
Tenri terbangun saat Reno sudah tak ada di tempat tidur. Dia melirik jam dan sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Tenri telat bangun, dia belum menyiapkan apapun untuk suaminya.
Dengan cepat Tenri turun dari tempat tidur hendak turun ke bawah. Namun matanya menangkap sebuah kertas yang tergeletak begitu saja di atas meja nakas.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin malam, aku juga minta maaf sudah tak percaya padamu, aku juga minta maaf atas semua rasa kecewamu. Ketahuilah, aku tidak pernah untuk sengaja melakukan itu. Aku memang belum mencintaimu, tapi bukan berarti suatu saat nanti aku tetap tak mencintaimu bukan? Kamu sedang belajar, aku pun sedang belajar, bisakah kita sama-sama belajar untuk rumah tangga kita?
Sekali lagi ... Maaf ..."
Tangan Tenri bergetar saat dia selesai membaca surat kecil itu. Air matanya mudah sekali terjatuh belakangan ini, dia mudah tersentuh hal-hal yang menyangkut rumah tangga mereka.
"Aku sudah memaafkan kamu Daeng, bahkan sebelum kamu minta maaf sekalipun."
Tenri meletakkan surat itu kembali, dia tak jadi turun ke bawah. Dia tahu suaminya sudah pergi ke kantor, maka dia pun ke kamar mandi saja untuk mandi barulah setelah itu dia turun ke lantai satu.
Reno dalam perjalanan ke kantor saat Tenri membaca suratnya. Pikirannya masih gamang saat Tenri bahkan belum berbicara padanya. Dia pun merasa masih malu untuk mengajak Tenri berbicara lebih dulu. Dia menyadari kesalahannya dan mengutuk dirinya sendiri karena tak menjadikan istrinya sebagai prioritas utama.
Mengingat kembali kejadian di malam pesta itu, Reno merasa perlu tahu kebenarannya. Dia pun berbalik ke gedung tempat pesta itu dilaksanakan. Dia merasa perlu ke bagian IT untuk melihat rekaman CCTV saat malam pesta itu berlangsung.
"Selamat pagi, saya Reno Premadi. Saya salah satu tamu di pesta Tuan Charlie malam itu. Kemudian ada kejadian penusukan, apa bisa aku melihat rekaman CCTV saat kejadian berlangsung?" ucap Reno tanpa basa basi pada wanita berpostur tegap dan cantik yang biasanya disebut resepsionis.
"Sebentar ya, Pak. Saya akan tanya ke bagian IT dulu, jika dari sana membolehkan maka bapak akan saya antar ke ruangan mereka."
"Baik, saya tunggu."
Sang resepsionis pun menelepon ke bagian IT, mereka ngobrol dan menyampaikan bahwa ada seseorang yang ingin melihat rekaman CCTV saat malam pesta Tuan Charlie.
Setelah berbicara kurang lebih satu menit, resepsionis itu pun memanggil Reno.
__ADS_1
"Pak Reno Premadi, bapak silakan ikut saya untuk ke ruangan IT. Mereka akan membantu bapak melihat rekaman yang bapak inginkan."
Tiba di ruang IT, Reno berkenalan dengan tenaga IT di sana. Mereka sopan dan ramah, bahkan tanpa diminta, mereka langsung menunjukkan rekaman malam itu.
"Silakan, Pak. Ini rekaman saat malam di mana Tuan Charlie melangsungkan pesta pernikahan anaknya."
Reno dengan cermat mengamati pergerakan di video tersebut. Sampai saat matanya menangkap sosok Elsa yang menarik Tenri ke tempat sunyi. Tenri sempat melakukan perlawanan dan di situlah semua fakta terungkap. Elsa yang memegang gunting hendak menggunting gaun Tenri, Tenri melawan dan akhirnya gunting tersebut malah mencederai Elsa. Lalu dia yang berteriak paling kencang seolah semua kejadian itu Tenri yang bersalah.
Reno menutup mulutnya tak percaya, dia sudah kemakan hasutan Elsa. Tenri benar, percuma dia cerita karena suaminya tak akan percaya. Dia sudah terlanjur menolong Elsa itu artinya dia lebih percaya pada Elsa ketimbang dirinya.
