Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Apakah Aku Pengecut?


__ADS_3

Baby Queen sedang merayakan tasyakuran aqiqah, orang yang paling senang diantara yang hadir adalah kakeknya. Ya, sengaja beliau datang jauh-jauh dari Makassar untuk bertemu baby Queen yang semakin hari semakin menggemaskan.


"Cucu Kakek semakin embul ya, Masya Allah." ucapnya seraya mengelus pipi baby Queen.


Tenri memperhatikan kakek cucu itu dan hatinya menghangat. Dia bahagia melihat pemandangan yang indah itu. Suara pintu berderit karena didorong dengan hati-hati, Reno masuk ke kamar bergabung dengan Tenri dan juga Papanya yang sedang menggendong baby Queen.


"Pa, mereka sudah datang." Yang dimaksud mereka oleh Reno adalah para pemuka agama yang diundang Reno untuk acara barzanji.


"Baiklah, Tenri tolong gantikan papa dulu menggendong Queen."


Papanya segera turun ke lantai bawah menemui orang-orang yang sudah diundang oleh Reno. Sementara Reno dan Tenri mempersiapkan Queen yang akan segera melakukan prosesi Aqiqah.


Beberapa saat kemudian, Tenri dan Reno pun turun. Di bawah sudah menunggu Olla dan juga sang Tante yang ikut ke Jakarta. Hadir juga dua pria yang sedang bersaing merebut perhatian Olla. Siapa lagi kalau bukan Doni dan Daffa.


Baby Queen sedang menjalani proses aqiqah, bagian ujung rambutnya dipotong. Teriring doa dari sang kakek dan juga Reno dan Tenri sebagai orang tuanya. Proses tersebut berlangsung lancar tanpa ada kendala.


"Bisa bicara sebentar?" bisik seseorang di telinga Olla. Jantung Olla berdebar Liar di dada. Sudah cukup lama dia tak merasakan sensasi yang berusaha memburunya seperti ini. Membuatnya merasa panas dan merasa nyeri untuk sesuatu yang tidak terjangkau.


Olla menoleh dan kini jarak dia dan Doni begitu dekat. Napasnya yang seakan memburunya membuatnya sedikit tersengal.


"Doni," ucapnya seakan terjebak diantara rasa yang tak bisa dia ungkapkan di depan pria itu. Panik dan putus asa, mungkin seperti itulah dia ingin menggambarkan perasannya.


"Aku tahu ini terlalu cepat," ucap Doni. Suaranya berat dan dalam. "Namun aku juga tidak ingin untuk terlambat," Lanjutnya lagi masih dengan suara yang berat dan dalam. Suara tersebut persis sebuah bisikan.


Olla yang berdiri tegak nyaris kehilangan pertahanan, andai saja dia tak ingat di mana dia sedang berada. Apakah pernyataan Doni barusan ada kaitannya dengan perasaan? Begitulah Olla mencoba menerka arti dari kalimat Doni barusan.


Dari jauh ada satu orang yang memperhatikan begitu jeli dengan mata elangnya. Di tengah orang-orang sibuk berbahagia di acara aqiqah Baby Queen. Mata Daffa jelas menangkap keduanya dengan tatapan cemburu.


"Ya. Mari kita bicarakan." Olla menarik napas panjang lewat hidung, lalu menghembuskan perlahan.

__ADS_1


Doni memberi jalan bagi Olla untuk berjalan lebih dulu, dia melewati pintu utama dengan Doni yang membuntuti di belakangnya. Selepas mereka menghilang dari pintu, Daffa mengikuti mereka.


Doni dan Olla sedang menuju taman yang dipenuhi bunga bermekaran, hasil tangan jeli Tenri kala itu. Rajin menanam bunga dan sekarang bunga itu seperti sedang mengungkapkan perasaan terimakasih pada pemilik rumah karena telah merawat mereka dengan baik.


Daffa sembunyi dari jangkauan Doni ataupun Olla. Dia mengamati dari jauh, dan betapa dia sangat cemburu melihat keduanya duduk sedekat itu.


"Mau bicara apa?" tanya Olla yang dengan spontan menelengkan wajahnya untuk melihat wajah Doni.


