
Sejak tiba di Jakarta, sampai hari ini Tenri sudah terbiasa ditinggal sendiri di rumah oleh Reno. Pelan-pelan tapi pasti dia tak lagi merasa kesepian, dia menyibukkan diri dengan banyak hal. Di antaranya mencoba resep baru. Kebetulan kemarin dia sempat berbelanja di supermarket dan Reno sama sekali tak tahu akan hal itu.
Seperti hari ini, Tenri sedang berjibaku di dapur untuk membuat Coto Makassar. Dia ingin membuatkan Reno seperti Coto yang sering dibuat oleh ibu Reno. Sibuk sekali Tenri di dapur, dia sangat serius dalam mengolah setiap bahan. Yang pertama kali dia bikin rasanya belum enak, masih kelebihan bumbu dan lainnya.
Sampai adzan Maghrib berkumandang, akhirnya Tenri selesai dengan kesibukan masak memasak yang dilakukannya sendirian. Dia ingin memberikan kejutan pada Reno, sepulang kerja pasti capek dan lapar. Jadi dihidangkan makanan asal Makassar, Reno mungkin akan suka.
"Fiuuhh ... akhirnya selesai juga." Tenri bertepuk tangan dan langsung mencucinya di wastafel.
Dia puas dengan hasil masakannya hari ini, meskipun harusnya dia bikin ketupat juga tapi karena tidak ada daun kelapa muda, jadilah dia cuma bikin lontong.
"Sekarang tinggal menunggu Daeng pulang, semoga dia suka dengan masakanku."
Semua makanan yang sudah dia masak ditata sedemikian rupa di atas meja makan. Dia pun menunggu karena biasanya jam 6 Reno sudah pulang.
Mungkin karena kelelahan seharian berusaha membuat menu terbaik untuk suaminya, Tenri pun tak kuasa menahan rasa lelah dan ngantuk yang tiba-tiba menyerangnya. Tenri pun tertidur di atas meja dengan berbantal kedua lengannya untuk menyanggah wajahnya.
Reno tidak tahu sudah di mana, dia bahkan tak mengabari Tenri kalau dia akan segera pulang ke rumah. Tenri menunggu hingga tertidur, sementara Reno terlihat berada di salah satu bar sedang minum alkohol.
Doni yang sempat menghubungi Reno beberapa kali namun tak diangkat, menjadi khawatir dan segera mencari bosnya itu. Doni berasumsi tentang kondisi Reno yang berantakan karena banyak pikiran, dia pun tak salah memprediksi di mana Reno berada.
Tiba di bar tersebut, Doni sudah menemukan Reno dalam keadaan sempoyongan hendak berjalan keluar dari bar.
"Astaga, Reno. Kenapa jadi seperti ini?" ucap Doni yang langsung menangkap tubuh Reno yang nyaris terjatuh. Cara jalannya sudah terhuyung-huyung kayak daun tertiup angin. Untung saja tubuh Reno cepat ditangkap oleh Doni, kalau tidak mungkin pria itu sudah terkapar di lantai.
"Nga ... pain ... kamu di sini ... hah?" jawab Reno dengan bicara yang kurang jelas. Dia sudah mabuk sekali.
__ADS_1
Tanpa berkata-kata lagi, Doni langsung membawa Reno pergi. Doni menancap pedal gas mobilnya menuju rumah Reno saat dia berhasil membuat bosnya itu berada di dalam mobil. Reno tidur tengkurap di kursi belakang. posisinya sudah tidak jelas lagi.
Sampai di rumah Reno, Doni langsung membuka pintu sebab dia mendapati pintu rumah itu tak terkunci.
"Teledor sekali, kenapa pintunya dibiarkan tak terkunci begini si?" omel Doni yang tentu saja sebenarnya ditujukan pada Tenri, karena bisa saja orang lain menerobos masuk ke rumah itu jika dibiarkan tak terkunci seperti itu.
Mendengar suara pintu terbuka dan ada suara orang datang, Tenri pun tersadar dari tidurnya. Dia masih duduk di meja makan, dia kaget melihat jam karena sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Daeng ..., apa itu kau?" tanya Tenri pelan-pelan.
Tidak ada jawaban, tapi tubuh keduanya sudah nampak di depan mata Tenri.
"Astaga ... daeng! Daeng ... ada apa dengannya?" tanya Tenri khawatir karena Reno dibawa pulang dalam keadaan mabuk seperti itu.
Tenri mengangguk dan kemudian membantu Doni untuk memapah suaminya naik ke lantai dua menuju kamar mereka.
"Dia bau alkohol, apa dia mabuk?" tanya Tenri polos.
"Sepertinya begitu. Harusnya kamu tidak usah menunggu dia sampai tertidur di meja makan seperti itu."
"Tidak apa-apa, aku hanya melaksanakan tugasku sebagai isteri. Sudah jam berapa ini? Terimakasih sudah mengantarkan suamiku pulang."
"Sama-sama. Biarkan saja dia tertidur seperti itu, tidak usah bangunkan. Kamu juga sebaiknya istirahat. Aku pulang dulu, ya."
"Terimakasih, Pak. Eh maaf, nama Anda siapa?"
__ADS_1
"Doni. Saya asisten pribadi Pak Reno."
"Oh. Sekali lagi terimakasih."
Doni tak habis pikir dengan tingkah Reno belakangan ini. "Isteri cantik, pintar dan telaten begitu malah dibiarkan saja di rumah. Harusnya kan dia mengajak istrinya belanja, liburan bulan madu. Ini malah mabuk-mabukan tidak jelas."
Doni geleng kepala dan masuk ke mobilnya lalu pulang.
***
Tenri menatap Reno yang tertidur dengan posisi tengkurap dan dengkurannya yang terdengar. Ada pergolakan batin di dalam hati Tenri, dia menyalahkan dirinya atas kejadian ini dan kondisi Reno yang seperti sekarang. Dia merasa kalau suaminya seperti itu karena sebenarnya Reno tidak ingin menikah dengannya.
"Daeng, kalau memang ini karena pernikahan kita. Harusnya daeng bicara padaku saja, bahwa daeng tidak setuju. Minimal aku tahu posisi aku di rumah ini siapa." Tenri berbicara pada Reno yang sedang tidur.
"Aku tahu, mungkin kamu bahkan sudah memiliki hubungan dengan wanita lain. Hanya karena ingin menghormati orang tua kita dan juga ingin berbakti karena itu kamu mau menikah denganku, bukan? Tapi tidak seperti ini caranya, daeng. Harusnya kamu bicara bukannya lari ke minuman seperti ini."
Tenri menghapus bulir bulir kecil yang tanpa disadarinya sudah mengalir di kedua pipinya. Sudah beberapa hari ini dia gelisah, memikirkan pernikahannya, memikirkan suaminya yang sama sekali belum pernah menyentuh dirinya.
Tenri menarik selimut dan menutupi tubuh suaminya itu. Dia pun mengambil posisi tidur di samping suaminya. Tak memakai selimut dan berbaring memiringkan badan memunggungi suaminya.
Sekali lagi, dia hanya bisa menghapus air matanya dan berharap malam ini segera berlalu.
"Aku harus kuat, aku harus bisa, bahagia itu kan diciptakan bukan ditunggu. Aku harus bisa memenangkan hati daeng, bagaimana pun juga aku tidak akan pernah menyerah. Dalam suku Makassar perceraian tidak boleh terjadi, itu hal yang memalukan sekaligus memilukan."
Tenri berusaha menguatkan dirinya sendiri. Sembari berusaha agar matanya segera mau terpejam.
__ADS_1