Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Reno Harus Bertanggung Jawab


__ADS_3

Kepulangan mereka pun terpaksa dipercepat dari rencana sebelumnya bahwa mereka akan tinggal setidaknya satu bulan di Makassar. Namun karena kasus ini menurut Reno harus segera diselesaikan sebelum akhirnya berlarut-larut.


"Apa yang terjadi, kenapa kalian buru-buru sekali kembali ke Jakarta?" tanya bapaknya ketika mereka sudah berkemas dan siang itu juga akan terbang ke Jakarta. Gurat wajah penuh tanya dan khawatir terpampang jelas di wajah bapak Reno.


"Iyah, Pak. Reno ada urusan mendadak, kebetulan ada proyek baru yang sedang dikerjakan Doni dan aku harus segera ada di sana karena proyek tersebut bekerjasama dengan Reno." Reno terpaksa harus berbohong pada bapaknya, tidak mungkin juga jika dia harus jujur. Bisa-bisa bapaknya akan ikut kepikiran atau malah menganggap bahwa Reno memang tak becus dalam membangun dan mempertahankan rumah tangganya.


"Apa Tenri tidak tinggal saja dulu di sini? Setidaknya sampai dia lahiran, kasian bila di sana harus sering ditinggal kerja sama kamu, Ren."


"Tidak apa-apa, Pak. Tenri juga punya kesibukan lain kok, Tenri sudah mulai mengajar privat dan hal itu bisa mengusir kebosanan dan juga kesepian karena sendiri di rumah. Lagi pula, masa iya Tenri harus membiarkan suami sendirian di Jakarta, Pak." Tenri mesti turun tangan menjelaskan ini pada bapak mertuanya. Sebab tidak mungkin juga membiarkan Reno berjuang sendirian. Lagi pula dia akan mati penasaran jika terus berada di Makassar.


"Ah iya, kalau begitu terserah kalian saja. Bapak hanya berharap kalian berdua selamat sampai Jakarta. Kalian harus saling menjaga satu sama lain."


"Iya, Pak. Terimakasih untuk semua nasihatnya selama kami di Makassar."


Reno mengangkat kopernya keluar rumah, di depan sudah menunggu sebuah mobil Avanza milik bapaknya. Supir pribadi mereka yang akan mengantar ke bandara.


"Silakan masuk, Daeng." Supir yang bernama Daeng Gassing itu pun membuka pintu untuk Reno dan Tenri.


Sebelumnya mereka sudah pamit dengan memeluk dan mencium tangan bapaknya. Ada rasa bersalah sekaligus haru yang dirasakan Reno. Padahal baru sejenak dia menyenangkan hati Tenri, kini ada masalah baru lagi yang harus mereka alami.


Setelah itu, mobil meninggalkan area halaman rumah kediaman orang tua Reno. Di jalan, dia menghubungi Daffa.


"Halo Daf, ini Reno. Emm, aku dan Tenri sedang dalam perjalanan menuju Jakarta, rencananya sore ini terbang dari Makassar. Kami berdua ingin bertemu, apa kamu ada waktu?" tanya Reno dengan mimik wajah yang serius.


"Ya Ren, ada apa? Bukankah kalian rencana akan lebih lama di Makassar?"

__ADS_1


"Itu dia masalahnya, aku sedang dalam situasi yang tidak baik. Aku harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Namun, aku dan Tenri ingin bertemu kamu langsung biar enak menceritakan masalahnya juga enak."


"Baiklah, bagaimana kalau besok pagi? Di klinik saja atau di luar?" tanya Daffa.


"Jika kamu tak sibuk di klinik, biar di klinik saja. Tunggu aku dan Tenri besok sekitar jam 10 pagi."


"Baik."


Telepon terputus dan Reno serta Tenri hanya bisa saling memandang. Kini keyakinan Tenri semakin bertambah, dia melihat Reno sangat serius dan terpukul dengan adanya kasus Elsa mengaku hamil karena dirinya.


