
"Sayang, apa kamu sudah selesai?" teriak Reno dari lantai bawah kepada Tenri yang masih berada di kamar di lantai dua rumahnya.
"Sebentar lagi, Daeng. Tunggu, aku sedikit kesulitan ini." Tenri menjawab dengan sedikit berteriak.
"Oh tunggu, kalau begitu aku ke atas dulu."
Sampai di atas Reno geleng-geleng kepala melihat barang bawaan Tenri.
"Sayang, barang sebanyak ini untuk apa?" tanya Reno heran melihat dua tas besar.
"Oleh-oleh. Sudah lama aku tak pulang, keluarga kita pasti senang dibawakan oleh-oleh. Tidak apa-apa Sayang, ini juga tak seberapa."
Reno tersenyum, "Ya sudah kamu jalan duluan, biar aku yang bawa dua tas besar ini."
Dengan hati-hati Tenri menuruni tangga dan Reno yang sedang menenteng dua tas besar. Dia sempat khawatir kepada Tenri saat menuruni tangga karena perutnya semakin besar. Dia takut istrinya oleng atau terpeleset, namun kekhawatiran tersebut terjawab sudah saat Tenri tiba di bawah dalam keadaan selamat.
"Langsung ke mobil saja, jangan bawa apapun lagi. Kamu sudah membawa beban seberat itu, masa harus bawa barang lagi, Sayang." Reno mengingatkan Tenri dengan penuh perhatian.
Akhirnya semua barang bawaan mereka berhasil masuk ke mobil sewa yang sudah dipesannya secara online. Sebab tidak mungkin memakai kendaraan sendiri ke bandara sementara mungkin mereka akan tinggal agak lama di Makassar.
Deru mesin mobil terdengar sebagai pengantar perjalanan mereka meninggalkan rumah dan kota Jakarta.
"Pak, tolong jangan terlalu ngebut ya. Isteri saya lagi hamil," ucap Reno pada pak sopir yang membawa mereka ke Bandara Soekarno Hatta.
"Iyah Pak, dimengerti."
Sepanjang perjalanan, Reno tak henti menggenggam jemari isterinya. Seperti halnya Tenri yang tak henti menatap suaminya penuh rasa bahagia. Dia bersyukur, Reno berubah menjadi selembut dan se perhatian ini padanya.
Genggaman tangan Reno terasa hangat di kulit Tenri, benar bahwa dalam rumah tangga itu butuh kesabaran untuk mencapai kebahagiaan. Proses panjang yang harus dilalui Tenri selama beberapa bulan terakhir menjadi cobaan baginya. Pernikahan karena perjodohan, memang tak selalu menemui jalan mulus. Terkadang salah satu atau kedua belah pihak akhirnya malah memilih berpisah setelah menikah karena merasa tidak ada kecocokan atau keduanya tak bisa saling mencintai satu sama lain.
__ADS_1
Bagi Tenri, pernikahan adalah tetap pernikahan, terlepas apakah dia dijodohkan atau tidak. Sama saja. Rumah tangganya harus diselamatkan dan butuh pengorbanan di dalamnya.
"Aku sudah tak sabar tiba di Makassar, daeng." Tenri yang tiba-tiba berseru saat mereka sudah sampai di Bandara.
"Iyah, aku juga Sayang. Aku sudah tak sabar, calon anak kita dirayakan tujuh bulanan. Itu artinya sebentar lagi aku akan jadi Papa dan kamu jadi Mama. Rasanya pasti berbeda, kan? Mengatakannya saja jantungku sudah berdebar tak karuan. Sayang, aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya." Reno menimpali ucapan Tenri.
Mereka berdua turun dari mobil dan Reno mengambil troli untuk mengangkut semua barang bawaan mereka. Sebelum masuk, mereka dimintai untuk memperlihatkan bukti tiket sebagai calon penumpang. Setelah itu mereka lanjut check in dan menunggu di ruang tunggu keberangkatan.
Reno berjalan sambil menggamit lengan isterinya, apalagi karena memang Tenri sedikit kesulitan saat menaiki tangga atau menuruni tangga. Dia dengan sabar dan telaten membantu Tenri jalan agar tak jatuh atau hilang keseimbangan.
