Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Ogah Tapi Doyan


__ADS_3

Seorang Ibu pasti memiliki naluri dan firasat lebih kuat dari seorang anak, saat menelepon Tenri dia merasa ada yang tidak beres pada mereka. Saat Reno sudah berada di kantor dan dia sementara berbincang dengan Doni, ponselnya berbunyi.


Ibu.


"Assalamu Alaikum, Bu."


"Alaikum Salam, Nak. Apa kabar?"


"Alhamdulillah sehat, Bu. Ibu bagaimana, sehat kan?"


"Alhamdulillah. Ada yang ingin ibu bicarakan padamu, Nak."


"Apa itu, Bu?" Reno beranjak dari duduknya dan agak menjauh dari Doni mendekat ke jendela yang terbuka tapi berpenghalang kaca. Di bawah sana terlihat pemandangan jalanan kota yang selalu sibuk oleh kendaraan yang melintas.


"Kamu dan Tenri baik-baik saja?" tanya ibunya dengan hati-hati.


"Baik, Bu. Memangnya kenapa?"


"Syukurlah kalau baik, soalnya saat ibu menelpon isterimu suaranya sedikit bergetar. Seperti ada hal yang membebani hatinya. Kalian baik-baik saja, kan?"


"Kami baik-baik saja, Bu. Tidak ada yang terjadi, Ibu jangan khawatir tentang kami. Jika ada apa-apa kami pasti menghubungi Ibu."


"Begitu ya, jangan lupa pesan ibu dan bapakmu ya Nak. Jaga Tenri dengan baik di sana, dia isterimu jangan biarkan dia menangis."


Reno terdiam sejenak, nasihat ibunya seperti mengetuk keegoisannya selama ini yang bersikap acuh terhadap Tenri.

__ADS_1


"Reno akan berusaha, Bu."


Sambungan telepon itu pun terputus, mimik wajah Reno berubah pias. Dia memang menyadari kesalahannya pada Tenri, dia juga ingin berusaha agar isterinya itu tidak merasa sedih dan kecewa berada di sisinya. Namun hatinya belum mampu menerima keadaannya sendiri saat ini.


"Siapa, Ren?" tanya Doni yang mencoba mnangkap raut wajah Reno itu.


"Ibu." Dia menjawab pendek dan duduk lagi ke kursinya. Dia mengusap wajahnya yang terasa penat seketika. Tak lama kemudian seorang resepsionis menelpon ke meja kerjanya mengabarkan bahwa ada kiriman makan siang untuknya.


"Siapa yang kirimkan makan siang?" begitu pikirnya.


"Apa mungkin Elsa?" lanjutnya lagi menjawab pertanyaannya sendiri.


"Ren, kamu sudah punya isteri. Tidak bisakah kamu berbaik sangka terhadap isterimu. Bisa saja kiriman makan siang itu adalah makanan yang dimasak sendiri oleh Tenri."


"Bukan begitu, Don. Kamu tahu sendiri kan Elsa sebelumnya sering kali mengirimkan makan siang untuk aku, makanya pikiran aku langsung ke Elsa. Aku tidak ada maksud apa-apa kok."


Selang beberapa menit Doni bicara seperti itu, seorang pegawai mengetuk pintu yang langsung dipersilakan masuk oleh Reno. Pegawai itu terlihat membawa rantangan dan mungkin isinya adalah makanan tersebut. Reno pun mengerutkan keningnya, kalau rantangan tidak mungkin itu adalah Elsa. Apa benar yang kirim itu adalah Tenri?Begitu hal yang dipikirkan oleh Reno.


"Kenapa kamu diam?" tanya Doni seakan tahu apa yang dipikirkan Reno. "Sudah kubilang itu pasti kiriman dari isterimu." lanjutnya.


Lalu ponsel Reno berdering lagi. Nama Tenri tertulis di layar ponselnya. Reno menggeser layar ke atas untuk menerima telepon dari Tenri.


"Makanannya sudah sampai?" suara lembut Tenri terdengar di telinga Reno.


"Iyah sudah sampai, terimakasih."

__ADS_1


"Kan benar, kan. Tebakanku benar. Kamu sih, memangnya cuma Elsa saja yang bisa kirim makanan. Lagi pula Elsa kirim makanan kan itu hasil beli. Bukan hasil masakan sendiri, Tenri masih jauh lebih baik daripada Elsa."


"Kalau kamu mau coba, makan aja sana."


"Ren ...."


"Kamu belum makan siang kan? Makan sana." Wajah Reno terlihat marah, padahal Doni hanya berusaha membuka mata Reno saja.


"Hargailah sedikit apa yang dikerjakan isterimu untuk kamu, Ren. Paling tidak cobalah sedikit, jangan malah memberikannya ke orang lain."


"Sudah kerja sana, malas aku ngomong sama kamu, Don."


Doni hanya bisa geleng-geleng kepala lalu meninggalkan Reno sendirian.


Reno menatap makanan di depannya yang masih menyisakan kepulan asap karena dikirim setelah baru selesai dimasak. Dia ingat lagi pesan ibunya, dia pun mencoba masakan yang dimasak oleh Tenri. Dia mengambil sedikit dan mencobanya dengan ujung lidah.


"Rasanya lumayan juga." ucapnya pelan.


Dia pun menyendokkan makanan itu ke mulutnya hingga tak disadarinya makanan itu sudah habis di rantang. Dai tak mengira kalau makanan yang dimasak Tenri bisa seenak itu.


"Habis."


Dia menertawai dirinya sendiri yang awalnya ogah-ogahan malah menghabiskan seluruh isi rantangnya. Reno kepergok Doni yang baru selesai membereskan rantangan tersebut.


"Ciee ... yang ogah tapi malah doyan." ejek Doni yang disambut tatapan tajam oleh Reno. Doni pun langsung kabur dari ruangan itu setelah mengambil berkas yang tadi dia lupa bawa.

__ADS_1


 


 


__ADS_2