Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Semua Salahku ...


__ADS_3

Doni tanpa pikir panjang langsung pergi menemui Reno di apartemen Elsa. Dia yakin sekali bos sekaligus sahabatnya itu ada di sana. Jika ada orang yang paling cemas dengan karir Reno sebagai pengusaha selain Tenri, maka Doni adalah orangnya.


Seumur hidup dia kenal dengan Reno, pria itu sama sekali belum pernah se-toledor ini menyerahkan bisnisnya kepada orang lain. Doni sebenarnya tahu kalau Reno sudah menjual seluruh aset beserta bengkelnya. Hanya saja, setahu dia semua aset itu dijual kepada orang bernama Rama. Namun nama berbeda ditemukan pada selembar bukti jual beli yang dia terima.


Doni memacu pedal gas mobilnya dengan cepat, dia sudah tak sabar untuk mengetahui kebenarannya.


"Gila, benar-benar gila si Reno itu. Kalau sampai akta jual beli itu benar, maka habislah dia." Kekesalan Doni dia limpahkan ke setir mobil di depannya.


Sampai akhirnya dia tiba di apartemen Elsa, dengan cepat dia menuju lift dan memencet nomor apartemen wanita itu. Dia berkali-kali mengumpat dalam hati karena dia merasa waktu berjalan begitu lamban.


Ting ....


Akhirnya dia sampai juga, dia mengetuk pintu apartemen Elsa dengan tak sabar. Sampai-sampai dia sempat menggedor pintu apartemen itu beberapa kali karena Elsa tak juga membukanya.


Saat ketukan terakhir, sosok Elsa pun menyembul di balik pintu dengan pakaian serba minim. Rambutnya sangat berantakan hingga Doni pun mengambil kesimpulan sendiri bahwa dia benar sedang bersama Reno di dalam sana.


"Reno mana?" tanya Doni tanpa ba bi bu. Lalu menerobos masuk tak menghiraukan Elsa yang berdiri di ambang pintu melarangnya untuk masuk.


"Reno ...."


"Doni ...." teriak Elsa. "Apa-apaan sih kamu? Masuk apartemen orang main nyelonong saja."


"Sial! Kamu beneran di sini? Emang nggak ngotak kamu, Ren. Isteri kamu di rumah cemas mikirin kamu, sementara kamu di sini sedang bersenang-senang dengan Elsa? Gila kamu, Ren! Gila!" maki Doni di depan wajah Reno yang masih berbaring di tempat tidur.


Reno menyulut sebatang rokok seakan tak peduli dengan makian Doni.


Doni melempar sebuah berkas yang dia bawa dalam tangannya, mengenai wajah Reno dan rokoknya pun terjatuh. Reno menatap tajam dan marah ke arah Doni.


"Kamu kenapa sih? Sudah tidak punya etika main masuk apartemen orang, sekarang kamu malah melempari aku barang kayak beginian. Yang nggak ngotak, aku apa kamu sih?"


"Buka dokumen itu dan baca sejelas-jelasnya, buka mata kamu lebar-lebar Ren."


Pada akhirnya Reno membuka dokumen itu dan membacanya. Alangkah terkejutnya dia karena semua aset itu terjual bukan atas nama dia sebagai penjual. Tapi atas nama Rama kepada seseorang bernama Mr. Jiang.

__ADS_1


"Dari mana kamu dapat surat ini, Don?"


"Seseorang mengantarkannya ke bengkel satunya, aku kebetulan ada di sana. Semua bengkel kamu diminta tutup saat itu juga. Siapa itu Mr. Jiang?"


"Tunggu! Aku harus menghubungi Rama."


Dia pun meraih ponselnya dan mulai mengaktifkannya. Dengan cepat dia mencari nama Rama di daftar kontaknya. Namun setelah dihubungi nomor itu sudah tidak aktif lagi. Padahal sisa pembayaran atas semua aset itu masih ditahan oleh Rama. Rama baru memberinya setengah dengan perjanjian kerjasama berupa pembukaan showroom mobil yang akan dibuka pekan depan nanti.


"Arrgh ... sial! Nomor Rama tidak aktif." Reno berteriak di depan Doni.


Sekarang Doni mulai paham, kalau Rama benar-benar telah menipunya. Semudah itu, seorang Reno dihancurkan oleh orang bernama Rama. Padahal dia telah diperingati sebelumnya.


