
Semua orang berbondong-bondong mengantar ibu Reno ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tempatnya tak jauh dari rumahnya, masih dalam satu kompleks perumahan.
Reno memakai kacamata hitam untuk menyamarkan kesedihannya saat ini. Tenri sedang bersama Olla, dibimbing jalan oleh sahabatnya itu. Meskipun sebenarnya dia tahu mata orang-orang saat ini penuh tanya pada hubungan rumah tangga dia dan Reno.
Suasana berkabung itu masih sangat kental, apalagi ketika jasad ibunda Reno sudah mulai dimasukkan ke dalam liang lahat. Bapak Reno tampak mencoba untuk tabah menerima belahan hatinya itu tertanam di dalam tanah.
Reno tertunduk di samping pusara ibunya saat proses pemakaman itu telah selesai. Beberapa orang sudah mulai beranjak pulang, yang tersisa hanya keluarga besar. Tenri ikut memegangi papan nisan milik ibu mertuanya itu. Melafaskan doa untuk keselamatan dan semoga diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
"Ibu ... maafkan Reno ya, ibu tak sempat berada di sisi ibu disaat terakhir. Reno adalah anak yang paling durhaka kepadamu. Maafkan Reno, Ibu ...."
Tenri merapikan kerudungnya yang hampir terlepas dari kepalanya, dia juga ikut terpukul atas kejadian ini. Padahal seandainya ibu mertuanya itu masih hidup, dia bisa bertanya apapun tentang Reno yang sekarang menjadi suaminya. Namun semua itu tinggal rencana yang tak akan pernah terwujud.
"Sudah, Ren. Biarkan ibumu tenang di alam sana. Dia pasti memahami, memaklumi dan juga memaafkan dirimu. Tugasnya telah selesai, dia bisa melihatmu menikah dengan Tenri adalah hal yang paling diimpikannya. Sekarang kalian telah bersatu maka tak perlu lagi dia merisaukan mengenai kalian berdua. Sebaiknya kita pulang dan persiapkan untuk malam takziah ibumu." Bapaknya mencoba menenangkan hati Reno, dia teramat bijak menghadapi sebuah persoalan.
"Biarkan Reno di sini sebentar lagi, Pak. Kalian semua bisa pulang duluan."
Reno menatap bapaknya, lalu melirik ke arah Tenri.
"Olla, kamu pulang duluan saja. Biar aku yang menunggu daeng di sini."
Olla pun mengerti, dia pun pulang bersama pelayat lainnya dari keluarga Reno. Kini di atas pusara itu, tepatnya di sisi kiri dan kanan Reno dan Tenri berjongkok memegang nisan almarhum ibunya.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Reno tiba-tiba.
__ADS_1
"Daeng mau mereka curiga kepada kita kalau aku meninggalkan daeng di sini? Apa daeng tidak melihat tatapan orang-orang yang datang melayat tadi? Apa telinga daeng tuli tidak mendengar apa yang mereka bisik-bisikkan di belakang kita? Aku masih ingin memperbaiki semuanya daeng, aku tidak mau menjadi isteri yang durhaka dan membuat malu suami di depan orang banyak."
Reno tak dapat berkata-kata, dia diam menatap pusara ibunya. Dia memang selamanya tak akan bisa melawan Tenri dalam hal berbicara. Bagaimana pun posisi dia di sini adalah salah.
"Baiklah, jika daeng memang menginginkan untuk aku pulang juga maka aku pergi sekarang ...."
Tenri sudah berdiri hendak beranjak dari kompleks pekuburan itu.
"Duduklah, temani aku sebentar lagi di sini."
Tenri pun menuruti kemauan Reno, dia duduk dan menunggu sampai Reno selesai mendoakan ibunya. Beberapa menit kemudian, Reno berdiri dan bersiap untuk pergi.
Reno melangkah lebih dulu sebelum akhirnya Tenri ikut berjalan di belakang Reno. Selama mereka berjalan, keduanya diam seribu bahas. Diam bersama kalimat-kalimat yang tak sempat mereka ucapkan karena ego yang begitu tinggi.
"Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?" Olla yang saat itu berada di pintu dan ikut berjalan menuju kamar bersama Tenri.
"Tidak apa-apa, Olla. Hanya saja, memang rumah tangga kami sedang tidak baik-baik saja."
"Astaga ... pantas saja aku lihat Reno begitu acuh dan cuek kepadamu. Terkesan dingin dan tak peduli apapun. Apa yang sedang menggangu pikirannya, Tenri?"
"Entahlah aku juga tidak tahu, sikap dia berubah-ubah. Aku hanya berusaha mengikuti polanya, di samping aku terus belajar mengenal kepribadiannya."
"Tapi apa kamu bisa bertahan di sisi dia yang bersikap seperti itu padamu terus menerus?"
__ADS_1
"Aku isterinya, aku wanita yang dipilihkan orang tuanya, sudah sepantasnya aku melakukan yang terbaik untuk rumah tangga kami. Biarlah saat ini seperti ini dulu, sembari aku mencari cara agar Reno mau berubah. Bukan hanya untukku tapi juga untuk dirinya sendiri. Kalau ditanya lelah? Ya lelah, tapi itulah seorang isteri. Aku harus belajar banyak, membina sebuah rumah tangga memang tak mudah. Banyak godaan dan ujian yang datang. Karena itu aku harus berhasil melalui semuanya dan lulus ujian dari Tuhan."
"Terbuat dari apa hatimu, Tenri? Aku yakin Reno akan menyesali sikapnya yang dingin itu terhadapmu. Dia akan menyesal telah menyia-nyiakan waktu bersamamu."
"Terimakasih Olla, sudah menghiburku. Terimakasih karena kau selalu ada saat duka dan bahagiaku. Aku tak tahu lagi bagaimana harus mengungkapkannya padamu, kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki."
"Tentu saja aku harus ada di setiap keadaanmu, karena kamu juga bersikap sama kepadaku. Seandainya Reno dapat melihat kebaikan dan ketulusanmu, maka dia tak mungkin menyia-nyiakan dirimu. Kamu memang wanita tangguh yang kukenal, kamu luar biasa sabar. Aku bangga memiliki dirimu sebagai sahabat, Tenri."
"Doakan aku ya, Olla."
"Pasti."
Mereka berdua berpelukan dan diam-diam air mata Tenri berderai di wajahnya. Dia berusaha menyeka air mata itu saat mereka telah berhadapan langsung. Malah, Olla yang berusaha membantu menghapus air mata itu.
"Air mata ini kelak yang akan menjadi air mata bahagia untukmu. Kamu akan merasakan kebahagiaan lebih dari rasa sakit yang kamu alami."
"Insyallah."
Setelah ngobrol banyak, mereka pun keluar kamar dan bergabung dengan keluarga yang lain. Mempersiapkan malam Takziah yang nanti malam akan diselenggarakan.
Beberapa orang terlihat sibuk membuat undangan, beberapa kue dan makanan yang akan dibagikan kepada jamaah takziah yang hadir.
"Sini Tenri, duduk di sini."
__ADS_1
Seorang sepupu memanggilnya untuk duduk bersama memotong-motong sayuran yang nanti akan dimasak. Ekor mata Tenri sesekali melirik ke arah suaminya yang sedang serius berbicara dengan seseorang. .