
Sebelum pulang ke Makassar, Tenri ingin mengecek kandungan terlebih dahulu. Apakah aman terbang di tempat ketinggian sementara dia sedang hamil. Tidak ada pilihan lain bagi Tenri untuk periksa ke klinik lain karena rekam medis kehamilan dia sudah terlanjur tercatat di klinik kandungan CIMERA punya Daffa.
"Memangnya harus ke klinik CIMERA, ya?" tanya Reno dengan nada tidak suka.
"Nggak harus di sana sih, cuma kan rekam medis aku sudah ada di sana daeng. Lagi pula cuma klinik CIMERA yang paling dekat dari tempat kita. Tapi kalau daeng keberatan aku periksa di sana, kita bisa pindah kenl klinik lain."
"Hmm ... tidak, tidak usah pindah. Ya sudah kita ke CIMERA saja. Kamu sudah siap, kan?" Reno pun tidak mau hanya gara-gara ke klinik Daffa mereka jadi ribut lagi. Padahal semua orang juga tahu, bagaimana Reno sangat cemburu jika Daffa harus dekat-dekat dan menyentuh isterinya itu.
"Sudah, Daeng. Ayo berangkat."
Mereka pun ke klinik CIMERA, Reno tak bisa menyembunyikan perasaannya yang berdebar jika dia nanti bertemu Reno. Betapapun keduanya sudah saling tahu, Reno tahu Daffa mencintai Tenri, sementara Daffa tahu kalo Reno sudah tahu rahasianya.
"Kamu aja yang turun ya?" ucap Reno yang nampaknya enggan bertemu Daffa.
"Kenapa? Daeng ikutlah, kalau tidak ikut aku juga tidak akan masuk. Aku tidak jadi periksa saja," jawab Tenri yang berpura-pura ngambek.
"Jangan gitu dong, kamu harus periksa. Kalau tidak periksa nanti kita nggak bisa ke Makassar. Ya sudahlah, aku ikut masuk."
Meski enggan akhirnya Reno setuju juga untuk menemani Tenri bertemu dengan Daffa.
Mereka pun berjalan ke ruang periksa Daffa, dia melihat Tenri sudah mulai agak kesulitan berjalan. Dengan tenang, Reno meraih jemari Tenri dan menautkan jemarinya di sela-sela jari Tenri. Dia pun berjalan dengan mantap seolah memiliki kekuatan baru untuk menghadapi Daffa nantinya.
__ADS_1
Reno sedang merangkai kata dalam hatinya. Kata-kata mana yang sekiranya cocok dia ucapkan di depan Daffa. Lagian juga kenapa dia merasa sedang bersaingan dengan Daffa padahal sudah jelas-jelas dia sudah memiliki Tenri?
Bukan apa-apa, meskipun Tenri kini sudah sah jadi isteriku tapi bukan berarti tak ada laki-laki lain yang menginginkannya. Apalagi setelah beberapa kejadian yang membuat Tenri seakan tak percaya lagi padaku, aku pun minder dan takut pada akhirnya aku kehilangan dia. Jadi saingan terberat aku sekarang adalah Daffa. Terlepas Tenri suka, cinta atau tidak pada lelaki itu. Aku tetap harus bisa meyakinkan Tenri, bahwa aku juga bisa mencintainya sama besarnya dengan cinta Daffa.
Sepanjang jalan, Reno terus membatin tentang dirinya dan Daffa. Bahkan saat dia sudah duduk di ruang tunggu dan Tenri baru saja melakukan pendaftaran.
"Ibu Tenri?" panggil seorang suster, membuat lamunan Reno buyar.
"Loh Sust, aku kan baru saja datang. Kenapa sudah langsung giliranku saja?" tanya Tenri merasa heran sudah dipanggil padahal dia baru saja datang dan baru selesai melakukan pendaftaran.
"Iyah Bu. Dokter Daffa memberikan prioritas pada Ibu Tenri di setiap kunjungan Ibu. Itu pesan dokter Daffa pada saya Bu."
"Oh ...."