"Ah itu, aku cuma mau bertanya tentang jam berapa besok kamu akan meninggalkan Jakarta?"


Alis Olla tampak naik, dia tak menyangka hal yang ingin dibicarakan Doni adalah tentang kepulangannya ke Makassar. Tadinya dia sudah berharap lebih tentang--sesuatu yang ada kaitannya dengan perasaan mungkin-- ya seperti itu lah kurang lebih.


'Maafkan aku Olla, aku belum bisa jujur untuk perasaan aku kali ini. Aku terlalu gugup dan aku takut kamu bukannya menerima pernyataan perasaan aku tapi malah menertawainya.'


Jelas sekali di wajah Doni bahwa yang keluar dari mulutnya barusan adalah suatu kebohongan. Bukan itu yang ingin dibicarakannya dengan Olla. Bukan itu.


"Oh tentang itu, besok tiketnya sore sih. Jadi mungkin aku ke bandara paling dua atau tiga jam sebelum keberangkatan. Kenapa?"


"Boleh. Jika Reno tidak jadi mengantar kami ke Bandara."


Menit berikutnya, Doni kebingungan akan berbicara apa lagi. Di tempat yang lain, tak jauh dari mereka, ada seorang pria yang baru saja menarik napas lega karena apa yang dia sangkakan tak terjadi. Dia mengira Doni akan menyalip dirinya dengan mengatakan perasaannya langsung pada Olla.


Daffa pun kembali ke dalam, dia bisa dibilang sudah tak mempermasalahkan Doni yang mengajak Olla untuk ngobrol berdua di taman.


"Doni mana?" tanya Reno saat Daffa baru saja duduk di sofa dengan memegang gadgetnya.


"Di luar mungkin," jawabnya.


"Ngapain?"

__ADS_1


"Tadi aku lihat dia ngajakin Olla keluar, mungkin ke taman, sekedar ngobrol atau ya nggak tahu juga lah."


"Dan kamu nggak apa-apa gitu melihat mereka dekat begitu?" tanya Reno mencoba mengorek apa yang dirasakan Daffa terhadap Olla yang keluar bersama Doni.


"Aku tahu mereka hanya membahas hal-hal umum, tidak ada yang penting atau sesuatu yang pribadi." ujarnya percaya diri.


"Sok tahu kamu, Daff. Ke salip Doni baru tahu rasa kamu, haha."


"Haha, jangan sampai. Kalaupun ke salip yang penting bersaingnya sehat."


"Widih ... apa itu artinya kamu sudah menabuh genderang perang dengan Doni nih?"


"Ya bukan perang juga kali, Ren. Ah kamu mah suka mendramatisir sesuatu. Terlalu dibuat lebay dan sangat dramatis."


"Jiahaha ... ya sudah terserah kamu lah. Eh kamu sudah makan belum? Ada Coto Makassar loh itu."


"Ah iya, kebetulan perut aku juga udah mulai keroncongan nih kayaknya. Makan dulu ya," ujar Daffa semangat.


Tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi, Doni masih memilih bermain aman. Maka dia juga tidak akan buru-buru.


***


Dilihat dari bagaimana Olla meresponsnya, dan juga kilatan di mata itu, Doni juga akan melakukan hal yang sama. Mata mereka sempat beradu beberapa detik dan itu adalah waktu paling mahal dan sangat berharga untuk momen mereka berdua saat ini.


Olla sadar, Doni sedang memakunya di dalam matanya. Itu sebabnya, dia bak sedang terperangkap di dalam mata cokelat pria itu. Sesuatu yang hangat menyentuh hatinya, belum pernah ada yang membuat Olla merasa seakan dadanya penuh sekaligus kosong.


Apakah dia baru saja bilang bahwa dia menyukai Doni?


Sementara itu, Doni kembali merasa gugup. Dia mana pernah sebelumnya menatap perempuan sedemikian dalam itu. Dia sangat tahu apa yang sedang dia pertaruhkan sekarang. Dia ingin mengatakan dengan jujur pada Olla, namun takut wanita itu malah berprasangka lain dan malah berbalik menolaknya.

__ADS_1


Ketakutan semacam itu terus berkelindan di hati Doni. Apakah aku seorang pengecut?


__ADS_2