Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Kesabaran Cinta


__ADS_3

Wajah Reno sekarang sudah lebih bersih dari kemarin, rambutnya sudah dipotong pendek, janggut dicukur dan dia mulai banyak tersenyum. Walaupun senyumnya kerap kali dipaksakan hanya agar dia dan Tenri terlihat baik-baik saja di depan bapaknya.


"Kalau begini kan kamu kelihatan lebih muda, bersih, wajah bercahaya. Kalau kemarin itu sudah mau menyamai preman-preman pasar Sentral di Makassar. Hahaha ...."


Tenri ikut tertawa atas komentar bapak mertuanya. Dia baru berhenti tertawa ketika lengannya disenggol oleh Reno. Persis seperti dua musuh bebuyutan yang saling tak mau mengalah.


"Ren, sekalipun masalah seperti mengepung kita. Kita tetap harus bertanggung jawab kepada tubuh kita. Setiap orang itu memiliki masalah masing-masing hanya jenis dan kadar masalahnya yang berbeda. Ada yang ringan, ada yang berat tapi semua itu sama saja. Membedakannya itu hanya dari cara kita menyelesaikan masalah tersebut." Bapak Reno menasehati anak lelaki satu-satunya itu.


"Ada orang, masalahnya sebenarnya kecil, tapi karena dibiarkan berlarut-larut terus nggak diselesaikan tapi malah banyak berdebat akhirnya masalahnya tak selesai-selesai dan malah menimbulkan masalah yang lebih besar. Ada juga yang punya masalah besar tapi karena dia tetap kalem sambil memikirkan cara penyelesaiannya, akhirnya masalahnya bisa selesai dengan cepat dan menemukan jalan keluar." lanjutnya lagi.


Tenri mengangguk setuju, dalam perjalanannya, Reno mungkin sedikit sekali menghadapi masalah yang sampai mengganggu pikirannya. Akhirnya saat masalah datang bersamaan dia pun kelabakan, akhirnya masalah tersebut semakin menjadi-jadi karena dirinya belum siap.


Reno hanya menunduk, mungkin merenungi setiap ucapan bapaknya. Sudah lama sekali dia tak mendengar nasihat dari bapaknya itu. Memang Reno ini butuh siraman rohani, agar dia mampu berpikir jernih dalam setiap tindakannya.


Kedatangan bapaknya kali ini seperti anugerah bukan hanya bagi Reno tapi juga bagi Tenri.


"Terimakasih untuk nasihatnya, Pak." Mata Reno memerah seperti ingin menangis tapi karena dia lelaki makanya dia berusaha menahannya.


"Daeng, apapun masalahnya kita harus selalu bersyukur karena ada orang-orang dekat di sekitar kita yang selalu mendukung kita bangkit. Banyak orang di luar sana yang bahkan tidak memiliki keluarga untuk berkeluh kesah."


"Iyah benar, dengar itu ucapan isterimu. Beruntung kamu memiliki isteri yang tidak meninggalkan kamu di saat kamu sedang susah. Tenri ini, persis seperti ibu kamu. Tidak ada sedetik pun ibumu meninggalkan bapak ketika memiliki masalah dalam pekerjaan. Justru ibumu-lah yang sering memberikan nasihat kepada bapak. Oleh karena itu, baik-baiklah pada isterimu."


Reno menelan ludah, dari ucapan bapaknya tersirat bahwa bapaknya ini sebenarnya tahu banyak tentang permasalahan rumah tangga mereka. Hanya saja dia memilih untuk tidak ikut campur, alih-alih hanya memberi nasihat siapa tahu pintu hati Reno terbuka lebar dan mau mengubah sikapnya terhadap isterinya.


Di saat mereka sedang bercengkrama itulah, sebuah telpon masuk ke ponsel Tenri. Ada nomor tak dikenal, namun Tenri memilih untuk menjawabnya.


"Assalamualaikum ...."


"Alaikumsalam, dengan Ibu Tenri?" terdengar suara lembut seorang wanita, mungkin ibu-ibu paruh baya.

__ADS_1


"Iyah, benar ibu. Maaf dengan ibu siapa saya bicara?" tanya Tenri mencoba lebih formal.


"Saya dengan Ibu Eka. Jadi gini Bu, saya melihat iklan ibu di internet. Ibu lagi nyari murid bimbel ya?"


Seketika Tenri terlonjak senang karena yang menelpon adalah salah satu orang tua calon muridnya yang akan bimbel sama dia. Walau belum deal tetap saja Tenri merasa gembira.


