Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Appanaik Leko Lompo (Membawa Sirih Besar)


__ADS_3

"Aku akan menyusul kamu ke Makassar, Ren. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, kamu membuat aku tidak tenang di Jakarta. Aku rasa ada yang kamu sembunyikan dariku." Elsa marah dan emosi sekali ketika berbicara dengan Reno di telepon.


"Tidak usah menyusul ke Makassar, Elsa. Aku akan pulang Minggu depan, kamu tenang saja. Okey?"


"Tapi aku harus tahu apa yang kamu lakukan di sana, Ren? Seolah ada yang kamu tutup-tutupi dari aku."


"Tidak ada yang aku tutup-tutupi Elsa, sudah ya aku harus membantu ibu dulu. Aku sudah kasih tahu kamu, aku pulang ke Makassar karena ibuku sakit. Jadi tolong jangan seperti anak kecil yang merengek seperti ini."


"Ren ... Reno ...!"


Klik.


Reno sudah terlanjur menutup teleponnya dan dia terlihat kesal dengan tingkah dan kegigihan Elsa yang memaksa untuk menyusul ke Makassar.


"Aku tidak bisa membiarkan Elsa datang ke Makassar, hal itu tidak boleh terjadi. Ibu akan sangat marah, terlebih lagi pernikahan aku sudah dekat. Aku tidak mau semuanya berantakan dan membuat malu keluarga. Bagaimana pun aku belum melupakan Siri' (rasa malu) yang sudah diajarkan bapak dan ibu sejak kecil."


Reno berbicara pada dirinya sendiri. Seolah memberi peringatan bahwa apapun yang terjadi Elsa tak boleh menyusulnya. Wanita itu tidak boleh tahu bila dia akan menikah, karena jika dia tahu maka pernikahan Reno akan runyam.


***


"Lebang, apa semuanya sudah selesai?" tanya Ibu Reno pada seorang perempuan setengah baya bernama Lebang.


"Sudah-mi, tenang-maki saja. Aman-mi semua. Sekarang tinggal diantar ini Leko dan erang-erang ke rumah calon mempelai wanita."


"Baguslah, Ndik. Terimakasih sudah membantu mengurus semuanya."


"Sudah sepantasnya-ji Kakak. Jangan-ki sungkan. Reno adalah kemanakan-ku jadi wajar jika saya membantu mempersiapkan proses pernikahannya."


"Iyek, Ndik. Sudah jam berapa ini? Bajikmi kapang tawwa paruru. (Mungkin sudah sebaiknya kita bersiap)"

__ADS_1


Lebang pun mengangguk dan membantu mengatur siapa-siapa saja yang akan membawa erang-erang atau hantaran ini. Reno muncul dari arah kamarnya, berpapasan dengan keluarga yang akan segera berangkat menuju kediaman calon mempelai wanita.


"Gammarakna ntu daeng bunting bela. (Ganteng sekali calon pengantinnya)," ucap salah seorang sanak keluarga.


"Baru potong rambut, Daeng." Reno menjawab dengan memperlihatkan gaya rambut barunya.


"Perlu itu, supaya pas duduk di pelaminan juga terlihat oke."


"Iyek."


***


Terdengar suara dentuman gendang adat atau ganrang Tunrung pakanjarak serta Puik-Puik dan gong, mengiringi para rombongan yang datang membawa Leko Lompo ke rumah Tenri.


Semua orang berdiri dan berkumpul menyambut kedatangan keluarga Reno. Satu persatu erang-erang atau hantaran diterima oleh pihak keluarga calon mempelai wanita. Menempatkannya di dalam sebuah kamar calon pengantin untuk dijejerkan dan diperlihatkan kepada mempelai wanita.


Banyak sekali yang takjub dengan kecantikan Tenri saat itu. Sangat bercahaya. Banyak orang mengatakan bahwa tak merugi orang yang mendapatkan Tenri sebagai isteri. Sebab selain dia seorang guru yang lemah lembut, dia juga keibuan dan pandai memasak.


Meski dijodohkan sejak kecil, keduanya memang tak pernah diperkenalkan secara langsung saat mereka besar. Barulah pada saat sekarang ini, saat ibu Reno merasa sudah payah dan sering sakit-sakitan, akhirnya dia meminta Reno untuk segera menikah.


Tenri menyapa keluarga dari pihak Reno, senyum selalu menghiasi wajahnya. Meski dalam hatinya dia juga khawatir tentang lelaki yang akan meminangnya itu. Dia takut tak diterima dengan baik oleh Reno.


Olla teman Tenri masuk ke dalam kamar, dia senang sekali melihat Tenri sudah berbalut pakaian adat Makassar.


"Ya ampun Tenri, cantik sekali-ki ...." serunya kegirangan dan langsung memeluk Tenri.


"Biasa-ji kapang, Olla. Ini cantik make-up ji. Jangan terlalu berlebihan memuji."


"Tidak, cantik sekali-ki memang. Selamat sayang, nah."

__ADS_1


"Belum, baru Leko."


"Lancar sampai hari H."


"Iyek. Terimakasih sudah datang, Olla."


"Sama-sama."


***


Di rumah Reno, dia sedang berdiskusi dengan Doni asistennya. Dia jujur pada Doni, kalau dalam hitungan hari dia akan segera menikah. Doni kaget bukan main, dia tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Kamu sudah gila? Dengan siapa kamu menikah? Bagaimana dengan Elsa?" ucap Doni agak berteriak di telepon.


"Karena itulah aku menelpon kamu, Elsa belum tahu soal ini. Tapi dia memaksa ingin menyusul ku ke Makassar. Tolong halangi niat Elsa untuk datang, apapun yang terjadi jangan biarkan dia terbang ke Makassar."


"Ini lebih sulit dari seluruh pekerjaan kantor yang kau tinggalkan untukku, Ren. Kamu benar-benar sudah gila."


"Aku tidak ada pilihan lain, Don. Tolong yah."


"Baiklah. Semoga pernikahan kamu lancar dan jangan lupa tunjukkan isterimu nanti padaku."


"Iyah, itu urusan nanti."


Reno pun akhirnya dapat lega, dia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Dia tahu Doni dapat diandalkan.


Pernikahan Reno tinggal hitungan hari. 2 hari ke depan sudah berlangsung prosesi Akkorongtigi di rumah Tenri. Itu artinya kurun waktu 5 hari lagi dia akan sah jadi suami dari wanita bernama Tenri. Wanita pilihan ibunya.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2