
Tenri mencoba menghubungi kembali nomor Reno, namun tidak diangkat. Sekarang kekhawatiran malah berbalik pada Tenri. Selang setelah dia baru saja berpakaian, sebuah langkah kaki terdengar buru-buru dan mendorong pintu kamarnya. Pintu pun terbuka lebar dan ada Reno sedang berdiri di sana dengan wajah tegang.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari bibir Reno.
"Tidak apa-apa, daeng. Kenapa kamu pulang cepat dan tergesa-gesa begitu?"
Tanpa pikir panjang, Reno lalu memeluk Tenri. Tenri yang mendapati sikap Reno seperti itu, jadi bertanya-tanya. Ada apa ini? Namun dia sangat menikmati berada di antara dua lengan besar suaminya itu. Itu pertama kali dia merasakan dipeluk oleh Reno. Hatinya berbunga, mekar dan hangat.
"Lain kali kamu harus lebih hati-hati ya," ucap Reno pelan.
"Apa yang terjadi, daeng?" tanya Tenri keheranan.
"Harusnya kau langsung cerita padaku, kalau Elsa mendatangimu ke rumah. Jika kamu merasa tidak nyaman di rumah ini, kita bisa pindah ke rumah yang baru."
Tenri pun paham arah pembicaraan Reno. Sepertinya dia tahu kalau Elsa datang menemuinya.
"Tidak usah, daeng. Aku baru saja beradaptasi dengan lingkungan di rumah ini. Kalau harus pindah lagi, kapan aku bisa menyatu dengan suasana rumah?"
Reno melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Tenri. "Maafkan aku ya?"
Tenri hanya mengangguk, "Daeng, sudah makan?"
Reno menggeleng, "belum."
"Aku siapin ya. Kita makan sama-sama."
Tenri beranjak turun ke lantai bawah. Sepeninggal Tenri, ponsel Reno berdering. Tadinya dia tidak mau menjawab telepon tersebut, namun dia merasa perlu untuk memberikan Elsa sedikit pengertian.
"Ngapain telepon lagi?" tanya Reno ketus.
"Ren ... apa bagusnya sih wanita itu? Harusnya aku yang jadi isteri kamu, bukan dia."
"Elsa, sudah berapa kali harus kita bahas masalah ini. Aku menikah juga bukan kemauan aku, ini sudah diatur oleh orang tua aku dan orang tuanya. Lagi pula sejak dulu bukankah kamu pernah bilang tidak ingin berkomitmen dan tidak mau menikah. Lantas kenapa kamu jadi bersikap seolah aku yang salah?"
"Tapi aku sudah menyadari semuanya, Ren. Aku cinta sama kamu ...."
"Tapi aku tidak mencintai kamu, Elsa." Reno menjawab sedikit bersuara keras dan penuh penekanan.
"Aku akan buat kamu kembali bertekuk lutut di depanku, Ren. Camkan itu!"
__ADS_1
"Lakukan saja!"
Reno mendengus kesal, oke itu kesalahan dia juga. Tapi Elsa tak perlu bersikap selebay itu, yang tidak ingin menikah siapa? Bukankah dia tidak mau berkomitmen ke arah yang lebih serius? Di dalam hati Reno terus terjadi pergolakan batin. Dia sudah membawa Tenri ke dalam suatu hubungan yang mungkin saja akan rumit di masa depan nanti.
Tenri datang untuk memanggil Reno makan bersama, "Daeng, ayo makan."
Reno mengangguk pelan kemudian ikut bersama Tenri. Dia makan sedikit demi sedikit, sangat kelihatan bahwa dia sedang banyak pikiran.
Tenri ingin bertanya namun dia khawatir suaminya tidak akan jujur padanya. Terlebih dia mendengar sedikit percakapan Reno dan Elsa di telepon.
Akhirnya Tenri memilih diam saja selama makan bersama berlangsung. Usai makan, keduanya kembali ke kamar dan Tenri melihat ada perbedaan sikap dari suaminya.
"Mau kupijat, daeng?" tawar Tenri.
"Memangnya kamu bisa?"
"Bisa. Tidak akan tahu kalau tak dicoba."
Reno langsung berbaring menelungkup dan Tenri berada di sisinya sedang mengoleskan minyak zaitun ke atas permukaan kulit bagian belakang Reno.