Dia ingat lagi pertengkarannya dengan Tenri beberapa hari yang lalu. Mata Reno memanas, antara emosi dan juga merasa bersalah besar pada isterinya.
"Pak, bisakah aku meminta rekaman CCTV ini?" tanya Reno pada petugasnya.
"Bisa, Pak. Kami akan kirim ke bapak."
"Terimakasih atas bantuannya, Pak. Rekaman ini sangat berarti."
"Sama-sama, Pak. Senang bisa membantu."
Reno kemudian meninggalkan gedung tersebut dan saat itu juga menemui Elsa di apartemennya. Kelihatan dengan jelas amarah yang tergambar dari wajahnya. Dia ingin sekali memberi pelajaran pada Elsa.
Dia menyetir bagai kesetanan, dia menyalip dengan cepat hanya agar dia bisa segera sampai di tempat Elsa. Mobil Reno telah memasuki area Apartemen. Dia turun dari mobil dengan tergesa-gesa, segera dia menaiki lift dan memencet nomor lantai apartemen Elsa.
Pintu lift terbuka, dia sudah berada di depan pintu apartemen wanita itu. Reno memencet bel berkali-kali dan terkesan tak sabar. Setelahnya Elsa muncul dengan wajah sumringah melihat siapa yang datang.
"Aku percaya kamu pasti akan datang, Ren." Elsa hendak memeluk Reno. Namun pria itu langsung menerobos masuk dan melempar Elsa ke sofa.
__ADS_1
"Kamu sudah bohong sama aku, kamu memfitnah Tenri, menuduh kalau dia yang membawanya gunting untuk menikam kamu. Nyatanya apa? Kamu yang mau melakukan itu semua pada Tenri. Apa sih yang ada di otak kamu, El?"
"Kamu tanya apa yang ada di otak aku?" teriak Elsa. "Yang ada di kepala dan otak aku adalah membuat kalian berdua tidak bahagia atau kalau perlu wanita yang merebut kamu dariku itu mati saja dan menghilang dari muka bumi ini." lanjut Elsa.
"Keterlaluan kamu, Elsa. Kamu tidak berhak mengatur-atur apakah aku bahagia atau tidak bersama Tenri. Aku benar-benar tidak percaya kamu bisa melakukan hal sehina ini. Mulai sekarang, jangan pernah temui aku lagi. Jangan menghubungi aku dan juga mengganggu kehidupan aku bersama Tenri. Camkan itu!" Reno menunjuk tepat di depan wajah Elsa yang hendak berdiri dan mencegah agar Reno tak pergi.
"Please ... Reno! Kumohon jangan pergi, jangan tinggalin aku."
"Kamu pantas untuk ditinggalkan Elsa. Hati kamu bahkan lebih busuk dari penjahat sekalipun."
"Reno ...." panggil Elsa berusaha menghentikan Reno yang hendak menuju pintu dan meninggalkan apartemen.
"Renooo .... Aarrkhhh hu hu ... hu hu ...."
Reno tidak peduli lagi, dia tak peduli pada tangisan Elsa yang meraung-raung memanggilnya. Satu-satunya hal yang ada di kepalanya adalah bagaimana cara dia meminta maaf pada Tenri.
Mobil Reno melaju kencang menuju rumahnya, dia ingin segera bertemu Tenri dan memeluk wanita itu. Perasaan bersalah begitu besar di dalam hatinya. Dia tidak ingin Tenri terus menyimpan kekecewaan pada dirinya.
'Maafkan aku Tenri, aku sudah salah kepadamu. Tunggu aku, aku akan segera sampai.'
Ciiiiittt ....
Suara ban mobil berdecit, berhenti di depan rumah Reno. Pria itu turun dari mobil dan segera mencari Tenri di dalam rumahnya. Karena tidak dia temui di ruang tamu, dia segera ke dapur. Di sana dia melihat isterinya sedang bercengkrama dengan Bi Surti sambil memasak.
Tanpa pikir lama lagi, Reno memeluk Tenri dari belakang. "Maafkan aku, Ndik."
Tenri juga Bi Surti kaget dengan kedatangan Reno yang tiba-tiba. Apalagi langsung memeluk seperti itu.
__ADS_1