
Matahari pagi bersinar melalui celah jendela kaca, mengintip sepasang suami isteri yang baru saja melewati malam paling panjang selama usia pernikahan mereka. Selimut lembut berwarna putih tulang masih membalut di sekujur tubuh keduanya. Tenri dan Reno baru saja melalui pengalaman yang semua pasangan suami isteri lalui, walau sedikit terlambat namun bagi Tenri bukan terlambat hanya waktunya saja yang belum tepat.
Reno membuka mata dan menghalangi cahaya matahari yang menerpa wajahnya, di sisinya Tenri masih tertidur pulas. Dia mengecup kening isterinya itu dan tersenyum. "Kukira kau sudah bangun, ternyata kau bisa juga terlambat menyiapkan kopi untukku." Reno membelai anak rambut yang jatuh ke wajah Tenri, diusapnya tebing pipi berwarna agak kemerahan itu.
Tenri merasakan usapan jari Reno dan dia perlahan membuka mata, "jam berapa sekarang?" tanyanya sambil mengucek-ucek matanya.
"Jam sembilan pagi."
"Astaga ... aku belum buat kopi dan menyiapkan pakain kamu, daeng. Tunggu! Kenapa daeng masih di sini? Bukannya harus ke kantor ya?" ucap Tenri gelagapan karena bangun kesiangan.
"Soalnya isteriku masih di sini juga, dia bahkan belum menyiapkan apapun untukku. Karena itu, hari ini aku libur kantor saja."
"Eh jangan! Nanti perusahaan kamu merugi."
"Hahaha ...." Reno tertawa mendengar ucapan Tenri. "Rugi bagaimana? Aku hanya sehari nggak masuk kantor tidak akan merugikan perusahaan kok. Aku ingin tinggal di rumah, bersama kamu. Gimana?" Reno menatap wajah Tenri manja.
"Benar?"
__ADS_1
Seolah Terni masih sangsi dengan ucapan Reno barusan, pasalnya sejak menikah dan diboyong ke Jakarta Reno langsung bekerja dan jarang sekali tinggal di rumah. "Aku harus berterima kasih pada Tuhan, karena memberimu libur hari ini, daeng."
Reno lantas memeluk Tenri, setelah itu mereka masuk ke kamar mandi bersama-sama untuk membersihkan badan.
***
Agenda mereka hari ini adalah bersantai di rumah, makan-makan, nonton film dan mungkin juga menata taman. Begitulah rentetan rencana yang ada di kepala Tenri, dia bahagia sekali melihat suaminya berada di rumah seharian penuh.
Mereka baru saja menghabiskan sarapan yang dibuatkan Bi Surti, keduanya bersiap untuk menata taman seperti keinginan Tenri. Sesuatu yang baru bagi Reno karena selama di Jakarta dia hanya berkutat di seputar alat-alat bengkel, berkas-berkas dan bertemu kolega. Tidak ada waktu untuk melakukan hal-hal seperti berkebun dan yang lainnya.
"Jadi ini yang kamu kerjakan seharian di rumah kemarin?" tanya Reno melihat hasil kerja Tenri menata taman.
"Tidak, bagus kok."
"Kalian bahkan ribut di sini juga ya?" tanya Reno keceplosan membahas kejadian kemarin.
"Yah ... seperti itulah, wanita itu datang tanpa ba bi bu langsung melabrakku dan di mana aku saat itu pegang pisau. Suatu kebetulan juga sih, jadinya dia pun takut dekat-dekat sama aku, daeng. Hahaha ...."
__ADS_1
"Lain kali jangan cuma bawa pisau, bawa golok sekalian. Hehe."
"Jangan begitu daeng, sebenarnya Elsa itu baik hanya saja mungkin dia tidak terima kenyataan kalau daeng sudah menikah. Apalagi menikahnya bersama perempuan yang sama sekali tak tahu menahu soal fashion, make up dan lain sebagainya."
"Kalau begitu, bagaimana kalau taman dan bunga-bunga ini kita tinggalkan sebentar lalu kita ke salon dan mall untuk membuat kamu terlihat tak bisa diremehkan oleh siapapun."
"Aku tidak biasa, daeng."
"Mulai sekarang karena kamu isteri dari Reno Premadi, maka kamu harus senantiasa terlihat bersinar dibanding perempuan-perempuan di luar sana. Kamu itu cantik, Tenri dan aku tidak mungkin mau dijodohkan sama kamu kalau tidak mendengar desas-desus keluarga di Makassar kalau calonku itu ternyata cantik sekali. Hehe."
"Oh, jadi kalau jelek berarti nggak mau nikahin ya daeng."
"Hehe ... tidak kok. Aku tetap menghormati keputusan para orang tua kita. Sudah jangan diperpanjang lagi, aku mau ajak kamu jalan-jalan sekaligus memanjakan isteriku yang cantik ini." ucapnya seraya menoel pipi Tenri yang tampak menyembul keluar karena memang sejak berada di Jakarta berat badannya sedikit naik.
Tenri hanya pasrah, dia ikut saja dengan apa yang dikatakan suaminya. Di sepotong pagi yang indah itu, Tenri merasa hidupnya akan selalu baik-baik saja, semoga menjadi awal yang baik untuk kelangsungan rumah tangganya nanti.
__ADS_1