Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Tentang Reno


__ADS_3

Awal cerita Reno merantau ke Jakarta adalah ketika dua tahun setelah lulus SMK, dia ikut bersama purina (pamannya). Berharap dari ijazah SMK yang dia peroleh akan dapat mengubah nasibnya di masa depan. Dia memang termasuk anak yang pemberani dan pekerja keras. Jika dia menginginkan sesuatu maka dia akan berusaha untuk bertanggung jawab atas keinginan tersebut dan mewujudkannya.


Reno mengerjakan apapun, dari kerja di sebuah bengkel pres ban di pinggir-pinggir jalan sampai di sebuah bengkel besar. Tujuh tahun karirnya di dunia otomotif dan perbengkelan. Sampai suatu ketika Reno memutuskan pensiun menjadi karyawan. Pemikirannya maju, dia tidak mau jadi karyawan terus.


Berbekal tabungan yang dia simpan sedikit demi sedikit, akhirnya dia membangun bengkelnya sendiri. Dulu masih bernama CAHAYA TIMUR. Reno saat itu benar-benar sangat berjuang dari bawah, jatuh bangun usaha bengkelnya tak menyurutkan niatnya. Hingga usaha tersebut terus berkembang dan mengalami kemajuan signifikan. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang bekerjasama dengannya. Hingga membawa dia ke puncak kesuksesan.


Mata Reno meredup kala bernostalgia membayangkan masa-masa kelamnya saat itu. Bengkelnya sepi, sedangkan kebutuhan sehari-hari tidak berhenti. Ia bahkan sudah siap berganti mata pencaharian lain, walaupun akhirnya para pelanggan setianya menariknya kembali ke dunia yang sesungguhnya memang ia gemari. Semangat barunya terejawantahkan dengan mengganti nama bengkel menjadi CAHAYA TIMUR BARU (CTB).


Saking dia fokus dengan usahanya tersebut, Reno sudah jarang sekali kembali ke Makassar. Hingga saat bapaknya meneleponnya dan mengabarkan bahwa ibunya sedang sakit, barulah Reno pulang lagi ke Makassar.


Kepulangan dia kali itu ternyata berbuntut panjang, dia yang masih ingin terus mengembangkan karirnya harus menghadapi kenyataan lain. Dia harus menikahi wanita pilihan ibunya yaitu Tenri. Wanita berdarah suku Makassar asli yang telah dijodohkan dengannya sejak masih kecil.


Jungkir balik hidup Reno di masa lalu tak sebanding dengan berputarnya roda kehidupan dia karena harus menikah padahal dia belum siap. Tatapannya lurus namun tak terarah, banyak pikiran dan tidak fokus pada pekerjaannya.


Doni yang sejak tadi berdiri di depannya juga tak dihiraukan, atau memang Reno malah tak tahu kalau Doni sudah berdiri di sana lebih dari tujuh menit.


"Ren ... Reno ...." Doni memanggil Reno dengan telapak tangan dilambaikan di depan muka Reno. Namun pria tersebut bergeming.


"Woii ... Ren!" panggilnya. "Kamu kenapa?"


Reno pun terkejut karena mejanya yang digebrak oleh Doni. Sedikit kurang ajar memang, tapi jika Doni tak melakukan itu maka Reno terus berada dalam alam pikirnya.


"Astaga ...! Kamu apa-apaan si?" geram Reno mendelik marah ke arah Doni.


"Kamu melamun apa mati sih? Sejak tadi aku di sini, manggil-manggil kamu bukannya dijawab malah diam aja kayak patung. Kamu kenapa? Kamu masih kepikiran dengan Elsa? Kepikiran dengan pernikahan kamu?"

__ADS_1


"Sejak kapan kamu di sini?"


"Sejak jaman dahulu kala, puas!" Doni menjawab kesal karena Reno benar-benar tak menyadari kehadirannya di sana.


"Nih ada dua perusahaan yang ingin kerjasama lagi dengan bengkel kita, kamu cek ulang lagi karena tugas aku udah selesai. Jangan melamun terus, hancur perusahaan kalau bosnya kayak gini."


"Sialan!" umpat Reno seraya melempar kertas yang sudah diremasnya ke arah Doni.


***


Reno kembali menatap berkas-berkas di depannya dan fokus pada bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut. Baru beberapa menit, ruangannya kembali diketuk oleh seseorang.


"Masuk."


Reno meminta tamu tersebut masuk tanpa melihat siapa orangnya. Dia tak tahu kalau orang yang datang ke ruangannya adalah Elsa.


Reno sampai melihat Elsa dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi.


"Ngapain kamu ke sini lagi?" tanya Reno dengan ekspresi datar.


"Sampai kapan pun aku tidak akan rela kamu bersama perempuan lain. Aku sudah yakin sekarang, bahwa kamulah laki-laki yang dapat membahagiakanku. Hanya kamu seorang dan satu-satunya." Elsa menghampiri Reno dan bahkan berani sampai duduk di atas pangkuan Reno. Sementara kedua tangan Elsa sudah mengalungi leher Reno.


"Elsa ... Elsa ... lepasin! Turun dari pangkuanku."


Reno terus menolak, namun Elsa malah membalikkan badannya dan mencuri cium ke bibir Reno. Pria itu gelagapan menghadapi serangan Elsa. Wanita itu benar-benar liar, dia bahkan tak memberikan kesempatan bagi Reno untuk bernapas.

__ADS_1


"Sudah lama sekali kita tak bercumbu seperti ini, Ren. Apa kau sama sekali tak menginginkannya?" ucap Elsa di tengah mereka berciuman.


"Elsa, Cukup!" bentak Reno dan mendorong tubuh Elsa hingga menjauh dari dirinya. Bekas bibir Elsa yang sempat menerobos masuk ke rongga mulutnya berusaha dihapus oleh Reno.


Elsa malah tersenyum licik dan puas karena sudah mendapatkan apa yang dia mau.


"Keluar, Elsa! Jangan sampai aku menggunakan cara-cara kasar untuk mengusirmu dari sini."


"Tenang saja, aku akan pergi. Sayangnya untuk pergi dari kehidupan kamu, mungkin sulit. Bye ... Reno. Semoga pernikahanmu berumur panjang." Elsa terus saja melecehkan Reno.


Geraham Reno tampak mengeras, dia menghubungi Doni dan berbicara cukup keras.


"Jangan biarkan wanita itu menerobos masuk ke ruangan ku lagi."


"Hei ... ada apa?"


"Harusnya aku yang bertanya padamu, Don. Elsa kenapa bisa ada di sini?"


"Oh ... Iyah. Tadi dia memaksa masuk, katanya sudah punya janji denganmu. Jadi ... aku membiarkan dia untuk masuk."


"Lain kali jangan sampai dia berbuat hal yang sama lagi."


Reno langsung menutup telponnya dengan kasar. Wajahnya yang tadi memang sudah badmood malah bertambah karena kedatangan Elsa yang tiba-tiba dan mengganggunya.


"Arrrghh ....!"

__ADS_1


Reno menggebrak meja kerjanya dan meremas rambutnya dengan kasar. Karena dia merasa suasana hatinya sudah sangat buruk, dia pun memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.


*Bersambung*


__ADS_2