Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Tenri, Dia Menendangku


__ADS_3

"Apa? Jangan gila deh Ren, ngapain lagi kamu mau temui Elsa? Sudah tahu dia itu kan licik, kamu bisa dimanfaatin lagi sama dia. Kamu tuh mending baik-baik dulu deh sama Tenri, kamu juga baru sembuh, jangan menggali lubang kuburan kamu sendiri. Batalkan niat kamu temui Elsa, atau aku tidak akan pernah membantu kamu lagi." Doni sampai mengancam Reno jika dia benar ingin mendatangi Elsa.


"Terus aku harus bagaimana Don? Biar bisa meyakinkan Tenri, agar dia mau percaya lagi sama aku?"


"Sebenarnya letak masalahnya bukan di situ Ren, kamu cukup niatkan akan berubah dan kamu melakoninya dengan baik, Tenri akan selalu memaafkan kamu. Sudah, buang jauh-jauh rencana kamu untuk menemui Elsa hanya agar kamu dapat membuat dia mengaku di depan Tenri."


"Jadi?"


"Ya nggak jadi apa-apa Ren, kamu ini naif banget sih. Aku aja yang jomblonya fii sabilillah gini masih tahu mana yang perlu diperjuangkan mana yang perlu dibuang aja, kok kamu malah buta akal kayak gitu sih?"


"Okey! Aku nggak akan nemuin Elsa, sekarang aku harus bagaimana?"


"Buat Tenri percaya lagi pada kamu, buat dia percaya niat baik kamu untuk berubah, buat dia yakin kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Kalian memang dijodohkan tapi bukan berarti cinta tidak akan pernah tumbuh di hati kalian. Aku percaya, asal kamu yakin, kamu pasti bisa memberikan hati kamu untuk Tenri."


"Kalau Tenri yang tidak mau terima bagaimana?"


"Ya ampun Reno, sumpah aku pengen banget maki-maki kamu sekarang. Laki-laki normal mana yang nggak akan jatuh cinta sama Tenri? Kayaknya cuma kamu aja yang nggak normal Ren, kamu jika tidak segera bertindak, aku pastikan Daffa akan selangkah lebih maju untuk mendapatkan Tenri. Kamu tidak mau jika rumah tangga kamu berujung perceraian kan?"


"Nggak lah, Tenri sedang mengandung anak aku. Aku nggak mungkin mau bercerai."


"Nah, makanya. Fokus ke isteri dan calon anak kamu, perhatikan mereka. Buat Tenri hatinya luluh dan kalian bisa bersatu kembali. Sudahlah, aku mau kerja lagi, nanggepin curhat kamu sampai besok juga nggak akan kelar-kelar. Ingat jangan pernah temui Elsa."


"Iyah."


Reno itu tipe laki-laki yang kalau dalam keadaan darurat, pikirannya akan bercabang ke mana-mana. Dia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cara yang benar jika tak mendengarkan omongan orang yang dia anggap percayai. Untung saja dia masih mau mendengarkan ucapan Doni, kalau tidak ya habis sudah.


Reno merasa tubuhnya sudah bugar, dia dengan percaya diri menemui Tenri yang sedang duduk di depan laptop di ruang kerjanya yang merangkap sebagai tempat les privat.

__ADS_1


"Tenri, bisa bicara sebentar?"


Tenri pun menghentikan aktifitasnya dan membalikkan kursinya ke arah Reno yang masih berdiri di ambang pintu.


"Masuk saja," jawab Tenri pendek.


Reno segera duduk di atas sebuah karpet dengan meja belajar di depannya, persis seorang murid les Tenri yang sedang minta diajari berhitung.


"Kenapa duduk di situ?"


"Tidak apa-apa, kita ngobrol di sini saja. Suasanya juga cukup bagus," jawabnya.


"Berapa usia kandungan kamu sekarang, Tenri?"


"Memasuki usia tujuh bulan, Daeng."


"Mengapa daeng menanyakan hal itu?"


"Apa tidak sebaiknya kita ke Makassar saja? Kita laksanakan tujuh bulanan di Makassar, bersama keluarga besar kita. Tentu mereka akan senang menanti kepulangan kita."


Begitu Tenri mendengar kata Makassar disebut, dia seperti ingin melompat rasanya. Namun dia menahan diri agar tetap kalem dan seolah berpikir bahwa di Makassar atau di Jakarta sama saja. Tenri terdiam beberapa menit untuk bisa menimpali ucapan Reno.


"Aku terserah daeng saja."


Ingatlah, bahwa kata terserah yang keluar dari mulut seorang wanita itu bermakna banyak. Sebuah kata yang maknanya selalu jadi misteri bagi laki-laki saat menghadapi seorang wanita yang sedang merajuk. Nikmati saja Reno.


"Baiklah, aku masih ada sedikit uang untuk membeli tiket kita berdua. Besok kita pulang ke Makassar, kita beri kejutan pada Bapak." Reno menyunggingkan senyumnya yang disambut ekspresi datar oleh Tenri. Dia pun serba salah, seakan apapun yang dilakukannya tak berarti apa-apa di mata Tenri. Kenyataannya adalah bahwa Tenri sangat senang cuma dia menutupi semua itu agar dia memberi sedikit pelajaran kepada suaminya yang tak tahu menyenangkan hati isteri itu. Haha.

__ADS_1


"Daeng saja yang atur, aku menurut apa katamu." Tenri membalas seraya mengusap perutnya yang sudah agak membuncit.


"Hei ... jagoan, kamu apa kabar di dalam sana? Kenalin, ini papa. Papa yang akan menjaga kamu dan akan menemani kamu main bola jika kamu sudah besar nanti. Papa sudah tak sabar menunggu kelahiranmu, jagoan."


"Dia seorang perempuan daeng, begitu kata dokter."


Reno mendongak melihat wajah Tenri dan semakin salah tingkah karenanya. Haha. Reno bahkan tak tahu jenis kelamin anaknya. Ckck.


"Tidak apa, mau perempuan mau laki-laki tidak masalah. Akan aku ajak dia main bola, iya kan sayang?" ucapnya lagi tak mau kalah padahal sudah kepalang malu. Dia mengelus perut buncit Tenri dan rasanya begitu menenangkan Tenri.


Lalu ekspresi wajah Reno kembali berubah mana kala tangannya yang masih menempel di perut Tenri seperti mendapat respon dari bayi kecil yang masih dalam perut itu.


"Tenri ... dia menendangku. Dia meresponku, apa dia tahu aku papanya kali ya?" Reno begitu gembira, saking gembiranya mendapatkan tendangan yang pertama, dia merentangkan tangannya hendak memeluk Tenri. Namun Tenri lekas berdiri, "aku mau memasak dulu untuk makan siang daeng."


Seketika kedua tangan Reno menggantung di udara dan silakan bayangkan sendiri bagaimana ekspresi Reno kala itu. Tenri berhasil mengerjai suaminya, karena setelahnya dia malah cekikikan seorang diri menuju dapur.


 


--------------------


 


Hehe, maaf hari ini telat up. Oh iya, jika kalian tidak keberatan maka Mak Ji sangat berharap kalian bisa membubuhkan like atau komen di akhir cerita ini. Terimakasih ya. TBC.


 


 

__ADS_1


__ADS_2