
Tenri sudah berada di kamar kembali, Reno sedang menyeruput kopinya di tempat biasa yaitu balkon lantai dua rumah mereka. Rambut Reno tampak berantakan, kini panjang dan tak lagi terawat, janggutnya pun begitu. Belum lagi kebiasaan merokoknya yang sampai saat ini justru lebih sering dari hari-hari sebelumnya.
Wanita sabar itu menatap punggung suaminya, betapa dia ingin sekali memeluk tubuh yang sudah lama dirindukannya itu. Kadang Tenri bermimpi tentang kehidupan yang bahagia, di mana mereka telah memiliki anak. Tenri menarik napas yang dalam, dia teringat akan laptopnya. Dia meninggalkan draft iklannya begitu saja di sana.
Dia pun kembali duduk di depan laptop, menyelesaikan iklan yang akan dia pasang di media sosial. Harapan besar terpantik dari dalam jiwanya. Semoga menjadi awal yang bagus untuk masa depan rumah tangganya.
Terdengar suara langkah Reno yang mendekat, namun Tenri terlalu serius untuk menyelesaikan iklan itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaan aku tadi, untuk apa itu?" pertanyaan Reno membuat Tenri terkejut dia tak mengira kalau Reno kini sudah berada di sampingnya.
"Aku sedang membuat iklan bimbingan belajar, aku bosan jika tak ada kesibukan lain di rumah ini. Aku kerap sendiri, ditambah lagi sekarang Bi Surti tak lagi bekerja di rumah kita."
"Oh ...."
Hanya jawaban 'Oh' itu saja yang keluar dari mulut Reno. Tidak melarang dan tidak juga mendukung. Namun Tenri menganggap bahwa suaminya itu setuju dia melakukan bimbingan belajar di rumah mereka.
Semenjak Reno bangkrut, Elsa tak lagi pernah pamer kemesraan bersama Reno kepada Tenri. Justru beberapa kali di media sosial Elsa terlihat akrab dengan orang bernama Rama. Penjilat ya begitu, hanya menempel pada orang yang sekiranya memberi keuntungan.
Dengan demikian, Tenri pun tidak terlalu khawatir lagi mengenai Reno di luar sana. Jika puas minum, dia pasti akan kembali lagi ke rumah mereka. Sesekali Doni menolong dan mengantarkannya pulang.
Seperti sekarang, jika Reno sudah berada di rumah. Maka sepanjang hari dia akan di rumah, tidur, ngopi, ngerokok begitu seterusnya.
***
Iklan yang dibuat Tenri sudah dipasang di media sosial. Dia juga sudah mencantumkan nomor ponselnya, kalau-kalau ada yang berminat maka bisa menghubunginya langsung.
Reno belum juga bangun, Doni ada di bawah sedang menunggunya. Tenri pun bergegas ke atas untuk melihat apakah Reno sudah bangun atau belum.
__ADS_1
Dia membuka pintu kamarnya dengan pelan, Tenri agak bingung karena tak mendapati suaminya di tempat tidur. Dia pun menuju balkon, dia berdiri di sana sedang menghisap rokok yang asapnya mengepul ke udara.
"Daeng, Doni mencari daeng. Dia menunggu di bawah."
"Untuk apa lagi orang itu menemuiku, aku tidak punya apa-apa lagi. Bilang sama dia, kalau aku sedang tidak ingin bertemu dengannya."
"Tapi dia sudah lama menunggu daeng ...."
"Kalau kubilang tidak ya tidak! Kamu dengar nggak sih?" potong Reno dengan suara menggelegar.
Tenri pun pergi menemui Doni di bawah, dia sudah memancing emosi Reno. Meskipun tak seharusnya Reno berbicara sekeras itu padanya.
"Doni, dia tidak mau bertemu. Maaf ya," ucap Tenri sesaat sampai di lantai bawah.
"Tidak apa-apa Tenri, bisakah aku sendiri yang menemui dia di atas?"
"Aku hanya ingin bicara padanya, bukan untuk ribut Tenri. Bagaimana, bisa?"
"Baiklah."
Doni pun ke kamar Reno. Baru saja dia muncul dari balik pintu kamar, Reno sudah menyambutnya dengan tatapan tajam.
"Sudah kubilang aku tidak ingin bertemu denganmu, Don."
"Kamu kenapa sih? Tidak perlu bersikap seperti ini, Ren. Kamu jangan samakan aku dengan teman-teman kamu yang lain yang menempel sama kamu hanya pada saat kamu berjaya. Aku bukan orang seperti itu, asal kamu tahu. Kita bersahabat bukan hitungan hari, Ren. Bertahun-tahun, tapi kamu malah menjadi orang yang sama sekali tidak kukenali."
"Jangan ceramah di sini, Don. Tidak ada yang butuh ceramahmu."
__ADS_1
"Ishh ...." Doni mengepalkan tangannya, gemas kepada Reno yang bersikap kekanakan padanya.
Dia selalu menganggap bahwa setelah kebangkrutannya semua orang meninggalkan dirinya termasuk Doni. Padahal Doni tidak pernah melakukan itu padanya. Dia sangat sensitif.
"Ren, aku tidak sama dengan mereka. Aku ke sini untuk mengajak kamu bekerjasama lagi. Kita bangun mimpi-mimpi kita lagi, tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha. Ayolah, Ren!"
"Cihh ... apa yang bisa kamu lakukan, sementara selama ini kamu saja masih mengekor di belakang aku."
Doni agak tersinggung dengan kata-kata Reno barusan, tapi dia berusaha menahan semua emosinya demi persahabatan mereka.
"Mau sampai kapan sih kamu seperti ini terus?"
"Apa pedulimu?"
"Aku peduli karena kamu sahabat aku." Doni makin ngotot, dia sangat-sangat ingin membuat Reno sadar bahwa dia sudah keliru.
"Aku tidak butuh sahabat yang diam-diam membangun sebuah perusahaan."
Doni tampak terkejut. Ya memang benar, Doni membuat perusahaannya sendiri, itu juga tujuan dia datang ke sini. Ingin mengajak Reno bekerjasama lagi dan bangkit lagi.
"Aku tidak diam-diam Ren, karena itulah aku kemari. Mengajak kamu bergabung, kami butuh orang sepertimu. Kamu selalu memiliki ide yang brilian untuk membangun sebuah perusahaan agar lebih pesat lagi."
"Sudahlah Don, percuma. Kamu pulang saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Baiklah, terserah kamu Ren. Aku sekalian mau mengingatkan kamu satu hal, meskipun semua orang meninggalkan dirimu, tapi sekali waktu lihatlah siapa yang bertahan selama ini di sisimu. Jangan pernah sia-siakan isterimu, Tenri. Karena dialah yang tak pernah meninggalkan kamu."
Ucapan Doni barusan membuat Reno tak berkata apa-apa lagi. Saat Doni meninggalkan kamarnya, dia mencoba mengingkari semua ucapan Doni tentang Tenri. Tapi dia tak menemukan alasan untuk tidak membenarkan ucapan Doni itu. Memang Tenri lah yang tidak pernah benar-benar meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Tenri tidak naik lagi ke kamar, dia memantau perkembangan iklannya di media sosial di lantai bawah. Tepatnya di kamar tamu. Daripada dia harus merasa tak nyaman karena kehadiran Reno di sana, lebih baik dia menghindar sejenak.