
Reno terbangun dari tidurnya, dia melihat Tenri masih tertidur dengan sebelah tangannya masih tergenggam di tangan Reno. Reno merasa sudah lebih baik, dia melihat ke Tenri. Istrinya tidur dengan damai, mungkin setelah terjaga semalaman menjaga dirinya yang sedang demam. Sekarang demamnya sudah turun, dia pun tak lagi pucat.
"Terimakasih sudah menjagaku di saat sakit, tidak tahu sudah berapa banyak dosa yang aku lakukan padamu dan aku tidak tahu harus bagaimana membalasnya. Tenri, kamu sudah membuktikan padaku, bahwa kamu meski dengan kondisi kita yang seperti ini, kamu masih ada di sisiku. Aku terlalu bodoh untuk lebih cepat menyadari hal ini." Reno berucap lirih seraya satu tangannya menyentuh puncak kepala isterinya itu.
Tak lama kemudian, Tenri terbangun. Reno pura-pura kembali tidur. Dia hampir saja ketahuan sedang memandangi wajah cantik isterinya itu sejak tadi.
"Sudah pagi rupanya, aku tidur lama juga," ucap Tenri.
Dia segera menyentuh kening Reno untuk tahu apakah suaminya itu demamnya sudah turun atau tidak.
"Demamnya sudah turun, aku harus bikin bubur dulu supaya saat dia terbangun dia sudah bisa langsung sarapan." Tenri berjalan keluar kamar, diselingi ekor mata Reno yang terus mengikuti langkah wanita itu.
"Apa dia sama sekali tidak punya rasa benci terhadapku? Mengapa dia masih bisa bersikap biasa saja, melayani aku seperti tak ada yang terjadi. Aku sungguh dibuat sangat bersalah karena hal ini. Satu-satunya yang dia minta dari aku adalah jarak untuk pisah ranjang sementara. Bagiku seperti itu saja sudah sangat menyiksa. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menyentuhnya. Ya Tuhan, apakah sudah lama sekali?"
Setelah lama dia termenung, dia mengambil ponselnya. Menghubungi Doni, sahabatnya harus tahu mengenai kondisinya saat ini.
"Halo Don, maaf ya rasanya hari ini aku belum bisa masuk kantor deh. Semalam demamku sampai tinggi banget dan bikin menggigil. Sekarang sih udah mendingan. Untung ... ada Tenri."
"Kenapa memangnya?"
"Dia yang merawat aku selama sakit. Aku benar-benar malu dan bersalah padanya, Don."
"Sudah jangan dipikirkan lagi, yang penting kamu sudah sadar Ren, nggak lagi kehilangan jalan pulang. Haha."
"Iyah sih. Semoga aku bisa menaklukkan hati Tenri kelak."
"Harus bisa, karena kalau tidak, maka ada orang lain yang dengan senang hati akan memperjuangkan Tenri demi menjadi miliknya."
"Amit-amit, jangan sampai ya Tuhan."
__ADS_1
"Makanya. Kamu harus perjuangkan dia, Ren." .
"Yang berjuang tadi itu maksud kamu Daffa ya?"
"Siapa lagi coba yang mencintai Tenri lebih dari dirinya sendiri? Kamu pikir apa sampai Daffa kembali ke Jakarta? Dia hanya lari dari kenyataan, lari dari Tenri yang terus membayangi hidupnya."
"Apa se cinta itu dia pada isteriku?"
"Mikir aja sendiri, Ren. Haha ... aku sudah mengingatkan kamu. Segera perbaiki rumah tangga kamu, atau seseorang akan masuk dengan mudah dan merebut Tenri darimu."
"Sialan kamu Don, malah mendoakan yang nggak baik."
"Haha, bukan begitu. Daffa itu kan sahabat kita juga, aku nggak mau memihak siapapun, itu urusan kalian. Percintaan kalian sendiri, hahaha."
"Ya sudah, aku tutup ya."
"Jangan bergerak dulu, daeng masih belum sembuh. Bersandar saja di tempat tidur, aku bawa bubur untuk daeng makan."
Tatapan Tenri begitu tulus, bagaimana aku bisa tak melihat itu sejak awal?
Reno pun menuruti perintah Tenri, dia menunggu sampai Tenri duduk di sampingnya untuk menyuapinya makan.
"Daeng bisa makan sendiri, kan?" ujar Tenri yang meletakkan nampan makanan itu di atas meja nakas samping tempat tidur.
Hahaa ... Reno sudah kepedean bakal disuapin. Ngaca woii ...!
"Bisa. Aku biar makan sendiri."
Dipikirnya Tenri akan menyuapinya seperti bayi, padahal Tenri masih ada pekerjaan di dapur.
__ADS_1
"Habiskan makanannya daeng, aku akan kembali setelah pekerjaan di dapur selesai. Jika daeng butuh apa-apa, panggil saja."
Reno mengangguk dalam diam, sikap Tenri masih dingin terhadapnya. Dia seharusnya belum berandai terlalu jauh, dia mesti meyakinkan Tenri bahwa dia benar pantas bersama wanita itu.
Kasihan.
***
"Aku harus segera mencari cara, membuktikan pada Tenri bahwa aku memang tidak pernah tidur bersama Elsa. Itu cuma akal-akalan Elsa saja, dan semua bukti foto yang dikirim Elsa ke Tenri itu tidak seperti yang dibayangkan Tenri. Sialan memang wanita itu, mengambil gambar di saat aku masih tertidur dan seolah aku dan dia sudah tidur bersama. Awas kau, Elsa!"
Wajah Reno terlihat sangat serius, dia benar-benar marah pada Elsa yang membuat kondisi rumah tangganya semakin buruk. Elsa juga tidak akan melakukan itu kalau kamu tidak mendatanginya Reno. Di situ letak permasalahannya.
"Elsa ... kamu di mana?" tanya Reno kasar di telepon.
"Reno ... astaga sayangku, cintaku, ke mana saja kamu?" pekik Elsa kegirangan.
"Cih, dasar tidak tahu malu." batin Reno.
"Katakan saja kamu di mana? Aku ingin bertemu denganmu." Ucapan Reno terdengar tegas dan menakutkan.
"Temui saja aku di Klub punya Fajar. Jam 7 malam jangan sampai telat, aku sibuk." Elsa langsung menutup teleponnya setelah mengatakan itu.
"Sial! Dia menutup telponnya secara sepihak. Awas kau!" gerutu Reno kesal karena merasa sudah dipermainkan oleh Elsa.
Padahal kondisi dia belum terlalu baik, dia harus berpikir jernih jika mau menemui Elsa. Apalagi itu di klub yang notabene akan semakin membuat Reno terlihat jelek di mata Tenri jika dia ketahuan diam-diam menemui Elsa di sana. Bahkan mendengar nama klub saja, orang-orang akan berpikir macam-macam. Sebuah tempat yang penuh dengan godaan perbuatan dosa. Entahlah.
Reno sedang menimbang apakah dia akan pergi ke tempat itu lagi atau tidak. Namun jika dia tak pergi, kemungkinan dia tidak akan bisa membuat Elsa mengaku pada Tenri bahwa mereka berdua memang tidak pernah tidur bersama.
Berat sekali situasi tersebut, Reno nasibnya sedang berada di ujung tanduk.
__ADS_1