
Meski hatinya hancur, Tenri tetap memperlakukan Reno seperti biasa. Dia merawat dan melayani Reno karena dia adalah suaminya. Itu tugasnya sebagai isteri yang berbakti.
Hanya saja sampai kapan Tenri harus bersikap seperti itu terus? Dia terlalu baik pada Reno, bahkan perasaannya sendiri dia biarkan hancur lebur demi bertahan dengan laki-laki ini.
"Aku minta maaf soal cincin itu, Tenri."
"Daeng, aku sudah tidak ingin membahasnya lagi. Sebaiknya daeng fokus pada kesembuhan kaki daeng."
"Tapi bagaimana denganmu?"
"Aku tidak memerlukan penjelasan apapun, daeng. Dijelaskan atau tidak, tidak akan mengembalikan keadaan apalagi mengubah keadaan jadi lebih baik. Aku sadar akan diriku, daeng."
"Sekali lagi aku minta maaf."
Permintaan maaf yang berulang kali didengarnya itu kini terdengar biasa saja. Tidak ada lagi yang istimewa. Bagi Tenri, Reno adalah pelajaran besar bagi perjalanan hidupnya. Dan ujian terberatnya adalah SABAR.
Hari demi hari berlalu, Tenri lupa kalau ada satu nyawa lagi yang harus dia perhatikan. Yaitu detak jantung kedua yang kini bersemayam di perutnya.
Sekarang, perut itu terlihat membuncit, meskipun belum terlalu terlihat. Sejak Reno sakit, Tenri belum pernah lagi memeriksakan kondisi dirinya dan juga janinnya. Impian membuka les privat pun harus tertunda karena dia harus fokus pada kesembuhan suaminya.
Pagi setelah dia melatih Reno jalan, perutnya sedikit kram. Namun hal itu tak disampaikannya pada Reno. Dia hanya meminum vitamin terakhir yang pernah diresepkan oleh Daffa.
"Daeng, aku akan ke klinik sebentar. Apa tidak masalah aku meninggalkan daeng sebentar?"
"Ada apa? Kamu sakit? Kamu terlihat pucat Tenri."
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing. Jadi apakah aku boleh ke klinik sebentar?"
"Pergilah. Hati-hati di jalan, Tenri."
Tenri pun pergi ke klinik sambil memegang perutnya yang terus kram. Dia memutuskan ke klinik terdekat dan yang paling dekat dari kediamannya adalah klinik milik Daffa. Sampai di sana, Tenri tak perlu mengantri, asisten Daffa langsung memintanya untuk masuk saja.
__ADS_1
"Tenri, ada apa?"
"Perut aku kram, Dok. Sejak tadi pagi, aku kira sakit perut biasa tapi kok tidak hilang- hilang."
"Berbaring di sana sebentar, aku periksa. Satu lagi, tidak bisakah kau memanggilku nama saja? Jangan memakai gelar profesiku."
Tenri berbaring di atas brankar, mengenai ucapan Daffa barusan dia tak terlalu ambil pusing.
Daffa pun melakukan tugasnya sebagai dokter, dia lalu mengoleskan gel ke atas perut Tenri dan mulai memindai menggunakan alat pemindai. Hal itu dilakukan untuk mengetahui kondisi janin yang ada di dalam perut Tenri, apakah dia sehat-sehat saja atau mengalami sesuatu.
"Kondisi jantungnya terlalu lemah, apa belakangan ini kamu terlalu capek, banyak pikiran, atau mungkin mengurangi makan?" tanya Daffa seraya meletakkan alat pemindai ke tempatnya.
Tenri bangun dan duduk di tepi brankar. Dia membenarkan ucapan Daffa barusan, dia sedang mengalami capek, capek badan, pikiran dan juga hati. Hal itu memang bisa memicu kondisi perkembangan janin yang sedang ada dalam kandungan.
Tenri diam saja mendapati pertanyaan Daffa.
"Kamu harus bisa menjaga pola makan, menjaga kesehatan, dan juga menjaga agar kamu tidak stress. Sebab kondisi kamu yang seperti itu juga akan mempengaruhi kondisi kesehatan bayi di dalam perut kamu. Kamu tidak ingin kehilangannya bukan?"
