Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Menangisi Kesendirian


__ADS_3

Reno terburu-buru menyusul Tenri tapi langkahnya dihentikan oleh Elsa yang tiba-tiba saja menarik lengannya.


"Apa lagi? Kamu sudah membuat kerusuhan di dalam dan memperlakukan isteriku seperti itu, sekarang lantas kamu mau apa?" Reno berteriak ke arah Elsa dengan nada keras.


"Kerusuhan katamu? Dia yang mau menikam aku duluan, lantas apa aku salah jika membela diri. Dia itu bukan wanita yang seperti kamu kira, Ren. Dia itu hanya manis di depanmu saja tapi kelakuan busuk di belakang. Kenapa sih kamu segitu percayanya sama dia? Aku yang mendampingi kamu bertahun-tahun selama ini, lantas kamu dengan mudahnya menuding aku sebagai biang kerusuhan? Tega kamu, Ren. Tega!" Elsa sudah tergugu menangis di depan Reno.


Elsa paling tahu kelemahan Reno, dia tidak akan membiarkan seseorang menangis di depannya. Apalagi wanita sekelas Elsa, melakukan segala cara demi menahan Reno di sana lebih lama agar tidak mengejar Tenri.


"Aku harus mengejar Tenri, tolong jangan menangis seperti ini di depanku Elsa."


"Tidak, kamu yang membuat aku seperti ini Ren. Kamu sama sekali tidak peduli dengan perasaan aku padamu, sekarang kamu lebih memilih wanita yang baru saja kamu kenal, sementara aku kamu abaikan dan buang begitu saja. Apa salah aku, Ren?" teriak Elsa dengan histeris, Reno tidak ingin kejadian tersebut semakin membuat perhatian orang-orang tertuju pada mereka berdua.

__ADS_1


Akhirnya Reno mengalah dan memeluk Elsa begitu saja saat itu juga, dia sudah lupa kalau Tenri masih di luar sana dan sendirian. Tangan Elsa yang berdarah karena terkena tusukan gunting menjadi perhatian Reno, dia mengantar Elsa segera ke rumah sakit terdekat untuk diberikan pertolongan.


"Kamu tidak apa-apa? Bagaimana lukanya?" tanya Reno yang begitu perhatian pada Elsa. Entah pikiran Reno sudah tertutup atau bagaimana, dia benar-benar lupa kalau Tenri belum juga pulang ke rumahnya.


"Tidak apa-apa, lukanya tidak dalam. Hanya butuh sedikit jahitan, terimakasih sudah membawaku berobat dan menungguku di sini. Aku tahu kamu masih punya perasaan padaku, Ren. Tidak mudah menghapus kehadiran seseorang apalagi setelah bertahun-tahun lamanya. Aku sayang dan cinta sama kamu, Ren."


Reno mengangguk pelan, dia seperti orang yang sedang terhipnotis. Melupakan kejadian tadi, melupakan Tenri dan waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Elsa tidak dirawat inap, malam itu juga dia bisa pulang dan diantar langsung oleh Reno ke apartemennya.


Kondisi Tenri tidak baik-baik saja, dia duduk sendiri di trotoar jalan. Gaun putihnya yang menjuntai ke tanah tampak kotor karena menyapu jalanan sepanjang dia berlari tadi. Dia tak tahu jalan pulang, dia juga tak punya uang sepeser pun di tangan. Ponselnya ketinggalan di mobil Reno, lengkap sudah penderitaannya malam itu.


Reno menelepon Bi Surti, "Bi, apakah Tenri sudah pulang?"

__ADS_1


"Loh bukannya tadi pergi sama bapak? Bagaimana bisa Ibu pulang sendirian, dia kan belum tahu persis detail jalan pulang ke rumah, Pak."


Tanpa ba bi bu lagi, Reno menutup telepon itu dan memutar kemudi mobilnya kembali ke jalan di mana pesta tadi berlangsung. Mungkin saja Tenri masih ada di sekitar situ, begitu pikir Reno. Dia pun menancap gas, waktu sudah mendekati angka jarum jam dua belas malam.


Tenri kedinginan seorang diri, padahal tadi dia berharap Reno mengejarnya dan juga membelanya. Namun suaminya itu tak melakukannya untuk dirinya. Dia menangis sesegukan, matanya nanar menatap jalan yang seperti tak ada tanda-tanda sepi. Orang-orang lalu lalang tapi tak ada yagn peduli padanya, bahkan untuk sekedar menanyakan mengapa dia duduk seorang diri di trotoar jalan bahkan memakai gaun pesta segala. Orang-orang lewat dan hanya melihat sekilas lalu memandang tak peduli.


Daffa kebetulan lewat dan samar-samar melihat sosok Tenri, dia menepikan mobilnya karna wajah wanita yang duduk di trotoar itu mirip sekali dengan Tenri. Dia turun untuk sekedar memastikan. Lalu dia terhenyak kaget saat melihat memang sosok Tenri di sana, duduk menekuk lutut dengan mata sembab.


Dia pun menghampiri Tenri. "Tenri!" serunya khawatir saat melihat wajah Tenri.


"Daf ... Daffa ...."

__ADS_1


__ADS_2