
Saat itu, matahari belum menampakkan cahayanya, Tenri menyibak selimut yang dipakainya. Meskipun dia marah pada Reno namun dia tetap menyiapkan setiap kebutuhan suaminya itu sebelum berangkat ke kantor. Dari pakaian, kopi, sampai sarapan. Meskipun ada Bibi, sebisa mungkin Tenri ikut andil untuk menyiapkan segala keperluan Reno.
Bagi sebagian perempuan mungkin akan beranggapan, 'ya sudah sih, tinggalin aja. Toh kamu juga tidak mendapatkan cinta suamimu.' Bisa saja Tenri bersikap egois seperti itu, hanya saja berumah tangga memang tak selalu mudah. Selalu ada saja rintangan dan cobaan yang mesti jadi pembelajaran agar bisa lebih baik lagi. Jika sesimpel itu penyelesaiannya lalu mengapa Tenri harus mau dinikahi oleh Reno.
Ada banyak pertimbangan yang mesti disikapinya sebelum memutuskan sesuatu untuk rumah tangganya agar tak menimbulkan masalah jangka panjang. Perempuan akan selalu memiliki satu ruang di hatinya, yaitu ruang maaf untuk orang-orang yang sudah menyakitinya. Hal itu tak bisa dipungkirinya. Apalagi dia sudah berjanji akan berusaha agar Reno pelan-pelan hanya melihat dua perempuan dalam hidupnya, ibunya dan juga dirinya.
"Ibu, jangan lakukan semua pekerjaan Bibi. Kalau Ibu yang kerjakan terus Bibi kerja apa? Sini biar Bibi saja."
"Tidak begitu, Bi. Aku isteri dari Reno, sudah sepantasnya aku ikut menyiapkan segala keperluannya. Lagi pula ini tidak terlalu berat kok, kalau Bibi mau kita kerjakan sama-sama kalau begitu."
Bi Surti tak habis pikir lagi, perempuan sebaik Tenri ini mengapa selalu terlihat murung. Apa sebenarnya dia tak bahagia bersama Reno? Begitulah pemikiran Bi Surti. Seperti pagi ini, wajah Tenri terlihat masih sembab, matanya agak bengkak dan juga tak ada senyum di sana. Hanya wajah duka dan sedih yang tergambar dengan jelas.
"Maaf, jika Bibi lancang. Sebenarnya Ibu dari mana semalam? Kenapa bisa terpisah dari bapak, Bu? Dia khawatir dan cemas memikirkan Ibu."
"Oh ... tidak ada Bi. Aku hanya pergi sebentar dari acara pesta itu. Aku tidak tahu kalau ternyata Reno mencariku, kupikir dia masih lama ngobrolnya dengan rekan-rekan bisnis dia." Ungkap Tenri berbohong pada Bi Surti.
__ADS_1
"Aku ke atas dulu ya, Bi. Mengantar kopi untuk bapak, Bibi lanjutkan saja dulu membuat sarapannya." lanjut Tenri.
Saat dia mendorong tuas pintu, dia berpapasan dengan Reno sehingga nyaris saja kopi itu menumpahi baju mereka.
"Brakk ...." Bunyi kepentok pintu.
"Maaf ...." ucap Tenri menunduk seraya berjalan melewati Reno dan meletakkan secangkir kopi di atas meja nakas.
"Tenri, bisa kita bicara sebentar?" tanya Reno dengan ekspresi memohon.
"Baiklah, daeng." Dia pun duduk di tepi tempat tidur, menunggu Reno untuk memulai bicara.
"Apa yang sampai ke telinga, daeng?"
Reno terkejut dengan pertanyaan balik yang dilontarkan Tenri. "Apa yang daeng dengar, maka itulah yang terjadi. Terlepas dari daeng mau percaya cerita pihak yang mana."
__ADS_1
"Aku sudah mendengar cerita dari Elsa, sekarang aku ingin tahu cerita dari kamu."
"Tidak perlu, daeng. Bahkan jika aku menceritakannya pun, aku sangsi daeng akan mempercayai setiap ucapanku. Sebab jika daeng percaya, daeng mungkin tidak akan membiarkan aku pergi dan malah kembali bersama Elsa bahkan sampai mengantarnya ke rumah sakit."
Dada Reno bergemuruh, dia tak mengira kalau Tenri akan mendengar percakapannya dengan Daffa semalam.
"Tenri, bukan begitu. Aku hanya menolong Elsa karena dia mengalami pendarahan di tangannya."
"Itu sama artinya, daeng lebih percaya kalau memang aku yang membawa gunting masuk ke gedung itu dan sengaja menikam Elsa. Sudahlah daeng, aku memang hanya orang lain di sini. Aku memang salah sudah masuk ke dalam kehidupan kalian, hanya saja bisakah daeng sedikit saja melihat posisi aku di sini sebagai apamu." Tenri mengangkat wajahnya menahan air mata yang sebentar lagi akan jebol dari pertahanannya.
Dia tak kuasa menahan sesak yang menggulung di dalam dadanya, dia ingin keluarkan namun dia tak mau menangis di hadapan suaminya itu.
"Tenri jangan bicara seperti itu, kamu isteriku. Kamu penting buatku, kamu adalah perempuan yang dipilihkan ibuku untuk mendampingiku--"
"Tapi bukan orang yang dipilih oleh hatimu daeng ...." potong Tenri yang akhirnya kalah menahan air matanya.
__ADS_1
"Astaga Tenri ... kumohon jangan menangis seperti ini di depanku. Baiklah, aku memang salah jadi tolong jangan menangis lagi."
Tenri yang merasa kecewa dengan perlakuan Reno, akhirnya hanya bisa mengusap air matanya lalu berharap semua sakit itu bisa segera lenyap dari dalam hatinya.