Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Babak Belur


__ADS_3

Usai pertengkaran mereka yang hebat itu, Tenri tidak bisa melanjutkan pekerjaannya lagi. Dadanya masih kerap bergemuruh tiap kali dia membayangkan Reno dengan teganya ingin menampar dirinya. Sanga keterlaluan bila diingat-ingat.


Sementara Reno entah sudah kelayapan di mana. Tenri tidak mau membayangkan hal-hal yang bisa menyakiti hatinya lagi. Sudah cukup pria itu menghajar perasaannya tanpa berbelas kasih. Karena itu, bahkan jika Reno kembali bersama Elsa pun dia tak mau memikirkannya. Sebab itu akan membuat dia teringat semua tentang kekecewaan yang dia rasakan.


Mengapa Reno sama sekali tak belajar dari setiap cerita dan nasihat yang diberikan bapaknya? Tidakkah dia bisa bercermin sedikit saja agar kehidupan rumah tangga mereka sedikit lebih baik.


Bagaimana pun keadaan rumah tangga jika hanya seorang yang berjuang maka pasti runtuh juga. Perjuangan Tenri rasanya sudah sampai pada titik nadir. Dia merasa semua yang dia lakukan itu adalah hal yang percuma.


Apapun yang dia lakukan selalu salah di mata suaminya. Tenri begitu terpukul dengan kejadian pertengkaran itu.


Sementara Reno kini sedang minum di sebuah bar, tak peduli apakah dia punya uang atau tidak. Dia terus minum dan sepertinya sebentar lagi dia ada dalam masalah.


"Tuan, sudah cukup. Tuan sudah minum terlalu banyak. Silakan bayar dulu tagihannya." Seorang karyawan bar menghampiri dirinya, membawa tagihan yang harus dia bayar.


Di sana tertulis tagihan sebesar lima juta rupiah, "Heh kamu tidak tahu ya? Aku ini orang kaya, sudah kasih aku minuman lagi."


"Tidak bisa Tuan, kalau mau tambahan minuman, silakan bayar dulu tagihannya."


Bermula dari perdebatan itulah, akhirnya terjadi kericuhan. Reno tidak bisa membayar tagihannya dan dia mengamuk di bar tersebut karena merasa direndahkan.


"Bahkan seisi bar ini bisa aku beli, jangan macam-macam kalian."


"Haha ... Reno, Reno, kamu ini masih bermimpi saja. Kamu itu sudah bangkrut, apa yang bisa kamu banggakan hah? Sadar Ren, kalau kamu tidak mau membayar tagihannya, kamu bisa digebukin sama bodyguard-bodyguard yang ada di sini." ucap salah seorang yang mengenali Reno.


"Diam kamu, bangsat! Siapa bilang aku bangkrut?"


"Haha ...."


"Haha ...."


Reno diketawai banyak orang yang ada di bar itu. Sehingga memancing emosi Reno dan akhirnya dia memukuli salah seorang pengunjung yang ada di sana. Dari situlah semua petaka menimpa dirinya. Dia tak bisa melawan begitu banyak orang yang memukuli dirinya hingga babak belur.

__ADS_1


Bugh ....


Bugh ....


Bughh ....


Puluhan bogem mendarat di wajahnya, belum lagi tendangan yang diterima di sekujur tubuhnya. Darah mengalir dari mulutnya, dari pelipisnya dan juga dari hidungnya. Serta memar-memar di tubuhnya yang membuat dia tak sanggup lagi untuk berdiri.


Akhirnya orang-orang yang memukulinya tadi, melempar tubuh Reno yang tak berdaya ke depan bar. Menjadi tontonan gratis para pejalan kaki, menjadi bahan tertawaan orang-orang yang tak lagi melihatnya sebagai pengusaha sukses. Melainkan pengusaha yang tengah bangkrut dan tak memiliki apapun lagi.


Tubuh Reno tergeletak begitu saja di trotoar jalan. Tak ada yang mau mengangkat tubuh itu apalagi menolongnya untuk pulang. Perasaan cemas sudah meliputi hati Tenri, entah kenapa dia merasakan hal buruk telah terjadi.


Dia pun jadi tidak tenang, dia mencoba menghubungi ponsel Reno, berdering, artinya ponselnya aktif tapi tidak ada jawaban dari si pemiliknya. Kecemasan Tenri bertambah besar, berulang kali dihubungi tetap saja tak ada yang mengangkat telponnya.


