Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Cerita Bibi Tentang Elsa dan Reno


__ADS_3

Pertemuan antara Tenri, Elsa dan Reno, membuat sedikit perubahan pada sikap Tenri. Meskipun dia memaafkan suaminya, namun hati siapa yang tahu. Jauh di dasar lubuk hati Tenri, masih terasa nyeri karena peristiwa di Ancol itu. Wajar bila Reno bertahan bertahun-tahun dengan Elsa, dia perempuan cantik, tinggi, mungkin juga karir bagus sementara Tenri? Dia merasa sangat kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding Elsa. Begitulah hal yang dipikirkan oleh Tenri sejauh ini atas hubungan dia dan Reno yang ternyata ada orang ketiga.


Meski begitu, Tenri tetap menyiapkan segala kebutuhan Reno setiap harinya. Termasuk menyiapkan kopi, sarapan, pakaian kantor dan segala keperluan yang dibutuhkan suami dan yang seorang isteri harus lakukan. Dia berusaha agar terlihat baik-baik saja di depan orang yang melihatnya. Kesedihan biar menjadi miliknya sendiri.


"Biar saya saja Bu yang siapkan sarapan untuk bapak."


"Tidak apa-apa, Bi. Saya kan isterinya jadi wajar jika saya harus menjadi yang pertama menyiapkan seluruh keperluan suami saya."


Tenri dan Bi Surti sedang berjibaku di dapur untuk membuat sarapan pagi, Reno sedang bersiap-siap di kamar. Sebentar lagi turun sarapan dan berangkat ke kantor. Tenri menata makanan di atas meja seraya menuggu kedatangan Reno. Beberapa menit kemudian, Reno turun dan wajahnya berseri melihat Tenri sudah menunggunya di meja makan. Menurutnya, Tenri tak lagi marah padanya. Ya, memang benar isterinya itu tak marah, hanya menyimpan kecewa dalam hatinya.


"Nasi goreng ya?" tanya Reno begitu duduk.


"Iyek daeng, Ibu pernah bilang ke Tenri kalau daeng suka sekali makan nasi goreng."


Bi Surti memperhatikan keduanya dan dia tersenyum, baginya apa yang dilakukan Tenri itu adalah suatu pengorbanan. Menaklukkan hati Reno adalah perjalanan panjang yang harus dilalui oleh Tenri menurutnya, mengingat sebelumnya majikannya itu pernah menjalin hubungan dengan wanita lain dan mungkin saja bahkan sampai sekarang belum ada kejelasan atas hubungan mereka.


"Saya senang loh Bu, mendengar ibu berbicara kepada bapak dengan logat khas Makassar. Enak didengar," celetuk Bi Surti yang diselingi tawa dari Reno dan Tenri.


Usai sarapan, Reno bersiap pergi. Reno tak lagi menolak dicium tangannya oleh Tenri saat pergi meninggalkan rumah. Walau memang dari sikapnya, Reno belum sepenuhnya bersikap seperti layaknya seorang suami bagi Tenri. Masih banyak pertimbangan yang mungkin dipikirkan Reno hingga step by step dia memang harus belajar dengan peran barunya sebagai suami itu.


Selepas kepergian Reno, Tenri membereskan piring kotor di atas meja dan mau mencucinya. Namun Bi Surti langsung mengambil alih pekerjaan itu.

__ADS_1


"Sudah, Ibu duduk saja dulu di sana."


Tenri pun menurut saja, dia duduk di salah satu kursi meja makan. Ada hal yang mengganggu pikirannya dan hendak ditanyakan kepada Bi Surti. Menurutnya dia harus menanyakan itu, sebab Bi Surti sudah ikut Reno sejak lama. Mungkin dia bisa mendapatkan informasi terkait Elsa, mantan pacar Reno.


"Bi, saya boleh tanya sesuatu tidak?" tanya Tenri sedikit ragu.


"Apa itu, Bu?"


"Bibi kenal dengan wanita bernama Elsa?"


Deg.


Bagai letupan ban bocor di tengah jalan, jantung Bi Surti terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Tenri.


"Bi, tidak usah takut, saya tidak akan marah. Saya hanya ingin mendengar cerita tentang wanita bernama Elsa itu dan hubungannya dengan daeng."


"Emm ... gimana ya Bu. Iyah, Bibi tahu non Elsa. Dia ... memang dulunya adalah pacar bapak." Bi Surti menjawab ragu walau pada akhirnya dia mengatakannya juga.


"Apa mereka saling mencintai?"


"Nggak tahu Bibi. Hanya saja setahu Bibi hubungan mereka sudah berlangsung lama."

__ADS_1


"Dia sering ke rumah ini juga?"


"Nggak sering. Mereka biasanya di apartemen bapak. Tapi jelasnya Bibi juga tidak tahu, Bu."


"Oh begitu ya."


"Menurut Bibi, dia wanita seperti apa?"


"Kenapa, Bu?"


"Tidak apa-apa, saya hanya ingin tahu daeng menyukai wanita yang seperti apa. Jika saya mendengar tentang Elsa, setidaknya saya bisa memiliki gambaran agar bisa diterima dengan tulus oleh Daeng. Saya bisa memperbaiki diri dan menjadi isteri yang terbaik bagi daeng."


Sang Bibi merasa terharu mendengarnya. Sebelumnya dia tak pernah melihat seorang perempuan begitu tegar bahkan ingin belajar pada mantan pacar suaminya hanya agar bisa menjadi yang terbaik bagi suaminya. Bi Surti merasa iba dan terharu.


Dia pun menceritakan mengenai Elsa, kebaikannya, kekurangannya, semua yang dia tahu dia ceritakan pada Tenri. Dia merasa bertanggung jawab untuk membantu majikannya itu.


"Ibu jangan biarkan suami ibu dekat-dekat lagi dengan Elsa, dia bukan perempuan yang baik Bu. Dia sering memakai kartu kredit bapak dan belanja habis-habisan tanpa kria-kira."


"Dari mana Bibi tahu?"


"Bibi tahu karena setelah kredit itu kena limit, akan dititipkan ke bibi lagi untuk dikembalikan ke bapak. Padahal dia bisa saja mengembalikannya sendiri. Biasanya setelah kartu kredit itu tak bisa dipakai belanja lagi, dia akan merajuk pada bapak. Duh intinya mah, dia bukan perempuan yang baik deh Bu. Jadi tetap jaga bapak ya, Bu. Soalnya bapak itu adalah orang yang baik. Elsa itu hanya seperti memanfaatkan bapak saja."

__ADS_1


Cerita-cerita tentang Elsa dan Reno pun mengalir dari bibi dan Tenri mendengarnya dengan sepenuh hati. Dia bertekad akan terus memperbaiki diri hingga dia benar-benar layak berada di samping Reno sebagai perempuan yang dicintai Rebo dan juga sebagai isteri yang layak bagi Reno.


__ADS_2