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Aku tidak tahu."


"Selamat kamu menjadi gembel sekarang. Maaf jika kata-kataku itu menyinggung dirimu, tapi itulah kenyataannya Ren. Kamu sudah menghancurkan karir bisnismu sendiri."


"Apa yang terjadi?" tanya Elsa yang sejak tadi sebenarnya telah menguping pembicaraan mereka.


"Jadi? Bukannya aku sudah bilang sama kamu, Ren. Dia itu berbahaya, dia bukan rekan bisnis yang baik. Terus Bagaimana sekarang?"


Reno segera mengambil pakaiannya yang bergeletakan di lantai. Doni hanya bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan Reno yang sudah menjual semuanya.


Sesudah itu, Reno dan Doni pergi dari apartemen Elsa. Tanpa menghiraukan perempuan itu, meski dia terus memanggil nama Reno.


***


"Aku harus ke Australia sekarang." Reno baru saja pulang ke rumahnya dalam keadaan berantakan dan Tenri baru saja selesai merapikan tempat tidur.


"Ada apa?"


"Aku harus bertemu Rama."

__ADS_1


"Memangnya kamu tahu dia tinggal di mana di Australia?"


Saat itulah Reno baru tersadar, kalau dia sama sekali tak tahu info apapun tentang Rama. Saat kerjasama itu berlangsung dia seperti orang yang sedang dihipnotis, mengiyakan segala perkataan Rama tanpa membantah satu katapun.


"Aku tidak tahu."


"Daeng ... sudah cukup! Jika kamu tak berpikir jernih lebih dulu sebelum melakukan sesuatu maka apapun yang ada padamu akan habis percuma."


"Tahu apa kamu soal Bisnisku?"


"Aku memang tidak tahu apa-apa, minimal aku sudah mengingatkanmu, daeng."


"Kalau bukan karena kehadiranmu dan aku menikahi dirimu, mungkin keadaan aku tidak akan seperti ini sekarang. Benar kata Elsa, kamu ini wanita pembawa sial. Pertama usahaku kebakaran, kedua ibuku meninggal, sekarang semua usahaku hancur tak tersisa."


Tenri terkejut mendengar setiap perkataan Reno, dia tak menyangka bahkan suaminya sendiri mengakui setiap tuduhan Elsa padanya. Tak terbilang lagi bagaimana rasa sakit yang dirasakan Tenri saat ini.


"Jadi semua karena aku? Semua musibah yang terjadi dalam hidup daeng itu karena daeng menikahiku? Berarti daeng tidak percaya pada kehendak Tuhan, Tuhan yang mengatur semuanya tapi daeng malah melimpahkan tuduhan kejam itu padaku. Daeng benar-benar keterlaluan!"


Tenri kembali menangis. Dia sudah ada pada puncak kesedihannya. Berulang kali dituduh untuk hal yang tak pernah dilakukannya. Bagaimana dia tak terpukul atas semua itu.


Reno bahkan tak merasa bersalah, tak merasa berdosa untuk semua perkataan yang keluar dari mulutnya dan juga untuk semua tindakan yang dia lakukan tanpa pertimbangan yang matang. Dia pun tetap ngotot ingin pergi ke Australia, mencari keberadaan orang yang bernama Rama itu.


"Hu ... hu ... hu ...."


Tangis Tenri pecah, dia lepaskan semua beban hidupnya sendirian. Bi Surti mendengar suara Isak tangis Tenri dan segera mendatangi majikan yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.


"Bu ... apa yang terjadi?"


Tenri hanya menggeleng. Dia bahkan tak sanggup lagi untuk bercerita mengenai permasalahan rumah tangganya yang semakin hari semakin runyam.


"Semua ini karena ku, Bi. Semua musibah yang datang pada suamiku disebabkan olehku. Ya, biar aku saja yang salah dalam hal ini. Aku sudah cukup sakit dengan semua tuduhannya, Bi."


"Bu, tetap bersabar ya Bu. Meskipun kedengarannya sangat klise, tapi tidak ada yang bisa ibu lakukan kecuali bersabar. Atau Ibu mau menyerah? Jangan, Bu. Jangan lakukan itu, kasian bapak."

__ADS_1


Saat ini, Tenri tak bisa berpikir lagi. Dia hanya kasihan pada janin yang sedang dikandungnya itu.


__ADS_2