"Iya, Bu. Maaf ibu kalau boleh tahu anaknya umur berapa ya Bu?"


"Dia masih kelas 1 SMP, anak saya ini kalau disuruh belajar matematika, susahnya minta ampun. Saya sudah kehabisan akal untuk mengajarinya. Tolong ya, Bu."


"Insyallah, Bu. Tapi Bu, ini tidak apa-apa kalau anaknya harus bimbel di rumah saya? Apa ibu tidak keberatan?"


"Tidak apa-apa, nanti sepulang sekolah saya antar langsung ke rumah ibu untuk belajar."


"Jangan Bu, anak ibu sekolahnya cuma sampai Jumat kan? Nah lesnya bisa Jumat sore dan Sabtu pagi. Jadi hanya dua kali seminggu. Anak-anak juga kalau terlalu dipaksakan maka dia akan bosan dan makin tidak mau belajar."


"Begitu ya Bu, jadi kapan bisa mulainya bu?"


"Ah, baiklah. Aku senang sekali mendapatkan anak saya guru bimbel yang dari cara bicaranya saja lembut seperti ibu."


Tenri merasa tersanjung karena dipuji oleh ibu Eka itu.


Usai menelpon, dia langsung disambut pertanyaan oleh bapak mertuanya.


"Ada apa? Siapa yang menelepon? Wajah kamu senang sekali Tenri."


"Iyah Pak, Tenri senang sekali. Jadi beberapa waktu lalu karena Tenri merasa tidak ada kerjaan untuk menambah pemasukan. Akhirnya Tenri kepikiran kenapa tidak buka kursus saja, Tenri kan basicnya guru jadi tidak ada salahnya Tenri coba, Pak."


"Wah ini ... kamu memang isteri yang cerdas. Tidak salah ibu Reno memilihkan isteri untuk anak lelakinya ini. Jadi ibu itu mau anaknya diajari sama kamu, Tenri?"

__ADS_1


"Mau Pak, sudah mulai Minggu depan nanti. Doakan lancar ya, Pak."


"Tentu saja. Doa bapak akan selalu menyertai kalian berdua."


Sejak tadi Reno hanya diam saja, belum bersuara sama sekali. Dia pun disenggol bapaknya, "kenapa diam saja? Isteri mendapat kabar gembira kok wajahnya datar saja. Ikut bahagia juga tidak, ayo beri selamat pada isterimu."


"Se ... selamat ya, isteriku." jawabnya kikuk dan persis anak kecil lagi musuhan.


"Masa begitu saja, peluklah. Kamu ini kayak laki-laki yang tidak tahu memperlakukan seorang wanita saja."


Tenri menutup mulutnya menahan tawa.


Dengan segan Reno membuka lengannya untuk memeluk isterinya itu. "Ini kulakukan karena terpaksa ya, kamu jangan salah paham." ucap Reno disertai dengan nada suara sedikit penekanan.


"Tidak usah khawatir daeng, aku wanita yang masih tahu diri. Tapi apa salah, seorang suami memeluk istrinya?" bisik Tenri.


Setelah mereka berpelukan, Tenri beranjak dari duduknya untuk menyiapkan makan siang kedua lelaki itu.


***


Tenri mulai mengatur jadwal untuk dirinya sendiri. Untuk mengerjakan pekerjaan rumah dia dan untuk jadwal bimbingan belajarnya nanti.


Walaupun muridnya nanti hanya satu, tapi dia benar-benar bersemangat untuk melakukan itu. Apalagi karena dia memang sudah sangat rindu mengajar, sudah lama dia merindukan momen tersebut. Namun karena harus ikut Reno, dia pun melepas karirnya sebagai guru demi suaminya.


Tenri berharap ke depan dia memiliki lebih banyak murid, sehingga impiannya untuk memiliki rumah belajar akhirnya bisa dia wujudkan. Semoga saja.


Semenjak kehadiran bapak mertuanya, dia tak perlu khawatir dengan kondisi Reno. Reno bahkan tak pernah keluar rumah sekarang jika tidak terlalu penting. Di rumah seharian itu, dia bisa dinasehati sama bapaknya tak kenal waktu.


Sampai malamnya Reno mengeluh secara tidak langsung pada Tenri, kalau dia sudah merasa bosan dengan nasihat bapaknya yang diulang-ulang terus.

__ADS_1


Tenri merespon dengan tawa dari balik selimut. Cinta itu adalah bersabar, karena cinta dan saling mencintai butuh proses panjang bahkan bisa seumur hidup seseorang.


__ADS_2