
Jatah liburan mereka terbilang singkat hanya tiga hari saja. Reno menghabiskan waktunya di laut, melakukan aktifitas snorkling, diving dan yang lain. Sampai-sampai kulitnya berubah warna karena terlalu lama terpapar sinar matahari.
Tenri lebih banyak memandangi pemandangan sekitar, sesekali ikut berenang bersama suaminya dan terakhir mereka barbeque-an di atas kapal. Suasana di kapal pesiar tersebut sangat ramai, beberapa yang juga ikut bersama di kapal itu merayakan hari terakhir mereka di sana.
Reno sebenarnya masih merasa kurang dengan liburan mereka kali itu, hanya saja kata Doni ada urusan mendesak yang membutuhkan kehadiran Reno.
"Sialan itu Doni, nggak bisa apa dia biarin gue senang dulu. Mentang-mentang jomblo, seenaknya mengatur ini itu." Ucapan bernada kesal itu justru membuat Tenri tertawa.
Walaupun memang waktu mereka di sana terasa benar-benar singkat. Dia saja serasa tak ingin meninggalkan Labuan Bajo dengan segala keindahan alamnya. Seandainya dia bisa memilih, mungkin ingin tinggal selamanya di sana.
"Sabar daeng, Pak Doni tidak mungkin memintamu pulang jika itu bukan hal yang mendesak untuk perusahaan. Anggap saja kita bisa merencanakan jadwal liburan lagi di lain waktu. Lagi pula aku rasa kita sudah cukup kok di sini."
Apa yang diucapkan Tenri barusan sebenarnya berbeda dengan yang dia rasakan. Tapi demi membuat hati suaminya tenang maka tak apa dia mengatakan hal itu.
"Maaf sayang, di sini kita cuma tiga hari. Lain kali kita bisa liburan sebulan penuh bila perlu. Hehe."
"Apa nggak terlalu berlebihan, daeng? Hehe."
"Kalau untuk menyenangkan hati isteriku yang cantik ini kenapa tidak?"
Hati Tenri terasa terbang di udara. Dia menyambut kecupan singkat suaminya. Kemudian mulai berbenah barang-barang untuk pulang ke Jakarta.
Dia mengemasi seluruh pakaian dan juga barang bawaan, saat bersamaan Doni menelpon lagi. Raut wajah suaminya tiba-tiba berubah. Tegang dan khawatir serta kalut, mungkin itulah yang dirasakannya. Tenri segera berhenti dari aktifitasnya dan mendekati Reno.
"Ada apa, Daeng?"
Belum ada jawaban dari Reno. Lamat-lamat didengar oleh Tenri suara Doni yang berteriak cemas dan ketakutan. Suasana yang tergambarkan dari suara dari telepon tersebut menyiratkan bahwa keadaan di sana sedang tak baik-baik saja.
"Daeng, ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa Doni berteriak-teriak? Kenapa begitu banyak orang dan teriakan?" Tenri sedikit memaksa.
__ADS_1
Reno menjatuhkan tangannya yang sedang memegang telepon dengan lesu. "Salah satu bengkel terbesar milik kita kebakaran."
"Astagfirullah ...." Tenri menutup mulutnya tak kuasa menahan rasa kagetnya.
"Bagaimana bisa, daeng?"
"Entahlah, belum ketahuan apa penyebabnya. Doni hanya mendapat kabar dari satpam yang berjaga di sana. Ayo cepat, kita harus segera ke Bandara."
Tenri pun berkemas dengan kilat, dia tahu perasaan suaminya pasti remuk. Apalagi itu adalah bengkel pertama yang dia dirikan. Akan meninggalkan banyak bekas kenangan semasa dia merintisnya.
Terkadang memang seperti itulah Tuhan memberikan ujiannya, di samping ujian kebahagiaan, ada ujian bernama kesedihan atas musibah.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk selesai berkemas dan segera berangkat ke Bandara. Perjalanan Reno kali ini terasa lebih lamban karena dia ingin segera sampai di Jakarta.
