Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Ikut Reno ke Kantor


__ADS_3

Masih pagi sekali, sudah tercium aroma kopi hitam yang memenuhi ruangan di kamar itu. Reno belum bangun namun indera penciumannya dapat menangkap betapa nikmatnya kopi tersebut. Dia mengerjap pelan dan membuka matanya, dia mengira Tenri masih ada di sana. Sayangnya saat dia membuka mata hanya cangkir berisi kopi tersebut yang ada, Tenri mungkin sudah turun lagi ke dapur.


'Dia sama sekali tidak berubah, meskipun aku selalu mengecewakan dirinya dia tetap berusaha menyiapkan segala kebutuhanku.' bathin Reno setelah melihat pakaian kantornya pun telah terlipat rapi di atas meja nakas.


Reno menyesap kopinya, kopi buatan Tenri persis yang biasa disiapkan ibu untuknya. Reno berdiri dan mengangkat gelas berisi kopi itu untuk dibawa ke balkon. Kebiasaan pagi Reno tersebut tak pernah dilewatkannya.


"Daeng ...." panggil Tenri mencari Reno.


"Di sini, Ndik." Reno menjawab dengan sapaan yang tak biasa. Sapaan tersebut belum pernah sama sekali didengarnya selama mereka berumah tangga.


'Mungkin saja aku salah dengar, tidak mungkin Reno memanggilku dengan sapaan ANDIK (adik).' bathin Tenri yang lantas menemui Reno di balkon.


"Ada apa, Tenri?" tanya Reno.


'Tuh kan benar, aku cuma salah dengar. Lagi pula aku ini kegeeran sekali sampai berhalusinasi dipanggil Andik.' Tenri yang sejak kedatangannya hanya diam melamun membuat Reno harus melambaikan tangannya di depan wajah Tenri.


"Tenri ...! Kamu melamun?" tanyanya lagi dengan suara sedikit lebih keras, membuat Tenri tersadar dari lamunannya.


"Eh iya, apa daeng?"


"Kok apa? Kan kamu yang manggil aku, Tenri."


"Oh iya, itu, anu ...." Tenri malah gugup sendiri lupa akan apa yang mau disampaikannya.


"Iya, itu, anu apa? Kok bicaranya jadi melantur gitu?"


"Anu daeng, sarapannya sudah siap. Kalau tidak segera turun bisa dingin nanti makanannya."


"Oh itu, ya sudah kamu duluan ya. Aku bersiap dulu."


Padahal kedatangan Tenri menemui Reno bukan itu tujuannya. Dia sangat gugup sampai lupa mengatakan apa yang sebenarnya.


'Duh kok bisa jadi bodoh begini si,' rutuk Tenri dalam hati.


***


Usai sarapan, mereka berdua kembali ke kamar. Reno bersiap mau ke kantor dan Tenri selalu mengekor di belakang Reno seperti anak kecil. Membuat Reno kebingungan sendiri dengan sikap isterinya itu.


"Tenri ... ada yang ingin kamu katakan? Kok aku merasa kamu mau mengucapkan sesuatu."


Tenri tertunduk karena merasa tertangkap basah. Dengan hati-hati dia pun berkata, "bolehkah aku ikut ke kantor kamu, daeng?"

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Hanya melihat-lihat, aku ingin tahu seperti apa pekerjaanmu."


Meskipun terdengar sedikit ganjil di telinga Reno tapi dia tetap mengizinkan Tenri ikut bersamanya ke kantor.


"Boleh. Cepat bersiap, aku ada rapat pagi ini tidak boleh terlambat."


Tenri pun segera bersiap dan menyapukan alat make up seadanya ke wajahnya karena dia memang tidak terbiasa dandan yang tebal-tebal.


"Yuk, aku sudah siap." Mata Tenri berbinar, senyumnya mengembang. Dia pun berjalan di sisi Reno yang langkahnya besar-besar, dia sampai kewalahan mengikuti Reno.


Reno membukakan pintu mobil untuk Tenri dan mereka pun berangkat.


Tiba di kantor keduanya menjadi pusat perhatian, pasalnya tak ada yang tahu di kantor itu kecuali Doni kalo bosnya itu sudah menikah dan isterinya adalah orang Makassar asli dan bukan Elsa.


Semua mengira itu adalah sekretaris baru Reno. Banyak yang memuji kecantikan alami Tenri yang tak terlalu dipoles make up. Sederhana namun cantik.


