangkak dulu."


"Karena itu aku mengajak kamu Ren, kita merangkak sama-sama. Kita mulai lagi dari nol, tidak ada salahnya kan?"


"Sudahlah, aku tidak mau terlibat. Sekarang sebaiknya kamu pulang saja, kamu membuang-buang waktuku saja."

__ADS_1


Bahkan Doni saja yang merupakan sahabat dekatnya, bisa dibilang dialah orang yang paling dekat dengan Reno malah dicuekin seperti itu. Tidak bisa meyakinkan Reno yang entah mungkin sudah terkunci hatinya.


***


Doni pulang lagi dengan tangan kosong, Reno sama sekali tak berminat dengan bisnis baru yang mulai dirintisnya. Reno pun segera naik ke lantai atas, lebih tepatnya mencari Tenri. Buru-buru dia menaiki tangga hanya agar dia lebih cepat menemui isterinya itu.


Prank!


Pintu terbuka lebar dan mengejutkan Tenri karena daun pintu membentur tembok.


"Astaga! Ada apa daeng?"


"Masih bertanya ada apa?"


"Kamu kan yang sengaja meminta bapak ke Jakarta?" Reno kembali menuduh Tenri untuk hal-hal yang tak pernah dilakukannya.


"Untuk apa daeng? Untuk mempermalukan diri sendiri? Untuk memberitahu kepada bapak bahwa rumah tangga kita sedang tak baik-baik saja? Begitu? Nyatanya aku tidak memberitahu apapun ke bapak kamu, aku menuruti semua skenario yang kamu buat. Lantas di mana letak kesalahan aku, daeng?"


"Kamu kenapa setiap kali aku tanya, jawaban kamu jauh lebih banyak dari pertanyaan aku? Berani kamu, Tenri?"


"Daeng, kita ini bukanlah manusia-manusia yang tak terpelajar, bijaklah sedikit dalam menyikapi sebuah masalah. Andai saja aku mau mendebatmu daeng, maka habislah."


"Maksud kamu apa, Tenri?"


"Di klinik Daffa, Daeng bicara soal muhrim di depan aku, sementara daeng sendiri apa? Daeng dengan sengaja dan terang-terangan pergi dan tidur bersama dengan Elsa. Apa itu bukan kebalikan dari setiap kata-kata yang kamu lontarkan daeng?"


Reno sudah mengangkat tangannya untuk menampar Tenri, namun hal itu tak jadi dilakukannya. Tenri menatapnya tajam, sama sekali tidak ada ketakutan di sana. Tenri juga tak menangis, dia tidak lemah, dia tidak lemah. Itulah yang terus didengungkan Tenri di dalam hatinya.


"Hanya lelaki lemah yang melayangkan sebuah tamparan ke pipi isterinya, daeng. Dan, hanya perempuan lemah yang menangis di hadapan suami yang sama sekali tak pernah menghargai kehadiran seorang isteri di sisinya." Bibir Tenri sampai bergetar mengucapkan itu, dia tak gentar, dia mengucapkannya dengan lantang dan menatap tepat ke bola mata Reno.


Tangan Reno yang semula terangkat itu, kini terkulai lemah di sisi tubuhnya. Sepertinya, dia sedikit tersindir dengan ucapan Tenri barusan.

__ADS_1


__ADS_2