Dia terus menunggu kabar dari Doni dengan cemas. Info terakhir, armada pemadam sudah diturunkan dan segera melakukan pemadaman api. Tidak terhitung banyaknya kerugian yang harus ditanggung oleh Reno. Apalagi jika bengkel tersebut benar-benar hangus tak tersisa.
"Lebih cepat sedikit, Pak." Reno tampak sangat khawatir.
Tenri pun berusaha menenangkan suaminya dengan mengelus punggung tangan Reno.
"Pak, lebih cepat lagi." Reno lagi-lagi tak menghiraukan ucapan Tenri. Dia begitu ingin segera sampai di Jakarta.
Akhirnya Tenri hanya bisa memberi isyarat untuk menenangkan suaminya. Siapa yang tak khawatir jika usaha yang begitu lama dirintis tiba-tiba rata dengan tanah karena dilalap api.
***
Saat ini mereka sementara tengah di pesawat, berkali-kali Tenri harus memenangkan Reno.
"Bagaimana aku bisa tenang, Tenri. Itu usaha yang mati-matian aku rintis dengan hasil keringat sendiri. Bertahun-tahun aku membangunnya dan sekarang semuanya hancur seketika."
"Iyah daeng, Tenri paham bagaimana perasaanmu daeng. Sekarang, kita tenang dulu, sebentar lagi pesawat akan segera mendarat di Jakarta. Jadi tenang sedikit."
__ADS_1
Hanya itu upaya yang bisa dilakukan Tenri, sebab dia tak tahu menahu mengenai bisnis itu. Dia hanya tahu kalau memang Reno merintis usahanya dari jaman tidak punya apa-apa sampai akhirnya memiliki segalanya.
Deru pesawat menggemuruh saat hendak mendarat, Reno tertidur sebentar dan seketika kaget saat pesawat mengalami guncangan.
"Apa pesawatnya sudah mendarat?"
"Sudah daeng."
"Ayo Tenri, kita harus cepat."
"Iya daeng."
Seorang supir sudah datang menjemput mereka, dengan cepat mengambil koper dan tas yang dibawa oleh Reno. Reno masuk ke mobil diikuti Tenri yang tergesa.
"Bagaimana kondisi yang terbaru di sana, Pak?"
"Pemadam sudah bekerja keras, Pak. Namun tak ada yang bisa diselamatkan."
"Innalilahi ...." ucap Tenri pelan.
Reno mengusap wajahnya dan menjambak rambutnya karena frustasi. "Kalau begitu cepat, Pak. Kita harus segera sampai di sana."
"Baik, Pak."
Mobil melaju kencang, kondisi Reno semakin tak tenang. Tenri mengusap pelan bahu suaminya. Apa yang bisa dilakukannya selain menghibur suaminya itu?
Sejurus kemudian, saat mobil mulai membelah kerumunan, Reno segera turun dari mobil dan tampaklah pemandangan di depannya. Salah satu bengkel terbesarnya kini telah hangus, terbakar habis dan nyaris rata dengan tanah.
"Tak ada yang bisa diselamatkan, Pak." Wajah kecewa Doni terlihat jelas.
"Kami sudah berusaha dengan maksimal, tapi api terus membesar dan banyak barang meledak di sana. Di bengkel kita banyak material yang mudah terbakar, itu sebabnya api tak dapat dikendalikan." Lapor seseorang yang mungkin karyawan Reno juga.
__ADS_1
Tenri hanya bisa menatap nanar pada bangunan yang sepenuhnya sudah hangus. Dia merangkul tangan suaminya yang tertunduk lesu melihat hasil usahanya telah habis dilalap jago merah.
Sesungguhnya apa yang kita miliki hanya sementara dan titipan. Akan tiba masa diambil kembali oleh sang Pemilik seisi bumi.