Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Berjuang Bersamaku


__ADS_3

"Aku tahu kamu mungkin tidak akan mempercayai apapun yang kukatakan. Namun untuk kali ini saja, mohon jangan biarkan aku lewati ini sendirian. Aku sayang padamu, Tenri. Demi anak kita, aku akan buktikan bahwa aku tidak pernah melakukan itu pada Elsa atau pada perempuan lain."


Sorot mata Reno saat menatap Tenri begitu menyedihkan, dia sadar dia sudah terlanjur banyak menyakiti isterinya. Namun kali ini dia serius kalau dia benar-benar tidak pernah berbuat hal bodoh yang akan dia sesali kelak.


Tenri tertunduk lama sampai akhirnya dia mengangkat wajahnya yang sudah berkaca-kaca.


"Baik, aku ... percaya sama Daeng kali ini. Namun jika ternyata apa yang Daeng ucapkan padaku adalah kebohongan. Maka rumah tangga kita taruhannya,"


"Please ... jangan bicara seperti itu Tenri. Aku sayang pada mu, aku juga ingin mempertahankan rumah tangga kita sampai kita menua nanti. Akan aku buktikan sama kamu kalau anak yang dikandung Elsa itu bukan anakku."


"Bagaimana jika anak itu adalah anakmu Daeng?"


"Aku pasrah."


Jawaban terakhir Reno memang sebuah bentuk kepasrahan. Tapi dia yakin dia bisa memenangkan persoalan ini dan membuat Elsa kapok dan berhenti menggangu rumah tangga mereka.


Tiap kali akan bahagia ada saja rintangannya dan selalu wanita bernama Elsa inilah penyebabnya. Wajah Tenri yang semula bahagia kini berubah lesu. Tatapannya jauh ke arah yang tak terjangkau, Reno yang di sampingnya menjadi tak bisa menyentuh isterinya itu. Sebab dia sadar secara tak langsung, lagi-lagi dia telah menyakiti isterinya. Padahal Tenri sedang hamil tua dan dalam waktu kurang lebih dua bulan akan segera melahirkan anak mereka.


"Bisakah aku tinggal lebih lama lagi di sini, Daeng?" Akhirnya Tenri bicara juga setelah sekian menit mereka tanpa suara dan hanya bergelut pada pikiran masing-masing yang melayang entah ke mana.

__ADS_1


"Tenri, jika kita datang bersama maka kita juga harus kembali bersama. Kamu harus bantu aku menghadapi Elsa, aku khawatir jika meninggalkan kamu di Makassar seorang diri malah membuat kamu terus berpikiran buruk tentangku. Aku tidak mau hal itu terus terjadi dalam rumah tangga kita."


"Lalu bagaimana daeng menghadapi Elsa?"


"Aku akan melakukan tes DNA, ada dua cara melakukannya sebelum lahir atau sesudah lahir." Reno menjawab pasti, namun jika memilih salah satu dari kedua tes tersebut, maka sang calon ibu dalam hal ini Elsa harus dibuat agar mau melakukan semua prosedurnya.


Maka bagian itulah yang sulit untuk dilakukan Reno jika ingin membuktikan bahwa dia benar adalah seorang ayah dari anak yang dikandung Elsa.


Mendengar jawaban Reno yang tegas dan lugas, Tenri merasa telah melihat kejujuran di sana. Tidak mungkin suaminya akan mau melakukan semua proses itu jika seandainya benar dia pernah menyentuh atau melakukan hubungan intim dengan Elsa.


"Baik, apapun yang daeng akan lakukan aku ikut saja. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa, wanita seperti Elsa sangat licik jika menggunakan daeng untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak pernah daeng lakukan."


Reno memberanikan diri mencium kening Tenri, juga mencium bagian perut Tenri yang membuncit. Terlihat betapa dia sangat sayang pada anak yang sedang dikandung isterinya itu.


"Sayang, doakan Papa dan juga Mama ya. Kamu adalah penyemangat kami agar terus bersama."


Tenri berusaha menahan air matanya agar tak jatuh, sudah terlalu banyak hal yang dilewatinya selama menjadi seorang isteri dari Reno Premadi. Ternyata tak mudah memang, menjadi isteri yang asal muasalnya karena dijodohkan. Juga tak mudah untuk bertahan sebab awalnya tak ada cinta di antara mereka. Namun Tenri terus berjuang, sebab dia yakin akan ada kebahagiaan yang menghampiri dia dan keluarganya.


"Kamu mau berjuang dan mencari tahu kebenaran bersama aku, kan?" tanya Reno dengan menatap Tenri sangat lekat.

__ADS_1


Tenri mengangguk pelan, begitu besar rasa sayangnya terhadap suaminya itu sampai dia tak tahu harus membantah seperti apa setiap perkataan suaminya. Sejak awal dia memang telah sayang pada pria ini, jiwanya terikat saat mereka berdua dipertemukan untuk pertama kali. Entah hanya Tenri yang merasakannya atau Reno juga merasakan di awal mereka berjumpa. Hanya saja Reno tak mau mengakuinya.


Kembali Reno hanya bisa mencium kedua tangan isterinya sebagai bentuk ungkapan rasa terimakasihnya kepada Tenri yang sudah memberinya kesempatan berkali-kali. Sehingga kali ini dia berjanji tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


***


Di tempat berbeda. Apartemen, kediaman Elsa. Dia mencoba menghubungi seseorang berkali-kali namun tak bisa tersambung. Emosinya meledak hingga dia melemparkan ponsel yang tadi didekatkan ke telinganya.


"Brengsek!" teriaknya seorang diri di dalam kamar.


Tak lama kemudian dia tersedu menangis, dadanya naik turun, pertanda begitu banyak emosi yang sedang disimpannya.


"Bajingan kau, Rama! Kau membuatku harus menanggung semuanya sendirian lalu kau pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Bodohnya aku harus terjebak oleh janji manis mu itu lagi berulang kali. Aku benci kamu ...."


Elsa berteriak sudah seperti orang kesurupan, kali ini jelas sudah siapa yang sedang berbohong dan sedang mencari pembenaran lewat orang lain. Jika begini, maka Reno harus segera bertindak, sebelum Elsa semakin memanfaatkan situasi dan membuat rumah tangganya hancur seketika.


Dengan sumpah serapah yang mengalir dengan ganas, dia melempar semua barang yang ada disekitarnya. Dia tampak sangat frustrasi. Rambut cokelat miliknya kini tergerai sembarangan, tak lagi terawat dan kusut masai. Hingga puncaknya dia melempar sebuah vas bunga ke arah TV yang tak punya salah sama sekali.


Elsa menangis. Elsa menderita seorang diri. Namun, dia masih memikirkan hal licik untuk membuat Reno bisa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi padanya dan juga pada bayi yang sekarang bersemayam di rahimnya.

__ADS_1


__ADS_2