Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Sosok Rama


__ADS_3

Rama 37 tahun, seorang penipu kelas kakap. Pertemuannya dengan Reno adalah suatu kebetulan. Rama dan Elsa sebenarnya masih ada hubungan kekerabatan, hanya saja Elsa tak pernah suka pada Rama karena Rama berhasil menghancurkan keluarga Elsa.


Awal kehancuran keluarga Elsa saat itu adalah saat Rama menawarkan kontrak kerjasama pada ayah Elsa. Tak tahunya Rama malah mengambil alih semuanya dan ayah Elsa tak mendapatkan sepeser pun.


Elsa pernah tak sengaja melihat Reno bertemu dengan Rama sebelumnya. Kabar mengenai terbakarnya bengkel utama Reno mungkin telah diendus oleh Rama. Itu sebabnya dia mendekati Reno dan membuatnya jatuh ke dalam lubang.


Rama selalu bisa lolos dari jerat hukum, baginya hukum adalah yang bisa dibeli dengan uang. Dibungkam dengan sejumlah angka nol berjejer panjang. Makanya tak ada yang berani menangkap Rama meski dia terbukti bersalah.


Kali ini, Reno telah salah mencari rekan kerja. Bisa dipastikan Reno akan kehilangan semuanya. Hal itulah yang sangat ditakutkan oleh Elsa. Sebenci-bencinya dia pada Reno, dia juga tidak mau melihat orang yang dia sayangi terjerumus ke dalam lubang kelam dan kotor.


Rama Atmaja, sekali penipu akan tetap jadi penipu.


***


Hari ketiga masih belum ada kabar dari Reno. Tenri khawatir bukan main, dia menghubungi Doni berkali-kali namun Doni belum mendapatkan petunjuk yang jelas. Sampai akhirnya Daffa lagi-lagi berhasil menemukan di mana lokasi Reno saat ini.


"Don, aku tahu di mana Reno sekarang. Jika kamu bisa menyusulnya sekarang juga, semoga saja kamu masih bisa menyelematkan Reno. Namun, jika pun tidak berhasil, setidaknya kamu sudah berusaha menemukan dia untuk Tenri. Kasihan isterinya menunggu dalam keadaan tidak pasti." Daffa membeberkan informasi itu pada Doni, setelah sehari semalam dia dapat melacak keberadaan Reno. Dia menyampaikan semuanya lewat telepon ke Doni.


"Dari mana kamu tahu, Daff?"


"Kamu lupa ya, aku ini anak IT. Kemungkinan untuk bisa membobol dan mencari tahu keberadaan seseorang lewat nomor yang dia gunakan adalah hal yang bisa dilacak."

__ADS_1


"Benar sekali. Terimakasih untuk informasi yang kau berikan, Daff."


"Sama-sama."


Doni pun segera mengatur perjalanan untuk terbang ke Australia. Dia belum memberitahu Tenri soal ini. Namun dia sudah mengabari Tenri bahwa dia tak perlu khawatir, dia akan berusaha mendapatkan informasi mengenai suaminya itu secepat mungkin.


Tenri sudah tak bisa diam. Dia mondar-mandir sepanjang waktu, sembari memegang ponselnya kalau-kalau Reno menghubunginya.


Drrttt ... Drrttt ...


Ponselnya bergetar, tertera di layar ponselnya sebuah nama yang dia kenali.


Dengan cepat Tenri mengangkat telepon tersebut.


"Halo, Daeng!" sambarnya cepat.


"Kamu di mana?"


"Di rumah, Daeng."


"Bagus. Aku pulang hari ini."

__ADS_1


Tenri langsung menarik napas lega, "Hhh syukurlah."


"Ada apa?"


"Aku senang Daeng akhirnya menelpon dan bilang akan segera pulang." Suara Tenri girang sekali.


"Tidak usah lebay, lagipula aku mengabari kamu hanya karena takut kamu malah beranggapan negatif terhadapku. Sudah, buang semua pikiran burukmu itu."


"Iyah, daeng. Aku tunggu daeng di rumah."


Telepon pun terputus.


Doni yang baru saja mau berangkat ke Bandara tiba-tiba mendapat telepon dari Tenri. Dia pun tak melanjutkan perjalanannya setelah mendengar penjelasan Tenri.


"Terimakasih sudah mengabari aku, Tenri. Sekarang kamu tak perlu cemas lagi ya."


Tenri menarik napas, sesak di dadanya perlahan berkurang.


'Terimakasih Tuhan, Kau sudah membuat suamiku memberi kabar padaku. Meskipun kedengarannya seperti dia sama sekali tak peduli padaku.'


Tenri pun setia menunggu. Menunggu suaminya pulang. Suami yang sudah dinantikannya dan membuatnya tak bisa tidur karena terus memikirkan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2