"Sayang, aku bisa sendiri." Tenri merasa tidak perlu diperlakukan seperti itu karena dia masih merasa bisa. Namun Reno Keukeh tidak mau isterinya sampai berjalan sendirian tanpa bantuannya.
"Tidak boleh, nanti kamu jatuh dan aku harus menanggung rasa bersalah seumur hidup padamu dan juga keluarga besar kita. Jadi lebih baik aku menjagamu dengan baik dan kita berdua bisa sampai Makassar dengan selamat. Hehe."
"Ya sudah kalau begitu, Terimakasih Sayang."
"Sini, kepalamu taruh sini saja Tenri. Nanti aku bangunin saat pesawat kita sudah akan berangkat. Kamu harus banyak istirahat, perjalanan untuk sampai di ruang tunggu saja kamu pasti agak sedikit capek."
Tenri menuruti segala ceramah suaminya, belakangan Reno memang terbilang sangat cerewet. Namun Tenri suka karena itu artinya Reno semakin perhatian padanya.
***
Panggilan untuk pesawat yang akan terbang ke Makassar sudah mulai didengungkan di pengeras suara bandara.
"Sayang, itu pesawat kita. Bangun, kita akan segera berangkat." Reno mengusap pelan pipi Tenri untuk membangunkan isterinya itu.
Usapan tangannya yang lembut itu disadari oleh Tenri dan dia pun terkesiap bangun dari tidurnya.
"Sudah mau berangkat ya?" tanyanya.
__ADS_1
"Iyah, Sayang. Ayok kita ikut antri menukarkan tiket."
Mereka bergegas dan berjalan mengikuti antrian panjang penumpang untuk masuk ke badan pesawat.
Setelah sedikit drama berdesak-desakan, akhirnya mereka bisa juga duduk di kursi yang sesuai dengan nomor kursi di tiket mereka.
"Kamu di bagian dalam, aku bagian luar. Aku tidak mau ada orang lain yang bahkan menyentuh kulitmu sedikitpun. Hehe."
Tenri hanya tersenyum kecil, suaminya menjadi protektif kali ini. Namun, apapun itu dia sangat senang karena mereka bisa bersama pulang ke Makassar. Apalagi dalam kondisi Reno yang sudah banyak berubah. Semua keluarga pasti ikut senang.
"Sayang, aku selalu deg degan saat naik pesawat sebenarnya." Tenri mencurahkan isi hatinya saat pesawat dikabarkan akan segera lepas landas.
"Sini, kamu tenang aku akan tutup telingamu agar kamu tidak terlalu khawatir. Biasanya pesawat akan mengalami sedikit turbulensi. Tapi itu tidak apa-apa, kamu tidak usah takut."
Kedua telinga Tenri pun ditutup oleh kedua tangan Reno. Saat itu mereka berjarak sangat dekat, Tenri bahkan bisa merasakan tiupan napas Reno di wajahnya. Dia sangat deg degan berada sedekat itu dengan Reno. Entah kenapa dia selalu merasa seperti itu. Mungkin sudah sejak lama, Tenri jatuh cinta pada suaminya itu. Hanya dia tak menyadari dari awal.
Reno tersenyum padanya, dan dada Tenri kembali berdesir dingin.
"Daeng, jangan menatapku seperti itu, tatapanmu membuatku sesak napas."
"Haha ... kamu ada-ada saja. Mana ada orang ditatap lantas merasa dadanya sesak. Tapi, aku juga sama Sayang, aku merasa jantungku berdebar kencang. Dengar ini ...."
Reno mendekatkan kepala Tenri ke dadanya. Tenri merasa sedikit gugup, bahkan dia bisa mendengar detak jantung suaminya sedekat ini. Dan, jantung Reno memang memompa lebih cepat. Seperti irama jantungnya saat ini.
"Hihi, Daeng kenapa jantungmu berdebar cepat seperti ini?"
"Itu karena kamu, karena kamu sudah membuatku menjadi lelaki paling beruntung karena memiliki kamu, Tenri."
Setelah pesawat menjadi normal karena sudah berada di ketinggian yang seharusnya, mereka pun bisa duduk dengan tenang. Kepala Tenri kini sudah bersandar lagi di bahu Reno. Keduanya tampak ingin terlelap karena perjalanan mereka masih dua jam lagi.
__ADS_1