
Sampai di klinik, mereka langsung mendaftar dan menunggu antrian. Reno sudah tak sabar ingin dipanggil lebih dulu, dia tak terbiasa dengan aroma obat-obatan apalagi di sisi kiri kanannya berjejer ibu-ibu hamil yang sedang menunggu giliran untuk dipanggil.
Sementara Tenri terus berdoa, dia gugup tiap kali harus bertemu Daffa. Terlebih ketika Daffa menatapnya, tatapan laki-laki itu tetap sama ketika mereka masih kuliah, saat Daffa yang tengah tergila-gila padanya. Menurut Tenri itu hal yang tidak lazim, harusnya Daffa bisa menjaga pandangannya bukannya malah menatap Tenri terus menerus saat ada kesempatan.
"Ibu Tenri ...." panggilan seorang suster mengejutkan mereka yang sedang duduk saling diam.
"Saya, Sust."
Reno ikut berdiri begitu Tenri berdiri dari tempat duduknya seraya mengambil tas selempang yang dibawanya.
"Daeng, temani aku masuk." Ajak Tenri pada suaminya.
"Tidak, aku menunggu di luar saja."
"Tidak, Daeng tetap harus ikut masuk. Aturannya memang seperti itu, tiap suami yang menemani isterinya kontrol kandungan maka sang suami harus mendampinginya karena terkadang dokter akan menanyai sang suami juga." Tenri menjawab dengan memaksa. Entah apakah kali ini akan berhasil atau tidak.
"Kenapa tidak sendiri saja si? Aku mau ngerokok."
"Eehh ... di sini dilarang merokok. Bisa diusir nanti daeng sama satpam di sini, sudah tahu yang berjejer di sini itu ibu-ibu hamil semua, tidak diperbolehkan merokok."
"Ibu Tenri ...." panggil suster lagi karena Tenri terlihat masih membujuk Reno.
"Ayo masuk ... itu sudah dua kali dipanggil susternya. Daeng, tidak malu apa dilihatin sama ibu-ibu itu?" bisiknya pada Daeng yang tak ubahnya hasutan karena semenit kemudian mata para ibu hamil memang langsung menatapnya seakan tak suka. Haha.
"Ya sudah ayok masuk, kamu ini."
Walaupun kelihatannya Reno tidak suka, tapi kali ini dia menurut saja pada keinginan Tenri. Isterinya itu pun merasa puas karena berhasil membujuk suaminya. Padahal sebelumnya mana mau Reno, mungkin juga karena pandangan ibu-ibu itu sudah agak mengganggu dirinya. Hihi.
"Silakan masuk, Pak, Bu." ucap sang suster seraya membuka pintu untuk mereka berdua.
Begitu masuk, Reno udah malas duluan. Tapi karena mata dia langsung menangkap sosok Daffa, dia pun tak jadi merasa malas.
"Daffa ...."
"Reno ...."
__ADS_1
"Kamu seorang dokter? Kok tidak pernah cerita?" tanya Reno.
"Iyah, waktu itu kan emang kamu nggak pernah nanya mengenai profesi aku, Ren. Wahh ... suami siaga nih, tumben banget temani isteri kamu buat kontrol. Memangnya ada apa?"
"Tadi pagi aku mual muntah sampai lemas, Dok. Makanya ke sini buat mastiin apa kondisiku baik-baik saja atau tidak, juga dengan kondisi janin aku."
"Coba aku periksa sebentar, silakan berbaring di sana." Daffa mempersilakan Tenri untuk berbaring di atas brankar pemeriksaan yang tersedia di sana.
Reno tampak menengok aktivitas yang dilakukan Daffa pada Tenri, Saat Tenri mengangkat sedikit bajunya di bagian perut, Reno malah teriak.
"Eh, kalian mau ngapain? Kok pakai buka baju segala?"
Daffa yang saat itu hendak mengoleskan cairan untuk keperluan mengetahui kondisi janin, langsung berhenti begitu saja karena teriakan Reno. Sedangkan Tenri yang saat itu terbaring langsung bangun lagi dan duduk di atas brankar.
"Ren, tenang dulu ...." ucap Daffa yang saat itu langsung maju dan menarik turun baju Tenri.
Tenri yang menyadari hal itu tentu saja ingin tertawa karena ekpresi Reno yang lugu dan bahkan tak tahu sama sekali prosedur pemeriksaan.
