Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Kamu Memang Cantik


__ADS_3

Kekaguman Reno terhadap Tenri pertama kali terjadi hari itu, sejak Elsa dengan pongahnya melabrak Tenri. Namun isterinya itu sama sekali tak terpengaruh, meski Elsa sudah bertampang mengintimidasi atau bahkan sudah siap menghajar Tenri.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reno. Bentuk perhatian yang mungkin bagi sebagian orang itu tak berarti apa-apa namun bagi Tenri itu adalah hal yang besar dan luar biasa.


"Aku baik, daeng. Tidak usah khawatir, aku sudah menghadapi banyak karakter dalam hidup aku selama menjadi guru. Karakter seperti Elsa hanya perlu mendapatkan sedikit kesombongan agar dia dapat melihat ke dalam dirinya bahwa bukan cuma dia yang bisa sombong di hadapan orang lain."


"Tapi Elsa bukan murid kamu, Tenri. Dia itu nekad, dia bisa melakukan apa saja jika sudah emosional."


"Aku percaya daeng tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Daeng akan menjagaku dari perbuatan Elsa yang seperti itu."


Reno terdiam, tatapan Tenri yang penuh harap padanya membuatnya sedikit sadar bahwa sekarang dia bukan pria lajang lagi. Dia punya tanggung jawab dan orang yang harus selalu dijaga dan dikasihinya. Persoalannya adalah Reno belum mencintai Tenri.


Belum bukan berarti tidak bisa, bukan? Semoga suatu saat nanti Reno akan sadar bahwa Tenri adalah orang yang patut dicintai dan dipertahankan.


"Aku akan berusaha."


"Terimakasih, daeng. Begitu saja sudah membuat hatiku tenang." Tenri tersenyum pada Reno.


'Sesulit inikah aku harus berjuang mendapatkan cinta dan kasih sayangmu, daeng? Namun, jangan panggil namaku Tenri jika aku tidak berusaha sekuat tenaga. Aku perempuan suku Makassar, tak akan gentar walau harus berdarah-darah.' Tenri berucap dalam hatinya.

__ADS_1


Begitu inginnya dia menjaga amanah kedua orangtuanya. Saling mengasihi satu sama lain, sebagai suami dan isteri. Tanpa ada seseorang yang lain dan meruntuhkan bangunan rumah tangga yang susah payah dia bangun.


Tenri diajak berkeliling ke bengkel-bengkel cabang milik Reno, diperkenalkan kepada seluruh karyawan sebagai isteri dari Reno Premadi. Orang-orang pun ikut bahagia atas kabar baik tersebut, sekarang tak ada lagi yang mengira kalau bos bengkel tersebut masih lajang.


"Isteri bapak cantik dan kelihatan aura kelembutan dan keibuannya. Segeralah pak memikili momongan, hehe." Ucapan koleganya itu disambut tawa oleh beberapa orang yang ada di tempat tersebut.


Tenri tersipu malu, sekaligus merasa iba pada dirinya sendiri. Siapa yang tahu kalau isteri cantik Reno ini ternyata masih perawan, dianggurkan begitu lama oleh Reno.


Banyak obrolan seputar rumah tangga yang dibahas ketika mereka berkumpul, Tenri jadi belajar mengenali karakter Reno yang lain ketika berhadapan dengan karyawan, kolega, dan juga teman-temannya.


Pukul enam sore, mereka pun bersiap pulang ke rumah. Namun, Reno teringat sesuatu dan menanyakan pada Tenri apakah dia bersedia atau tidak.


"Kita langsung pulang atau sekalian makan dulu?"


"Baiklah, kita makan dulu ya. Kita kan belum pernah dinner berdua, biarkan aku melakukannya sekali ini untukmu."


Hati Tenri membuncah senang, wajahnya berseri meski sebenarnya dia juga kelelahan seharian menemani Reno keliling. Reno memilih restoran Jepang, dia memang termasuk penyuka makanan Jepang sejak dulu.


Mereka duduk berhadapan di mana di tengah-tengahnya berpendar cahaya lilin membuat suasana di sekitarnya sedikit temaram. Memberi kesan romantis dan juga manis.

__ADS_1


Tenri belum pernah merasakan makan malam dengan suasana seperti itu. Seorang pelayan menghampiri mereka dan membawa menu makanan. Rupanya saat diperjalanan Reno sudah memesan salah satu tempat di resto itu dan meminta agar semuanya sudah disiapkan sebelum kedatangannya.


"Terimakasih," ucap Reno begitu pelayan itu selesai.


Sang pelayan menunduk hormat dengan nampan yang ditangkupkan ke dada.


"Sejak kapan kamu memesan ini semua?" tanya Tenri penasaran.


"Gampang, semua bisa diatur. Sekarang makanlah."


Reno melirik kecil ke arah Tenri, yang dilihat malah jadi malu-malu dan grogi. Bagi Tenri, hari ini adalah hari yang luar biasa karena menghabiskannya berdua dengan Reno. Maka tak ada hal yang lebih bermakna daripada menghabiskan waktu bersama.


Pria di depan Tenri itu berubah sedikit demi sedikit, tangannya yang sejak tadi di atas meja perlahan bergerak meraih tangan Tenri. Dengan spontan jemari Tenri dia letakkan di depan bibirnya dan menciumnya.


Tenri merasakan getaran dan seperti tersengat aliran listrik tapi dia tak terbakar. Dia malah merasa ini sesuatu yang membuatnya senang. Dia sama sekali tak menyangka kalau Reno melakukan itu untuknya.


"Maafkan aku untuk hari ini, lain kali aku tak akan membiarkan Elsa menganggumu lagi."


"Terimakasih, daeng."

__ADS_1


Usai makan, mereka berdua pun pulang. Reno menyetir dengan hati-hati karena sesaat kemudian Reno menoleh ke arah Tenri, wanita itu malah sudah tertidur dengan pulasnya. Reno berhenti di pinggir jalan dan memperbaiki kepala Tenri yang terlalu miring, mengganjalnya dengan bantal kecil yang ada di mobil tersebut.


'Kamu memang cantik, Tenri. Aku akan berusaha untuk memberikan hatiku padamu.' ucap Reno yang menatap Tenri dari wajah yang sangat dekat.


__ADS_2