Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Kasus Ditutup


__ADS_3

"Apa kamu tahu kalau Elsa sebelum meninggal dia sedang hamil anak kamu?" Cindi mencoba mengklarifikasi satu masalah lagi pada Rama.


"Aku tidak peduli, dia sudah mati sekarang. Memangnya kenapa kamu harus membahas ini, Sayang?" Rama membelai pipi mulus Cindi. Mereka masih berada di tempat tidur setelah melakukan kegiatan berkeringat yang awalnya bukan itu tujuan Cindi menemui Rama.


"Kamu memang laki-laki tak memiliki rasa kasih sayang." cemohnya.


"Karena aku cuma memiliki rasa kasih sayang hanya padamu seorang, Sayang." Rama berbalik dan kembali mendapatkan bibir Cindi untuk kesekian kalinya. Cindi pun menerima serangan tiba-tiba Rama dan mereka kembali berpagut dalam waktu yang singkat.


"Bibir kamu rasanya memang berbeda," komentarnya seraya mengusap bibir bawah Cindi.


"Memangnya rasa apa?"


"Aku tidak tahu, tapi ada rasa manis dan sesuatu yang membuat aku tergila-gila bila kehilangan itu."


"Kamu sangat berlebihan."


Mereka berdua pun tertawa lepas seolah apa yang mereka lakukan barusan benar-benar sangat lucu.


"Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Rama.


"Aku tidak tahu, warisan ini sudah berada di tangan aku sekarang. Aku rasa, aku akan berkeliling dunia untuk merayakan ini. Haha ...."


"Apa aku diajak?" tanya Rama dengan nada menggoda.


"Kamu akan menahan aku hanya di tempat tidur jika kamu ikut aku, Sayang. Kumohon jangan lakukan itu dan biarkan aku untuk bersenang-senang." Tawa Cindi berderai di kamar hotel tersebut.

__ADS_1


"Aku janji hanya akan menahan kamu saat pagi dan malam saja."


"Siapa yang menjamin?"


"Haha ... kamu benar-benar membuat aku gemas."


"Tentu saja kamu harus ikut, kamu yang membuat semua ini kembali ke tangan aku. Elsa dan keluarganya memang tak pernah pantas untuk menerima semua warisan kakek."


"Apa kamu sedang membencinya sekarang?"


"Aku selalu membencinya."


"Jelas terlihat dari mata kamu, Sayang. Dan aku yang paling tahu akan hal itu, jadi jangan pernah berlari lagi dari aku."


***


Kasus pembunuhan Elsa pun diberhentikan secara tiba-tiba, bahkan keluarga pun tak bisa dipercayai sekarang. Tak ada yang peduli pada kematiannya, bahkan setelah dia dimakamkan pun tak ada yang datang untuk sekedar menziarahi kuburannya yang kian sepi itu.


Reno yakin betul bahwa yang membunuh Elsa adalah Rama dan kenapa orang tersebut seolah tak bisa tersentuh oleh hukum. Persis seperti dirinya yang ditinggalkan begitu saja saat apa yang diinginkan pria tersebut telah tercapai. Lagi pula tak ada yang bisa dilakukan Reno saat ini, bahkan untuk berterimakasih kepada Elsa pun dia tak bisa melakukan apapun.


Begitu dia mendengar bahwa kasus Elsa ditutup, dia diam untuk beberapa saat, murung dan seperti merasa bersalah pada wanita itu. Tenri memperhatikan tingkah Reno dari jauh dan dia yakin sekali kalau suaminya sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa Daeng? Kamu kelihatan gelisah dan seperti memikirkan sesuatu yang berat. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?"


"Aku ... aku hanya ingat pada Elsa."

__ADS_1


Deg.


Dalam hati Tenri sempat terkejut dengan kejujuran suaminya itu, namun dia tak mau berpikiran negatif karena belum tentu itulah yang sebenarnya terjadi.


"Kasus pembunuhan Elsa ditutup dan bahkan pembunuhnya saja tak pernah terungkap."


Kali ini Tenri pun mengerti maksud dari suaminya itu, "Kenapa ditutup Daeng? Apakah tidak ada pihak keluarga yang mau melakukan itu untuk Elsa? Kasihan dia." Ungkap Tenri menaruh prihatin.


"Aku yakin ada sesuatu yang terjadi dalam keluarga besar Elsa, sehingga kasusnya pun ditutup. Tentu saja ini juga ada hubungannya dengan Rama, entah kenapa aku sangat yakin dialah yang membunuh Elsa."


"Daeng, hati-hati dengan argumen kamu. Aku tidak mau kamu terlibat apa-apa lagi dengan urusan Elsa, aku tahu kamu kasihan dan merasa bersalah padanya, tapi aku juga tidak mau kamu ikut campur terlalu jauh. Jangan sampai terjadi hal-hal yang sama-sama kita tidak inginkan."


"Tidak, Sayang. Tentu saja aku tidak mau terlibat, aku hanya kepikiran, ini terlalu janggal jika kasusnya tiba-tiba dihentikan begitu saja tanpa hasil apa-apa."


"Iya juga. Apa keluarga Elsa sama sekali tidak ingin tahu siapa pembunuhnya?"


"Itu dia. Tapi sudahlah, Sayang, aku pamit ke kantor ya." Reno berdiri dan meraih jasnya lalu pamit mencium kening isteri dan baby Queen.


"Hati-hati di jalan ya, jangan terlalu dipikirkan."


"Iyah, kamu baik-baik di rumah. Jika ada apa-apa kamu bisa hubungi aku secepatnya di kantor."


 


Tenri mengangguk tanda setuju dan dia pun mengantar kepergian suaminya hingga pintu depan.

__ADS_1


__ADS_2