Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
: Daffa


__ADS_3

🍃🍃 Sebelumnya Mak Ji minta maaf karena bikin kaget kalian. Dikiranya novel ini udah tamat, hihi belum Kak. Masih lanjut kok, maksud dari ujung kalimat di paragraf sebelumnya itu adalah Terimakasih sudah baca MWPI sampai pada episode 77 🤭😂. Maafkan xixixi. 🍃🍃


__________


Kali ini Reno tidak mau kehilangan momen, dia bangun pagi-pagi sekali. Bahkan saat adzan Subuh masih berkumandang di mesjid. Sekalian dia juga bangun untuk shalat subuh. Dia yakin sekali, jika dia bangun lebih awal, maka dia bisa bertemu dengan Tenri. Hitung-hitung dia bisa ngobrol dengan istrinya itu. Sudah lama sekali mereka tidak ngobrol berdua dengan durasi yang panjang. Seringny?a pendek-pendek dan canggung, kalau panjang malah jadi bertengkar.


Saat dia mengendap-endap seperti seekor tupai yang mengincar mangsa, dia melihat Tenri sedang sibuk di dapur. Memasak makanan untuk sarapan pagi kayaknya. Reno berusaha tidak membuat suara-suara agar Tenri tidak kaget saat melihatnya. Tapi rupanya salah, dia justru membuat Tenri terkejut bukan main saat dia tiba di dapur tanpa aba-aba lebih dulu.


"Tenri---


"Astagfirullah ... Daeng, kalau saya jantungan bagaimana?" reflek Tenri berteriak ke arah Reno.


Dia tak menyangka respon Tenri akan seperti itu, kiranya dia mau cuek atau mengabaikan kehadiran Reno di sana.


"Maaf ...."


Tenri tidak bicara apapun lagi, dia kembali serius dengan masakannya. Reno jadi salah tingkah karena tidak tahu harus berbuat apa. Tenri meletakkan barang-barang yang sudah dipakainya di pencucian piring, Reno maju selangkah untuk ambil bagian. Baru saja dia mau memutar keran air, eh kekencangan. Akhirnya air muncrat ke mana-mana karena mengenai cucian yang menumpuk itu.


Pakaian dia seketika basah, wajah Tenri juga jadi imbasnya. Reno segera mematikan keran air dan buru-buru me-lap wajah Tenri dengan tangannya. Hal spontan yang dia lakukan itu malah membuat situasi semakin canggung. Saking salah tingkahnya, Reno sampai nggak tahu harus melakukan apa lagi.


Tangan dia masih tertangkup di wajah Tenri, tatapan mereka seketika bertemu. "Tanganmu, Daeng."


Barulah Reno menarik tangannya. "Maaf aku memang tidak bisa melakukan apapun, aku selalu saja membuat kesalahan." ucapnya.


"Daeng tidak usah ke dapur, tempat daeng bukan di sini. Sudah naik sana, mandi dan segera turun untuk sarapan. Daeng harus ke kantor." jawabnya tegas kepada Reno.


Walau enggan, Reno pergi juga dari dapur, ekor matanya masih mengawasi Tenri yang sedang melanjutkan pekerjaannya. Sepeninggal Reno, Tenri menyunggingkan seulas senyum, merasa lucu dengan tindakan salah tingkah Reno.


"Ada-ada saja." ucap Tenri lirih.


***

__ADS_1


Suasana klinik CIMERA terlihat sepi, hari ini yang datang berkunjung memeriksa kandungannya sepertinya tak banyak. Terlihat Daffa sedang memainkan ponselnya, menggeser-geser layarnya yang menampilkan foto-foto seorang perempuan. Perempuan yang tak lain adalah Tenri, foto yang diambil Daffa beberapa tahun silam saat mereka masih di bangku kuliah.


Saat itu hubungan keduanya masih baik, Daffa masih bisa melihat senyum dan tawa Tenri yang menular begitu saja kepada siapapun yang melihatnya. Daffa sempat tersenyum kemudian meringis menyadari hubungan mereka kini seperti tak pernah saling mengenal.


"Apa jika waktu itu aku tak pernah mengatakan perasaanku padamu, kamu masih mau melihat dan berbicara denganku Tenri?" ucapnya seolah berbicara pada foto di depannya.


Memperlihatkan wajah Tenri yang tersenyum, senyum yang selalu membuat Daffa sedih sesudahnya. Pasalnya wanita yang dia cintai itu membencinya hanya karena Daffa menyatakan perasaannya.