"Apanya yang tenang? Dia buka baju, jelaslah aku marah, aku suaminya kok."
Maka senyum Tenri pun mengembang lebar di wajahnya. "Daeng, tenang dulu. Jadi dokter Daffa ini akan memeriksa kondisi janinnya. Janinnya ada di mana?"
"Nah itu dia, makanya harus angkat bagian baju agak ke atas sedikit."
"Kok gitu sih?"
"Ya emang begitu, Ren. Makanya kamu ini harus terbiasa menemani isteri kamu kontrol kayak begini biar kamu tahu hal-hal medis mengenai kehamilan."
"Tenri, kita pindah dokter saja. Tidak usah dokter laki-laki. Daffa, sorry ya aku harus bawa Tenri pindah ke dokter lain saja."
Tanpa tedeng aling atau sekedar menunggu jawaban dari Daffa, Reno menarik tangan Tenri begitu saja dan mengajaknya keluar dari ruangan Daffa.
"Ren ... Reno ...!" panggil Daffa namun tak dihiraukan lagi oleh Reno. Seketika mereka pun menjadi pusat perhatian karena membuat sedikit keributan. Daffa sampai keluar ruangan untuk mengejar Tenri yang terlanjur dibawa pergi Reno. Ada tersirat rasa kecewa di wajah Daffa, itu artinya dia tak akan bisa ngobrol atau ketemu Tenri lagi. Padahal dia berharap Tenri tetap menjadi pasiennya sampai melahirkan nanti.
***
__ADS_1
Sampai di mobil, Tenri pun duduk tak tahu harus berkata apa lagi. Di sisi lain dia sebenarnya senang jika harus pindah dokter, itu artinya dia dapat terhindar dari Daffa. Di sisi lain, dia juga merasa tidak enak pada Daffa karena sejak awal Tenri memang periksa ke klinik dia. Selain itu, ada hal yang membuat Tenri lebih dari senang, Reno ternyata memiliki rasa cemburu yang cukup besar. Bahkan dia tak membiarkan Daffa untuk menyentuh Tenri sama sekali.
Padahal dia bisa saja legowo, apalagi mereka ini sahabat lama yang cukup dekat. Namun, Reno ternyata masih lebih mementingkan bahwa Tenri adalah isterinya maka tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali dirinya sendiri.
"Daeng apa-apaan sih, apa tidak kasihan pada Daffa? Dia kehilangan satu pasien karena daeng."
"Biarkan saja, aku tidak suka melihatnya. Masa iya kamu harus disentuh-sentuh sama laki-laki sih. Kan dia bukan muhrim kamu."
Sampai di sini alis Tenri jadi melengkung, sok agamis nih Reno, padahal dia saja bebas bergaul sama Elsa secara terang-terangan tanpa minta maaf pula sama Tenri. Minta disambel ini emang si Reno. Sekarang malah ngomongin muhrim, kemarin-kemarin ke mana saja saat tidur dengan Tenri? Ah, emosi.
"Jadi sekarang kita ke mana?" tanya Tenri.
"Cari dokter kandungan yang berjenis kelamin perempuan, jangan laki-laki lagi."
"Ya sudah, hari ini kita pulang dulu saja. Cari dokternya di rumah saja, aku capek daeng."
"Baiklah, kita balik arah."
"Daeng yang cari dokternya, aku harus menyiapkan materi bimbingan belajar nantinya."
"Kok aku?"
"Yang minta ganti dokter siapa?"
"Aku."
"Ya berarti daeng yang bertanggung jawab mencarikan dokter."
Tenri memang pintar bernegoisasi, secara tidak langsung dia sudah menjerumuskan suaminya untuk terlibat secara langsung dengan kehamilannya kini. Dengan begitu, Reno akan memiliki sedikit tanggung jawab pada calon anak dan isterinya.
Tenri dapat bernapas lega, meski sepanjang jalan mereka terus berdebat untuk hal-hal kecil. Termasuk membahas apa yang harus mereka katakan saat sampai di rumah ketika bapaknya bertanya hal-hal yang menyangkut hubungan mereka. Reno mendadak menjadi manusia yang paling malas mikir sejak jatuhnya perusahaan dia dan juga menjadi awal bagi kebangkrutannya.
__ADS_1