
Keesokan harinya, Reno muntah banyak sekali dan belum sempat dia ke kamar mandi. Muntahnya tumpah dan meluber ke mana-mana di lantai. Bau kecut dari alkohol tercium menusuk indera penciuman. Tenri yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat pemandangan yang sedikit menjijikan itu.
"Daeng ..., kenapa-ki?"
Reno sudah tak bisa melihat wajah Tenri lagi, dia hanya menunduk seraya menunggu semua isi perutnya yang seperti hendak melompat keluar. Tenri bergerak cepat mengambil air minum serta minyak angin.
"Minum-ki, daeng." Tenri menyodorkan segelas air minum.
Setelah minum, Reno berusaha menegakkan kepalanya. Tenri menyapukan minyak kayu putih di bagian leher dan juga pelipis Reno. Perlahan memijit di bagian tersebut agar Reno bisa merasa sedikit lebih baik.
"Sudah, sudah, aku sudah merasa lebih baik. Bisakah kau bersihkan itu dulu!" Reno menunjuk muntahannya yang baunya menyengat itu.
"Iyek, daeng. Istirahat-mi dulu kalau masih pusing. Saya ambil alat pembersih lantai dulu."
Tenri pun pergi, Reno masuk ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang bau minuman beralkohol itu.
Dengan telaten Tenri membersihkan semua kotoran itu. Tanpa ada perasaan jijik, semata-mata karena dia ingin berbakti pada suaminya saja.
Setelah semua beres, Tenri turun ke lantai satu tepatnya di dapur untuk memanaskan kembali Coto Makassar yang sempat dia buat sebelumnya.
***
"Aku sudah siapkan ini buatmu, daeng. Mungkin sebelum ke kantor bisa daeng makan dulu." Tenri menunjukkan hasil masakannya, namun kayaknya Reno sama sekali tak tertarik.
"Tapi aku harus segera ke kantor, simpan saja untuk makan siangmu. Aku akan sarapan di kantin kantor saja."
"Begitu ya, coba saja sedikit, daeng." Tenri masih terus berusaha, meski usahanya itu tak terbalas sama sekali.
"Tidak Tenri, terimakasih sudah membuatkannya untukku. Hari ini bibi datang dari kampung, kalau kamu butuh apa-apa di rumah ini minta bibi saja. Satu lagi, biar bibi yang masak kamu cukup kasih tahu bibi mau dimasakin apa."
Tenri merespon ucapan Reno hanya dengan mengangguk. Hati Tenri seperti tersayat, dia kecewa dengan sikap Reno padanya yang makin hari makin tidak jelas begitu. Namun dia berusaha sabar, bagaimana pun dia adalah seorang isteri.
Reno pergi bahkan tanpa permisi padanya. Tenri ingin menyalami tangan Reno, orangnya sudah keburu pergi. Terpaksa Tenri hanya bisa menghela napas lemah dan memandangi punggung suaminya yang menjauh menuju mobilnya.
__ADS_1
"Tidak Tenri, kamu bukan perempuan lemah. Kamu perempuan yang kuat. Perempuan dari Makassar bahkan lebih kuat dari batu karang." Tenri menguatkan dirinya sendiri dengan ucapan-ucapan positif.
Tenri kembali ke meja makan, menatap Coto Makasar bikinannya yang sudah terlanjur dingin. Tenri mengambil mangkok dan menuangkan kuah Coto beserta dagingnya. Saat dia mencoba memasukkan makanan tersebut ke mulutnya, dia teringat lagi pada Reno yang tidak menghargai sama sekali usaha untuk menyenangkan suaminya itu.
Rasa yang terasa di lidah Tenri menjadi hambar, aroma Coto yang semula menggiurkan itu tak ada lagi. Akhirnya dia menyerah, setelah berusaha tetap memaksa dirinya menelan kuah Coto tapi yang dia ingat hanyalah pengabaian yang dilakukan Reno padanya.
"Jangan menangis, Tenri." Berusaha menghibur diri.
***
Di kamar, Tenri sedang menerima telepon dari ibu mertuanya. Menanyakan kabar dan Bagas dengan pernikahan mereka.
"Bajik-bajik-ji semua, Bu. Tidak usah maki khawatir." Tenri menjelaskan kondisinya di Jakarta dengan Reno memakai logat Makassar. Dia meminta agar ibu mertuanya tidak usah khawatir, semuanya baik-baik saja.
"Kimae daeng-nu, Nak?" (Ke mana suamimu, Nak?) tanya ibu mertuanya.
"Ke kantor-ki, Bu. Malam biasa dia pulang, bagaimana keadaan-ta di sana? Baek-baek jeki?"
"Alhamdulillah, Nak. Sikatutuiki, ingat-ki pesannya orang tua-ta, Nak." (Saling jagalah, Nak. Ingat pesan orang tuamu)
Setelah percakapan singkat itu terjadi, suara bel yang berbunyi memaksa Tenri harus turun lagi ke bawah. Mungkin itu adalah bibi atau asisten rumah tangga yang baru saja kembali dari kampung.
Tenri membuka pintu, seorang perempuan paruh baya muncul dari sana dengan senyum nyengir.
"Nyari siapa, Bu?" tanya Tenri yang takut salah mengenali orang.
"Bibi nyonya, Bi Surti."
"Oh, Bibi. Masuk, Bi. Baru sampai ya?"
"Ini ... isterinya Tuan Reno kan?" tanyanya dengan ekspresi kegirangan.
"Iyah, Bu." Tenri menjawab sopan tak lupa juga dia tersenyum dan membantu Bi Surti membawa masuk barang bawaannya.
__ADS_1
"Duh, geulis pisan ya. Nggak kayak si itu---
Nyaris saja Bibi keceplosan menyebut nama Elsa. Tenri langsung memasang wajah penasaran.
"Siapa, Bi?"
"Ah itu, tetangga sebelah Bu."
"Oh ...."
Bu Surti pun masuk dan langsung membereskan kamar tidurnya yang cukup lama dia tinggalkan.
"Syukurlah bibi akhirnya pulang, aku kesepian di rumah. Tidak ada teman ngobrol."
"Loh, memangnya Tuan ke mana, Bu?"
"Kan kerja, kalau siang gini sendirian di rumah nggak tahu mau ngapain."
"Iyah juga ya ... Hehe. Tenang Bu, sudah ada Bi Surti."
"Iyah. Bibi berkemas saja dulu. Bibi juga pasti capek habis perjalanan jauh. Kalau Bibi lapar masih ada Coto Makassar di meja makan. Makan aja, Bi."
"Ibu baik sekali, masa aku datang-datang langsung dimasakin sih. Hehe."
"Jangan GeEr Bi, itu aku masakin buat Daeng. Hehe."
"Daeng? Siapa daeng, Bu?"
"Oh itu ... hehe Reno, suamiku."
"Oalah, namanya daeng ya kalah di Makassar?"
"Iyah, Bi. Permisi ya, Bi."
__ADS_1
***
Terkadang bertahan dalam rumah tangga adalah suatu keharusan, sebab tak ada keadaan yang selalu buruk, susah atau pun sedih. Ada juga yang mengandung bahagia dan akan membuat kita selalu bersyukur suatu saat nanti.