Suara ketukan pintu ruangannya membuyarkan lamunan Daffa tentang Tenri. Dia mengusap wajahnya dan memperbaiki letak jas dokternya.


"Silakan masuk," jawabnya menimpali suara ketukan itu.


Daffa pun kaget melihat sosok kepala yang menyembul dari balik pintu.


"Ganggu nggak?" tanya Doni sambil nyengir


"Ngapain kamu masih berdiri di situ Don, masuk sini." Daffa berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan Doni.


"Haha ... begitulah. Kamu mau ngapain di sini? Ngajakin cewek kamu periksa kandungan? Haha ...."


"Haha bisa aja, nggak, aku ke sini karena mau ketemu kamu saja. Sudah lama nggak pernah ketemu dan ngobrol lagi."


"Sepi ya?" tanya Doni lagi.


"Iyah hari ini lumayan sepi, kamu nggak kerja?"


"Kerja, cuma lagu free aja hari ini."


Setelah basa basi yang terkesan membosankan itu, Daffa sedikit curiga dengan kedatangan Doni yang mendadak padanya. Dia yakin ada sesuatu yang penting, Doni hanya tak ingin langsung bilang makanya dia menggiring pembicaraan dulu sampai akhirnya dia merasa sudah waktunya untuk ngomong sama Daffa.


"Sebenarnya kamu ke mana selama ini, Daff? Kok udah kayak hilang ditelan bumi, saat pertama kali aku dikasih tahu Reno kalo kalian berdua ketemu, aku udah gak sabar lagi ingin ketemu kamu. Udah berapa tahun ya kita tidak bertemu?"

__ADS_1


"Pastinya sudah lama banget, puluhan tahun kali. Haha. Don, ada apa? Pasti ada sesuatu kan yang ingin kamu tanyakan sampai kamu jauh-jauh datang ke tempatku?"


"Emm ... iyah sih. Tapi terlalu pribadi, jadi aku nggak enak sama kamu, Daff."


"Memangnya kenapa?"


"Kamu kenal Tenri sebelumnya?"


Deg.


Air muka Daffa langsung berubah terkejut. 'Dari mana Doni tahu?' batinnya. Daffa terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Doni.


"Ya, aku kenal dia saat kami kuliah di kampus yang sama."


Mata Doni membelalak. Ternyata dugaan Reno benar, kalau Daffa pernah tinggal di Makassar. Satu kejutan besar, andai saja Reno tahu hal ini, Doni saja kaget.


"Yang benar?"


"Iyah. Aku tidak bohong. Bahkan, dulu, dulu sekali aku sama Tenri itu dekat banget. Aku, Tenri, Olla, itu bisa dibilang kita ini best friend. Namun, semua itu berubah saat aku memberanikan diri ngomong ke Tenri, kalau aku itu punya perasaan sama dia. Sejak itu, sikap dia berubah, dia menjauhi aku, sampai tidak mau bicara sama aku." curhat Daffa dengan mimik wajah yang terlihat suram saat menyebut nama Tenri. Ada getir yang dirasakannya.


"Aku nggak tahu kenapa dia marah, kenapa dia menjauhi aku, sampai aku tanya ke sahabatnya yang bernama Olla dan dia bilang bahwa Tenri tidak suka kalau aku memiliki perasaan padanya. Lalu apakah salah?"


"Kemudian, berjalannya waktu, aku tanya ke Tenri kenapa dia menjauhiku, dia pun jujur, dia takut terlibat hubungan denganku karena sejak kecil dia sudah dijodohkan dengan seorang lelaki. Aku tidak menyangka kalau laki-laki itu adalah Reno. Jantung aku pas ketemu sama dia dan Reno, kayak tabuhan gendang kencang sekali sampai aku tak bisa bicara. Sesak sekali rasanya." lanjutnya lagi.


Doni mendengar kisah Daffa ikutan iba pada sahabatnya itu. Baru kali ini dia mendapati kisah cinta yang begitu rumit. Daffa, Tenri, atau pun Reno, mereka semua memiliki hubungan kuat sebelumnya.


"Apakah Reno yang meminta kamu ke sini, Don?"


"Jujur, iya. Soalnya, dia mendengar percakapan kamu dan Tenri saat dia memeriksa kandungannya di klinik ini."


Daffa pun lebih terkejut lagi.

__ADS_1


"Jadi Reno sudah tahu?"


__ADS_2