Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Pertemuan Masa Lalu


__ADS_3

Daffa ataupun Tenri sejenak termenung, saling menatap namun Tenri lekas melepas pandangannya dari Daffa.


"Aku sudah menunggu begitu lama di Salon, makanya aku susul ke sini. Daeng tidak marah, kan?"


Reno tersenyum, "justru aku yang harus minta maaf sama kamu. Aku sudah meninggalkan kamu di sana. Nggak sadar kalau kamu sudah selesai perawatan."


Daffa mendengar obrolan sepasang suami isteri itu, dia ingin menyapa Tenri namun enggan. Takut malah memperkeruh suasana keduanya. Seperti halnya Tenri yang memilih bungkam sebab dia tahu orang yang sedang bersama suaminya itu adalah Daffa. Orang yang sama dengan laki-laki dari masa lalunya yang selalu bertanya mengapa Tenri tidak mau menerima cintanya.


Seketika suasana menjadi canggung, Tenri memilih lebih banyak diam. Daffa ngobrol sebentar dengan Reno, kemudian pamit untuk duluan.


'Baguslah dia sudah pergi, semoga Reno tak curiga. Aku baru tahu kalau Reno dan Daffa adalah teman baik.'


Perjalanan pulang, Reno bercerita dengan semangat tentang Daffa sahabatnya. Pertemuan mereka tadi adalah pertemuan pertama sejak Daffa dan keluarganya menghilang tanpa jejak.


"Jadi kalian berdua adalah sahabat karib?" tanya Tenri hati-hati

__ADS_1


"Iyah, kita itu ke mana-mana selalu bersama. Dari bangku kelas satu pun duduknya kita selalu bareng sampai kelas tiga. Kita berdua dulu dijuluki duo tampan. Hahha ... bukannya narsis yah, tapi cewek-cewek selalu bilang gitu." tutur Reno bersemangat.


"Terus kenapa jadi hilang kontak begitu?"


"Entahlah, tadi dia belum cerita. Tapi pasti aku akan terus meneror dia dengan pertanyaan yang sama, mengapa dia menghilang."


Tenri ingat betul bagaimana pertemuan dia dengan Daffa. Saat itu, Daffa yang merupakan pendatang dan melanjutkan kuliah di Makassar kesasar saat mencari ruangan. Dia pun dibantu oleh Tenri, dari awal mula itulah, keduanya menjadi akrab.


Daffa menaruh perhatian lebih pada Tenri, sementara Tenri selalu menganggap Daffa sebagai teman saja. Jauh sebelum kehadiran Daffa dalam hidupnya, dia sudah berjanji pada orangtuanya. Bahwa apapun yang terjadi dia akan memenuhi harapan kedua orang tuanya untuk menikah dengan lelaki dari sahabat dekat orang tuanya.


Seiring berjalannya waktu, Daffa tak kunjung mendapatkan hati Tenri. Dia terus bersikukuh bahwa dia tak akan menerima lelaki manapun kecuali lelaki yang dijodohkan dengannya. Tenri sudah jujur pada Daffa, bahwa sekalipun dia menerima cinta Daffa maka hal itu tak akan mengubah keadaan Tenri yang harus dijodohkan.


Daffa pergi membawa luka di hatinya, dia juga tak bisa memaksa Tenri untuk suka apalagi cinta padanya. Bagi Tenri, janji adalah janji tidak boleh dilanggar. Pendiriannya sangat teguh, hingga Olla sempat mengatakan dirinya karena menyia-nyiakan laki-laki seperti Daffa.


"Tenri ..., kamu melamun?" tanya Reno yang sejak tadi melihat wajah Tenri seperti sedang berawan kelabu.

__ADS_1


"Ah tidak. Aku sedang menerka-nerka kemana kamu akan membawaku, daeng. Ini bukan jalan pulang ke rumah kita kan?"


"Memang bukan, hehe. Kita belanja beberapa potong baju dulu. Bukankah hari ini aku bilang akan menemani kamu seharian. Jadi aku akan melakukannya. Lagi pula, sebenarnya aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat."


"Ke mana?"


"Ada deh, rahasia."


"Ih ... kenapa begitu?"


"Pokoknya ikut saja, sekarang aku antar kamu beli gaun pesta dulu. Hehe."


Hati Tenri kala itu memang bahagia, tapi tak dipungkiri juga kalau dia sebenarnya sedang memikirkan Daffa. Kenapa harus Daffa yang jadi sahabat Reno? Kenapa tidak orang lain saja, agar Tenri bisa tenang selain hanya menghadapi Elsa saja.


Mobil yang mereka kendarai membelah jalanan kota, membawa mereka ke sebuah gedung besar dan bertingkat. Katanya di dalam sana apapun bisa kamu dapatkan, asal kamu punya UANG.

__ADS_1


__ADS_2