Tangan Tenri mulai menggosok dan memijat punggung Reno dengan perlahan.
Tak disangka Reno akan menanyakan perihal seperti itu pada Tenri.
"Tidak ada, daeng."
"Masa?" Reno terkejut dengan pernyataan singkat Tenri.
"Tidak mungkin, atau ada tidak laki-laki yang pernah naksir kamu?" lanjutnya lagi.
"Tidak sombong daeng, tapi kalau hal itu ya ada beberapa."
"Terus?"
"Terus bagaimana, daeng?"
"Ada yang sampai pacaran? Maksudnya kamu pacaran tidak dengan salah satunya?"
"Tidak. Aku jelasin ke mereka, kalau aku sudah dipingit sejak kecil."
__ADS_1
"Oh ya? Kamu jujur dengan bilang seperti itu?"
"Iyah. Ada yang bilang, sekarang kan bukan jamannya Sitti Nurbaya lagi. Mengapa mau saja dijodohkan? Lantas aku bilang, ini mungkin kehendak takdir sebab kedua orang tua kami sudah mengaturnya sejak kami lahir dan Tuhan mengaminkannya."
Reno terkesiap. Jadi sejak dulu Tenri sudah tahu kalau dia bakal dijodohkan dengan seorang pria yang juga merupakan masih kerabat bagi keluarganya.
"Kamu pernah tidak merasa menyesal menikah dengan aku?"
"Tidak untuk saat ini dan mungkin juga untuk saat nanti. Aku selalu bersyukur dengan apa yang belum dan sudah kumiliki. Sebab semua itu tak akan terjadi bila Tuhan belum menentukan waktunya."
Tenri terus memijat, Reno masih tak percaya kalau sekelas Tenri yang seorang guru cantik tidak pernah berpacaran atau menolak semua pria yang menyukainya. Demi untuk seorang Reno, semoga saja tidak menyia-nyiakan Tenri.
Reno berbalik dari tempatnya tengkurap, dia menatap mata Tenri dalam-dalam. Tak dijumpainya sebuah kebohongan di sana. Itu artinya, Tenri benar-benar wanita paling polos yang pernah dia temui.
"Tenri ...." mulut Reno tercekat saat memanggil nama Tenri, karena posisi wajah mereka yang teramat dekat.
"Ya, daeng." Tenri menjawab dengan napas yang sedikit tertahan.
Reno membingkai wajah Tenri dengan kedua tangannya. Mendekatkan wajahnya lebih dekat, dekat, lagi dan lagi. Kedua wajah mereka begitu intim hingga kedua bibir mereka pun saling bersentuhan dan saling meminta.
Pertama kali dalam hidup Tenri, ini adalah ciuman pertamanya. Sekujur tubuh Tenri seperti terbakar dan kedinginan sekaligus secara bersamaan. Dia panas dingin, mengira dirinya sedang meriang.
Setiap sentuhan Reno di permukaan kulitnya menjadi sesuatu yang baru bagi Tenri. Dia sedikit kaku dan malu-malu sementara Reno sudah begitu lihai.
"Daeng ...." Tenri sedikit mendesah.
"Aku sudah siap, Tenri. Apakah kamu juga menginginkannya?"
Tenri mengangguk dan Reno segera melaksanakan kewajibannya sebagai suami. Setelah 3 bulan pernikahan mereka, barulah malam pertama yang lama ditunggu Tenri itu terjadi.
Ada perasaan was-was sekaligus takut di dalam hati Tenri. Dia takut tak dapat memberikan yang terbaik pada Reno. Merupakan pengalaman pertama baginya dan itu membuat Tenri seperti melayang, terbang tinggi karena setiap sentuhan yang dilakukan jemari Reno di atas tubuhnya.
"Daeng ...."
Reno tidak peduli dengan setiap desahan atau pun panggilan atas namanya, dia fokus pada setiap lekuk tubuh isterinya itu dan memberinya kenyamanan.
Malam pertama yang terjadi begitu tiba-tiba, tanpa persiapan seperti dekorasi kamar yang waktu itu sudah disiapkan Tenri. Juga tidak dengan gaun norak yang dipakainya dan malah membuat Reno tertawa terbahak-bahak.
Semua terjadi begitu saja, begitu alami, begitu intim dan memabukkan. Tenri akhirnya merasa utuh dengan statusnya sebagai isteri dari Reno Premadi.
__ADS_1