"Makanya, kamu itu harus perhatikan kondisi kamu sendiri. Sebenarnya aku tidak mau ikut campur dengan rumah tangga kamu bersama Reno. Tapi jika seperti ini terus, kamu tidak hanya akan kehilangan bayi kamu tapi kamu juga akan mengalami sakit Tenri."
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga kalian?"
Tenri adalah orang yang paling tidak suka urusan pribadinya dipertanyakan oleh orang lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Karena itu, dia sama sekali tak tertarik untuk membahasnya dengan Daffa.
"Urusan dokter hanya sebatas pemeriksaan hari ini, jadi apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menyelamatkan janinku?"
"Andai saja kamu ada pendarahan hari ini, mungkin dia tak akan tertolong lagi. Beruntung karena kamu cepat mengambil tindakan. Aku hanya akan memberikan resep penguat kandungan lagi juga beberapa vitamin yang akan membantu memulihkan staminamu."
"Baiklah, aku paham."
"Tenri, jika kamu ada masalah jangan sungkan untuk menceritakannya padaku. Kita masih teman, bukan? Jangan bersikap seolah-olah kita berdua ini adalah orang yang tak saling kenal."
__ADS_1
"Aku permisi, Dokter."
Tenri sama sekali tak memberi ruang bagi Daffa untuk masuk terlalu jauh dalam hidupnya. Hal itu membuat Daffa haru tersenyum kecut karena Tenri masih berusaha membentangkan jarak di antara mereka.
"Tenri ...." panggil Daffa namun Tenri terlanjur sudah menutup pintu ruangan pemeriksaan itu.
'Tenri, entah sampai kapan kamu terus bersikap seperti ini padaku. Jelas-jelas kamu tahu perasaanku padamu dan kamu malah memperjelas jarak antara kita. Aku tahu kamu sudah menikah, kamu isteri dari sahabatku, namun apakah salah jika aku hanya ingin membantumu?'
Daffa mengusap wajahnya berkali-kali, dia ingat betul bagaimana dirinya dulu memperjuangkan cintanya pada Tenri. Namun perempuan itu bersikeras tak mau menerima dengan alasan sebuah perjodohan.
Pada akhirnya Daffa harus menerima takdir buruk karena jodoh yang dimaksud Tenri adalah Reno, sahabatnya sendiri. Dulu, dia mati-matian menyelesaikan kuliah demi mendapatkan gelar dokter. Mengapa? Sebab dia ingin merasa layak di depan keluarga Tenri saat dia datang melamar suatu saat nanti. Namun belum saja hari itu tiba, Tenri semakin mengecilkan hatinya dengan mengatakan seberapapun dia berusaha untuk Tenri, wanita itu tak akan pernah bisa menolak karena perjodohan itu sudah diatur untuknya.
Daffa kembali ke Jakarta. Siapa sangka, mereka malah bertemu lagi dan terikat dalam satu simbiosis yang membingungkan. Antara dia, Reno dan juga Daffa.
***
"Kamu baik-baik saja? Apa kata dokter?" Tenri langsung disambut pertanyaan dari Reno.
"Katanya aku tidak apa-apa, hanya butuh istirahat. Janinnya juga tidak masalah, sekarang memasuki Minggu ke dua belas."
"Syukurlah. Tenri, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu."
Tiba-tiba saja Reno berdiri dari kursi rodanya dan memeragakan di depan Tenri kalau dia sudah bisa berdiri tegak dan berjalan. Walau pada langkahnya yang sisa selangkah dari jarak Tenri berdiri dia terjatuh, tapi bagi Tenri itu suatu kemajuan yang luar biasa.
"Daeng ... kamu sudah bisa jalan?" Mata Tenri berbinar senang, dia bahagia melihat usahanya selama ini dalam melatih Reno berjalan tidak sia-sia.
"Berkat kamu, sayang ...."
Reno berangsur memeluk Tenri, bahkan pelukannya kini kian erat. Tenri pun menyambut pelukan itu, meresapinya terlalu dalam sampai diam-diam air matanya ikut jatuh karena saking senangnya.
'Terimakasih Tuhan, aku bersyukur meski hanya kebahagiaan kecil seperti ini yang kau berikan.' ucapnya dalam hati.
__ADS_1