
Reno turun dari mobil bersiul-siul sepanjang jalan menuju para montir sedang bekerja. Doni yang melihat Reno tampak berbeda hari ini pun penasaran ingin tahu kenapa sahabatnya satu itu terlihat gembira sekali.
"Ada yang lagi bahagia kayaknya nih," ucap Doni seraya memberi kode pada Reno.
"Iyah dong. Bahagia banget malah, makanya kamu cepetan nikah sana biar hari-hari kamu makin berwarna."
"Apa coba hubungannya antara kamu bahagia dan aku yang belum nikah. Perasaan nggak ada deh."
"Ada. Hahh ... hari ini gue benar-benar bahagia. Saking bahagianya, gue pengen traktir kamu makan nanti siang Don."
"Apaan sih? Misterius amat kamu, Ren. Kamu baikan ya sama Tenri?"
Reno mengangguk pelan. Doni langsung menyerbu Reno dengan pelukan. Dia senang sekali Tenri akhirnya mau melembutkan hatinya untuk Reno.
"Aku salut sama perjuangan kamu, Ren."
"Aku juga nggak nyangka, ternyata di balik aku lagi sakit, ada hikmah besar yang sedang menungguku. Tuhan mempersiapkan kebahagiaan itu dengan sangat apik, dan tepat waktu."
"Iyah, selamat ya, Ren. Pokoknya aku ikut senang karena kalian bersama lagi. Aku sudah deg degan mikirin gimana nanti kalau kalian cerai. Astagfirullah ...."
"Sama Don, aku kayak diberi kesempatan kedua oleh Tuhan dan juga Tenri untuk memperbaiki semuanya."
***
Usai ngobrol sebentar, Reno ikut mengecek montir-montir yang sedang bekerja. Semakin hari mereka mendapatkan banyak pelanggan. Terus bertambah dari ke hari sampai terkadang Doni saja heran bagaimana Reno melakukan itu semua. Tentu saja dengan kemampuan Reno dalam mengelola sebuah bengkel menjadi besar. Dia tak perlu diragukan lagi.
Reno baru saja akan bicara lagi pada Doni ketika telpon di saku celananya berdering. Reno yang melihat nama tertera di layar ponselnya langsung memilih menjauh agar bisa leluasa berbicara dengan si penelpon. Doni mengikuti langkah Reno yang menjauh, dia penasaran dengan penelpon tersebut. Mengapa Reno sampai menjauh darinya.
Reno berdehem sebelum bicara dengan orang di balik telepon.
"Ya, ada apa?"
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak datang menemui aku waktu itu, Ren? Bukankah kamu yang memaksa ingin bertemu? Nyatanya kamu malah tidak datang." Seseorang dengan nada bicara manja, siapa lagi kalau bukan si nenek lampir Elsa.
"Tidak jadi," jawabnya pendek.
"Ah iya, aku mau tanya, kamu sudah mengirimkan gambar apa saja ke isteriku?"
"Gambar? Memangnya kenapa?"
"Kamu sudah meracuni pikiran Tenri kan? Tidak kusangka kamu akan melakukan itu padaku, Sa."
"Gambar? Maksud kamu foto? Foto kita?"
"Kamu kan tahu, Sa. Aku tidak pernah sama sekali menyentuh apalagi tidur sama kamu. Kamu menjebak aku ya?"
"Oh, jadi itu masalahnya? Memang kita tidak pernah tidur bersama tapi, aku membuatnya seperti itu. Sebagai pelajaran untukmu yang hanya datang di saat kamu mabuk dan butuh tempat singgah. Nyatanya, aku bukan tempat singgah kamu, Ren. Kamu itu tak lebih dari laki-laki yang plin plan."
"Sa, kumohon ucapkan kalimat tadi di depan Tenri. Aku tidak mau dianggap sebagai pezina seumur hidup aku hanya karena foto yang kamu kirimkan padanya."
"Elsa, jangan begitu. Ingat, kalau sampai kamu mengganggu rumah tangga aku lagi dengan Tenri. Aku nggak akan segan-segan bermain kasar padamu."
"Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi, Ren."
Klik.
Telpon dimatikan secara sepihak oleh Elsa. Wajah Reno terlihat gusar, dia takut Elsa malah berbuat yang lebih dari hanya sekedar foto yang dikirim ke Tenri.
Sudah wataknya memang perempuan itu adalah pendendam. Padahal sekarang ini dia sendiri sudah bersama orang lain.
Reno berjalan ke ruangannya dengan wajah kesal. Bisa-bisanya wanita itu mengancam dirinya lagi. Jika saja Elsa mau mengakui hal tersebut di depan Tenri maka kondisi rumah tangga mereka akan semakin membaik. Namun tak semudah itu, Elsa bukanlah wanita yang mudah diatur-atur.
Untuk mengalihkan pikirannya, Reno pun membuka laptop dan memeriksa email masuk. Apakah penawaran yang dia kirim ke beberapa klien lamanya diterima atau tidak. Setelah membuka email, kebanyakan di antara mereka memberi kabar buruk. Tak ada yang menerima kerjasama yang dia tawarkan. Dia pun coba dengan klien yang lainnya.
__ADS_1
Wajah Reno pun menjadi gelap karena jengkel. Barusan Elsa sudah menerornya, sekarang penawaran yang dia kirim tak satupun diterima. Reno menyilangkan tangannya di depan dada, berpikir sejenak untuk dapat bisa keluar dari zona suasana hati yang buruknya.
Untuk mengusir semua kegalauan itu, dia menelepon Tenri. Satu-satunya hal baik yang diingatnya saat ini adalah isterinya itu. Dia berharap dengan menelpon isterinya, dapat mengobati sedikit suasana hati yang kini melandanya.
"Halo, Sayang. Kamu sedang apa?" tanyanya begitu dering telepon miliknya diangkat oleh Tenri.
"Nyiapin kuis untuk Chaca nanti siang. Dia akan melewati beberapa kuis untuk menentukan seberapa jauh perkembangan pengetahuan yang dia miliki di bidang Matematika. Kamu lagi ngapain? Tumben Daeng menelpon."
"Iyah, aku ingat kamu dan aku rindu kamu."
"Daeng, gombalanmu itu, aku bukan anak remaja lagi yang luluh oleh sebuah kata-kata manis. Haha. Tapi, tidak buruk, aku harap pekerjaanmu saat ini tidak memberatkan kamu Daeng."
"Tidak sama sekali. Bagaimana dengan tuan Puteri kita?"
"Siapa?"
"Calon anak kita Sayang, apakah dia rewel?"
"Sejauh ini dia masih mengikuti gen aku, Daeng. Tenang, lembut, dan tidak banyak ulah. Hehe."
"Kamu menyindir aku rupanya, tidak masalah. Oh iya, susunya jangan lupa diminum. Anak kita biar bisa tumbuh dengan sehat dan lahir dengan selamat."
"Iyah, aamiin."
"Baiklah, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu."
"Iyah, Daeng juga."
Setelah menghubungi Tenri, hati Reno jauh lebih plong. Beban dia seakan menghilang padahal tadi dadanya sudah terasa sesak dan kepalanya seperti berdenyut sakit. Setelah mendengar suara Tenri, dia merasa lebih baik, hatinya jauh lebih tenang.
_________
__ADS_1
TBC. Jangan lupa untuk like, komen dan krisannya ya Kak. Oh iya, mampir juga di karyaaku yang lainnya, ada COMPLICATED LOVE dan Tetaplah Bersamaku.