Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Akkorongtigi (Malam Pacar)


__ADS_3

Tiga hari sebelum hari perkawinan tiba, di rumah Tenri yang merupakan calon mempelai perempuan sedang berlangsung prosesi adat yang disebut abbarumbung atau diasapi. Prosesi ini dimaksudkan untuk membersihkan tubuh si mempelai perempuan agar segar dan wangi di hadapan suaminya nanti.


Anrong Bunting (Orang tua yang membimbing calon mempelai perempuan sampai acara nikah nanti) sedang melakukan tugasnya. Tenri duduk di atas sebuah perapian untuk menjalani proses abbarumbung. Dia sangat tenang melewati seluruh proses tersebut. Keluarga maupun tetangga banyak yang datang untuk menyaksikan prosesi tersebut.


Hingga semua proses tersebut selesai, maka Tenri harus menjalani lagi prosesi adat selanjutnya yakni Akkorongtigi. Prosesi adat itu dilakukan pada malam sebelum akad nikah. Acara ini semacam pelepasan bagi Tenri untuk menjalani kehidupan sebagai seorang isteri nantinya.


Hingga tibalah malam yang ditunggu itu, Tenri telah selesai dirias dan memakai pakaian adat yang begitu kental dengan budaya tradisional Suku Makassar. Dia tampak seperti bulan empat belas, bercahaya dan wajahnya bersinar.


Tunrung Pakanjarak atau iringan gendang adat Makassar berpadu dengan puik puik dan gong membuat suasana malam itu bertambah riuh dan syahdu. Tenri sudah duduk di atas tempat yang sudah disediakan untuk menjalani prosesi Akkorongtigi.



Perwakilan orang tua Tenri nampak berkaca-kaca matanya, sebagaimana orang tua akhirnya selesai sudah tugasnya dalam membesarkan Tenri. Kelak dia akan membina rumah tangga dan hal tersebut menimbulkan rasa haru, sedih dan bahagia bagi mereka. Sebab akan melepaskan anak perempuannya untuk bersama orang lain yang akan menjadi suaminya.


Wakil dari keluarga besarnya bergantian memberikan ramu-ramuan daun pacar di tangan Tenri. Sekaligus memberikan doa selamat untuk pernikahan yang akan berlangsung keesokan harinya. Malam itu adalah malam penting sekaligus sakral bagi Tenri. Air matanya tak terasa berurai mana kala kedua perwakilan orang tuanya bergantian memeluk dirinya.


Ya, orang tua Tenri keduanya sudah meninggal. Tenri tinggal bersama perwakilan orang tuanya yakni Purina atau om atau tantenya.


"Andai saja ibu sama bapakmu masih hidup, Nak, mereka pasti adalah orang yang paling berbahagia melihat kau akan segera duduk di pelaminan. Sayangnya, ibu atau pun bapakmu tak sempag melihat itu semua. Doaku untukmu, semoga pernikahanmu kelak langgeng dan sakinah mawadah warahmah. Aamiin."


Tenri pun ikut menangis saat tantenya memeluknya, orang yang sudah merawat dirinya selama ini. Dia bersyukur bahwa dia masih memiliki Purina yang sangat baik.


"Doakan-ka terus, Tante." Tenri mengusap air matanya.

__ADS_1


Malam tersebut banyak orang yang menangis menyaksikan Tenri melakukan proses Akkorongtigi. Menangis bukan karena sedih tapi karena terlalu bahagia. Banyak yang mengenang bapak ibu Tenri andai mereka berdua bisa melihat Tenri menikah.


Di beberapa tempat acara ini juga dilengkapi dengan pembacaan barzanji atau oleh orang Makassar disebut abbarazanji.


***


Sementara itu, di tempat yang lain tepatnya di rumah Reno. Juga berlangsung acara adat Akkorongtigi. Reno dengan pakaian adatnya menengadahkan tangan di atas sebuah bantal yang beralaskan salapang lipak sakbe (sembilan sarung sakbe). Beberapa keluarga bergantian memberikan daun pacar ke tangan Reno dan juga jidat serta pelipisnya.


Malam itu, hadir juga Doni yang terbang langsung dari Jakarta menuju Makassar untuk menyaksikan malam sakral sahabat sekaligus bosnya itu.


"Selamat ya, bro. Semoga dilancarkan sampo besok," ucapnya memberi selamat pada Reno.


Lalu dilanjutkan dengan kedua orang tua Reno. Reno memeluk mereka berdua dan mengucapkan terimakasih karena telah mengantarnya ke gerbang kehidupan bernama berkeluarga.


"Langere’ baji’-bajiki anne ana’, pantamai ri lalang atinnu, nanu gaukangki!" (Dengarkanlah baik-baik wahai anakku, masukkanlah ke dalam hatimu, lalu kerjakanlah!)


Begitulah Pappasang atau pesan bapak Reno kepada dirinya. Sesuatu yang simpel tapi kadang kita sedikit sulit untuk mewujudkannya.


Ibu Reno memeluk anaknya dan saat itulah semua orang yang hadir di acara malam pacar atau Akkorongtigi itu meneteskan air mata. Salah satu cita-cita ibunya tercapai, yaitu membawa Reno sampai di gerbang pernikahan.


Dengan selesainya korontigi, maka selesai pula prosesi persiapan menyambut akad nikah.


***

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kau akan pulang kampung lalu menikah, bro." Doni ngobrol santai dengan Reno di teras rumahnya. Saat itu beberapa keluarga dan tamu sudah banyak yang pulang ke rumah masing-masing karena malam sudah sangat larut.


"Jangan kamu, Don. Aku saja tidak menyangka bahwa kepulanganku kali ini adalah untuk menikah." jawab Reno dengan sesekali menatap jauh ke arah yang tak tentu.


"Lalu bagaimana dengan Elsa?"


"Aku akan memberitahu dia sesampainya di Jakarta."


"Apa akan semudah itu?"


"Bagaimana jika isterimu nanti tahu kalau kamu memiliki hubungan dengan seorang perempuan di Jakarta sementara kamu telah menikah dengannya."


"Aku belum memikirkan hal itu, di kepalaku terlalu banyak hal yang berseliweran. Aku bahkan belum bertemu dengan wanita pilihan ibuku itu. Hanya beberapa kali ngobrol di telepon. Akad nikah besok adalah pertemuan pertama kami. Aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya."


"Kenapa kau tidak temui saja sebelum pernikahan kalian digelar?"


"Adat Makassar tidak seperti itu, apalagi ini adalah perjodohan. Serta ... semuanya serba mendadak. Calon pengantin wanitanya keburu dipingit jadi bagaimana harus bertemu?"


"Hhh ..., aku sebagai sahabat sekaligus rekan kerja kamu hanya bisa mendoakan yang terbaik. Semoga kamu bahagia bersama wanita pilihan ibumu itu."


"Yah ... semoga saja. Terimakasih, Don. Kamu masuklah tidur, kamu pasti capek seharian dalam perjalanan ke Makassar."


"Tidak apa-apa. Aku masih ingin ngobrol denganmu di sini."

__ADS_1


Keduanya pun ngobrol sampai larut malam, Doni menamainya pesta lajang kecil-kecilan yang hanya ada mereka berdua. Doni juga meledek Reno sesekali tentang lafalan ijab qobul besok. Reno mengaku belum menghapalnya dengan sempurna. Itu sebabnya Doni tertawa sampai suara tawanya menggema di langit malam.


Jauh di dalam lubuk hatinya, Reno berharap wanita yang akan dinikahinya besok adalah orang yang benar-benar ditakdirkan berjodoh dengannya.


__ADS_2