Tenri pun menoleh ke Reno, biasanya suaminya itu tak pernah betah untuk berlama-lama menunggu. Jadi harusnya dia senang jika Tenri dipanggil lebih dahulu dan bukannya antri. Tapi kenapa sekarang berbeda dan dia mau menunggu? Tenri merasa heran dengan sikap Reno yang akhir-akhir ini mengalami banyak perubahan. Di samping itu, dia bersyukur karena Reno perlahan sudah mulai berubah.
Setelah beberapa pasien sudah dipanggil dan kini giliran Tenri, Reno langsung berdiri mendahului Tenri dan membantu isterinya yang agak kesulitan berdiri. Saat berjalan masuk ke dalam ruang periksa pun, Reno menunjukkan sikap romantis, dia menggenggam tangan Tenri dan melingkarkan tangannya di pinggang isterinya saat berjalan masuk ke ruangan Daffa.
Daffa tersenyum begitu melihat Tenri muncul diambang pintu, namun kemudian senyum itu menghilang saat dia melihat Reno tengah memeluk Tenri.
"Selamat pagi, dokter Daffa." Reno menyapa Daffa dengan sebutan dokter biar terkesan formal.
__ADS_1
"Pagi, Ren, Tenri. Silakan duduk," jawab Daffa berusaha terdengar se-formal mungkin agar Reno tidak tahu perasaannya yang kini sedang cemburu melihat kemesraan mereka.
Di sisi lain, Daffa senang Reno dan Tenri akhirnya akur dan seperti pasangan suami isteri lainnya. Namun di sisi yang lain, ada bagian di dalam hatinya yang sedang terbakar api cemburu.
"Mau ngecek kandungan ya?" tanya Daffa basa basi.
"Iyah, kita mau pulang kampung ke Makassar. Jadi butuh rekam medis layak terbang untuk Tenri dan juga bayinya." Sengaja Reno yang menjawab, dia bahkan tak memberi kesempatan pada Tenri untuk ngobrol dengan Daffa. Meski Daffa matanya tertuju pada Tenri sebagai lawan bicara.
Dalam hati Tenri ingin tertawa dengan sikap Reno yang seakan cemburu buta pada Daffa. Padahal Daffa adalah sahabatnya sendiri, Tenri belum tahu jika Reno sudah mengetahui seperti apa hubungan mereka di masa lalu.
"Baik, Tenri silakan berbaring di sana dan aku akan mengecek kondisi kesehatan calon bayi kamu."
"Sayang, silakan baring di sana. Sini, biar aku bantu berdiri dan menidurkan kamu di atas brankar itu."
Dengan penuh perhatian, Reno menuntun Tenri menuju brankar untuk berbaring di sana. Mata Daffa terus mengawasi tingkah Reno, di mata pria itu Reno bersikap terlalu berlebihan. Namun bagi Reno, itu kemajuan luar biasa untuk dirinya sendiri. (Haha, dua pria memperebutkan satu wanita).
"Daff, biar aku sendiri yang menyibak pakaian Tenri ya."
Tanpa menunggu persetujuan, Reno langsung mengangkat ke atas baju Tenri dengan pelan. Sehingga kini perut isterinya yang sudah membesar itu dapat terlihat dengan jelas.
"Hai baby, tunggu sebentar ya. Mama sama Papa lagi memeriksakan kondisi kamu. Kamu harus tahu, yang periksa kamu saat dalam kandungan itu adalah Om Daffa. Sahabat Papa, jadi saat lahir nanti kamu sudah tahu siapa saja sahabat papa. Iya kan, Ma?" tanya Reno yang langsung meminta persetujuan Tenri. Terpaksa Tenri mengangguk, dia tersenyum sekaligus geli saat suaminya mengajak ngobrol sang bayi dalam perut seraya menempelkan telinganya di perut Tenri.
__ADS_1
"Sayang, baby-nya bilang iya Papa, dedek akan sabar." Reno nyengir ke arah Tenri memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan rapi itu.
Gelak tawa Tenri pun terdengar saat Reno selesai mengucapkan itu. Reno benar-benar sangat lucu dan sikap dia barusan itu menggelikan. Namun ada hati yang terasa panas, terbakar api cemburu. Haha. Sabar ya Daffa, biarkan kedua orang suami isteri itu menikmati keharmonisan rumah tangga mereka.