"Semuanya bisa dilewati sama-sama daeng. Entah kenapa, aku percaya sama daeng bahwa memang bukan daeng pelakunya."


Reno meremas jemari Tenri dan mengucapkan terimakasih pada isterinya karena telah mempercayai dirinya.


"Sampai kapanpun aku akan perjuangkan, karena aku ingin buktikan sama kamu bahwa aku memang tidak pernah melakukan itu pada Elsa."


***


Sekitar pukul 17.00 waktu Jakarta, mereka akhirnya tiba di rumah dengan selamat. Reno sudah menceritakan pada Doni tentang niatnya itu. Melakukan tes DNA sebelum kelahiran sang bayi. Doni setuju dan berharap banyak bahwa Daffa bisa membantu Reno dan Tenri kali ini.


"Apakah hal itu tidak berbahaya, Daeng?" tanya Tenri. Sebab biar bagaimanapun dia seorang perempuan yang sedang mengandung, begitu juga dengan Elsa. Mereka berdua sama-sama hamil hanya saja Tenri ayah dari anaknya jelas, sementara Elsa masih tanda tanya besar. Tenri tetap khawatir pada kondisi janin atau Elsa jika tes tersebut dilakukan.


"Aku tidak tahu apakah ini bahaya atau tidak, tapi untuk lebih jelasnya bisa kita tanyakan besok pada Daffa. Dia seorang dokter kandungan, tentu dia tahu banyak hal mengenai ini."


"Sebaiknya begitu, Daeng. Ya sudah, daeng mandi dulu nanti kita bicarakan lagi hal ini."

__ADS_1


Reno setuju, dia pun mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Sementara Tenri membuka ponselnya yang sejak dari Makassar tak pernah dibukanya.


Beberapa pesan masuk beruntun, ada dari Olla yang menanyakan kenapa harus kembali begitu cepat ke Jakarta, ada juga pesan-pesan dari operator seluler dan terselip satu pesan dari Elsa. Tatapan mata Tenri langsung tertuju pada pesan tersebut dan dibukanya.


"AKU SEDANG HAMIL ANAK RENO, DIA HARUS BERTANGGUNG JAWAB, JIKA TIDAK AKAN KUBUAT KAMU DAN ANAK DALAM KANDUNGANMU ITU TAK PERNAH ADA LAGI DI DUNIA INI."


Pesan bernada ancaman itu membuat Tenri menutup mulut. Terhenyak dan kaget karena Elsa bisa berbicara senekat dan se kasar itu. Tenri pun semakin sadar bahwa wanita seperti Elsa tak akan cukup diberi sikap lembut. Dia akan sangat berbahaya dalam rumah tangga mereka.


Jika menganalisa isi pesan itu, Tenri semakin percaya bahwa ini hanya akal-akalan Elsa saja. Sekalipun dia hamil, Tenri yakin itu bukanlah anak dari Reno.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka, Tenri menatap suaminya sehingga Reno yang baru keluar dari kamar mandi seperti sedang diawasi.


"Ada apa, Sayang?" tanya Reno mendekati Tenri.


"Ini, bacalah pesan dari Elsa."


Tenri menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan pesan yang dikirim Elsa untuknya.


"SIALAN! Beraninya dia mengancammu, hal itu tidak akan kubiarkan Tenri. Kamu tenang saja, akan kubuat Elsa meminta maaf padamu." Cahaya kemarahan terpancar di wajah Reno, buku-buku jarinya terlihat memutih karena dia menggeram tangannya.


"Aku tidak apa-apa, sekarang aku semakin yakin kalau apa yang dikatakan Elsa itu tidaklah benar."


"Iyah, kita siapkan saja diri kita untuk besok bertemu Daffa. Semoga ada jalan keluar yang baik, Sayang."

__ADS_1


Reno yang masih memakai handuk dililit di pinggang pun segera berbalik ke lemari pakaian. Dia berusaha tenang, namun di kepalanya sudah terlalu sibuk memikirkan berbagai cara untuk membuat Elsa tobat dan berhenti mengganggu rumah tangganya.


__ADS_2