Tenri mencoba hubungi Doni, sebab tak ada orang lain lagi yang bisa dia hubungi dan mintai tolong kecuali Doni.


"Don ... aku mau minta tolong. Sejak tadi aku menghubungi nomor Reno, nomornya aktif tapi tidak diangkat sama dia. Aku takut terjadi sesuatu padanya." Suara Tenri terdengar bergetar dan begitu kalut. Doni jadi tidak enak jika harus menolak permintaan tolong isteri dari sahabatnya itu.


"Dia pergi begitu saja, kami sempat bertengkar hebat. Tidak biasanya dia tak mengangkat telepon aku. Walaupun dia marah sama aku, dia kesal sama aku, tapi dia tetap mengangkat teleponnya meski dengan marah-marah. Kali ini berbeda, dia sama sekali tak mengangkat telepon ku. Aku takut terjadi sesuatu padanya, Don."


"Baiklah, karena ini sudah malam kamu juga pasti ingin istirahat. Jadi kamu lebih baik istirahat saja, sambil menunggu informasi dari aku. Biar aku yang mencari Reno."


"Tolong ya, Don. Terima kasih banyak."


"Iyah, sabar ya."


'*D*asar pria tak tahu diri, masih saja bersikap seperti anak kecil. Di mana kamu, Ren?'


Hati kecil Doni berbisik dengan kesal. Sampai kapan sahabatnya itu harus mengorbankan dirinya dan juga perasaan isterinya.


***

__ADS_1


Setelah berkeliling dari bar yang satu ke bar yang lainnya, membelah jalanan kota Jakarta di malam hari, akhirnya Doni berhasil menemukan Reno. Itu pun Reno sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Ren, Reno, bangun Ren! Kenapa tiduran di sini?" tanya Doni yang tak menyadari kalau wajah Reno sudah babak belur habis dihajar.


"Cepat bawa dia ke rumah sakit, Tuan. Tadi saya melihat dia dihajar banyak orang dari dalam bar. Saya dengar, orang ini tidak mau bayar tagihan minuman yang sudah diminumnya. Makanya dia dihajar sampai pingsan begitu." ucap salah seorang tunawisma yang duduk di dekat bar sambil menghisap rokok.


Doni pun meneliti wajah Reno, di bawah sinar temaram lampu jalan, dia baru sadar kalau wajah Reno sudah berdarah-darah.


"Astaga! Kenapa bisa sampai begini sih, Ren?"


Doni segera memapah tubuh Reno masuk ke mobil, dia meletakkan Reno di kursi bagian belakang dalam keadaan tengadah. Bau alkohol menyengat tercium dari baju dan tubuh Reno. Sepertinya dia baru saja minum terlalu banyak.


Tanpa pikir panjang, Doni langsung membawa Reno ke rumah sakit terdekat. Dia pun mengirim pesan ke Tenri kalau dia sudah menemukan Reno dan sekarang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Tenri yang mengetahui kabar itu dari Doni, tanpa pikir panjang langsung menuju rumah sakit. Bahkan dia tak takut saat memesan kendaraan online akan ditipu atau dikurang ajari sama orang. Pikirannya terpusat pada suaminya yang kenapa harus dibawa ke rumah sakit segala. Dia semakin bertambah cemas.


Saat sampai di rumah sakit, dia langsung bertemu dengan Doni.


"Apa yang terjadi, Don?"


"Reno minum terlalu banyak dan tak sanggup membayar tagihan. Akhirnya sama pemilik bar meminta agar Reno digebukin oleh bodyguard bar. Hasilnya ya seperti di dalam ruang ICU dia sedang terbaring tak berdayanya. Namun kamu tenang saja, dia sudah ditangani dokter."


"Aku ingin menemuinya, Don."


"Nanti, setelah dia mendapat perawatan dari pihak rumah sakit. Kamu duduk saja dulu di sini."


"Terimakasih ya, Don."


"Sama-sama, Tenri. Kamu harus ekstra sabar menghadapi sikap kekanakan Reno, aku saja tidak menyangka dia bisa seberubah ini Tenri. Semoga dia bisa cepat sadar dari kekeliruannya."


"Aku juga berharap yang sama."

__ADS_1


__ADS_2