"Itu siapa perempuan yang bersama bos? Cantik sekali," celetuk salah satu karyawan bengkel milik Reno.


"Iyah, aku baru melihat perempuan itu datang bersama bapak. Apa dia sekretaris baru di kantor ini ya?" celetuk yang lainnya menimpali.


Jadilah Tenri bahan gosip yang hangat, membuat desas desus antara karyawan satu dan yang lainnya. Doni pun mendengar hal itu dan dia hanya bisa tersenyum.


"Itu Pak, ada perempuan cantik datang bersama bapak Bos. Itu karyawan baru?" jawab salah seorang karyawan.


"Isterinya pak bos."


Mata kesemuanya pun membelalak tak percaya. ISTERI PAK BOS? Begitulah kira-kira pertanyaan besar yang ada di kepala mereka saat itu.


"Yang benar saja, pak. Kapan pak bos menikah?"


"Kalian kurang update ...." balas Doni yang langsung meninggalkan semua karyawan tersebut. Dia merasa geli dan lucu dengan ekspresi para karyawan yang sama sekali tak tahu kalo bos mereka sudah menikah.


Tenri diajak masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya dua kali lebih besar dari ruangan lainnya. Ruangan itu adalah milik Reno, suaminya.


"Ini ruanganku, bagaimana kamu suka?"


"Bagus, desainnya juga oke. Nyaman dan tentu saja dingin. Haha."


"Haha ... Iyah suhu di ruangan ini memang sengaja aku buat dingin, soalnya aku kan orangnya gampang keringatan."

__ADS_1


Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu. Reno mempersilahkan orang tersebut masuk.


"Kamu, Don?"


"Iyah. Eh ada Ibu juga rupanya, selamat datang di kantornya bapak." Doni pun berusaha berbasa basi.


"Iyah, Pak Doni. Ingin lihat-lihat kantornya daeng."


"Baiklah aku tidak mau mengganggu lebih lama, hanya ingin menyerahkan berkas yang perlu tanda tangan persetujuan dari bapak." Doni menyerahkan sebuah map kepada Reno.


Doni keluar dari ruangan dan hanya ada mereka berdua, Tenri melihat suaminya sedikit berbeda dari yang dia lihat di rumah. Di kantor, suaminya nampak gagah, tegas dan profesional.


"Kenapa kamu melihat aku terus?" selidik Reno.


"Daeng terlihat profesional jika di kantor, setiap ucapan daeng adalah berharga di depan para karyawan. Aku salut dan melihatnya dengan hati yang bangga." Tenri tersenyum.


Baru saja mereka menikmati sedikit kehangatan suasana bersama, malah datang si perusak suasana. Keributan terjadi di luar ruangan Reno gara-gara Elsa memaksa agar diizinkan masuk ke ruangan Reno.


"Lepasin! Aku hanya ingin bertemu Reno." Elsa berteriak-teriak ketika salah seorang satpam memaksanya agar keluar dari gedung perkantoran milik Reno.


"Maaf, Bu. Tapi ibu dilarang masuk ke ruangan bapak. Biarkan kami menjalankan tugas dengan baik."


"Lepasin!!!" teriaknya.


Reno dan Tenri yang mendengar perseteruan itu pun penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka berdua hendak keluar tapi Elsa sudah menerobos masuk ke ruangan.


"Oh ... jadi karena isteri kamu di sini lantas aku dilarang untuk masuk ke ruangan kamu, begitu?"


"Elsa! Ngapain lagi kamu di sini? Saya sudah memberikan perintah kepada petugas keamanan di kantor ini untuk tidak membiarkan kamu masuk ke ruangan ini. Apa kamu tidak punya malu sedikit pun?"


"Reno, kamu lupa? Kita belum putus!" teriak Elsa.


"Belum putus bagaimana, aku sudah beristri."


"Aku tidak peduli. Kamu tetap harus bersamaku."


Tenri yang melihat perdebatan mereka pun tak bisa berkata apa-apa. Hanya diam dan menunggu mereka selesai berbicara.


"Dan kamu perempuan pengganggu, aku tidak akan membuat hidup kamu bahagia." tunjuk Elsa pada Tenri.


"Kebahagiaan aku tidak bergantung pada orang lain, Mbak. Aku bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri." Tenri menjawab dengan tegas dan tak luntur sedikit pun oleh tatapan Elsa yang nyalang kepadanya.

__ADS_1


Dalam hati Reno, dia senang Tenri sama sekali tidak takut dengan ancaman-ancaman dari Elsa.


__ADS_2