Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Aku Tidak Pernah Tidur Dengan Elsa


__ADS_3

"Tenri, kemari sebentar. Ada hal yang ingin aku ceritakan padamu, kuharap kamu masih memercayaiku setelah aku mengatakan semuanya padamu. Aku tidak mau hal ini sampai membebani atau menyakiti hati kamu lebih dalam lagi. Aku tidak peduli, apakah setelah ini kau masih mau bersamaku atau meninggalkan aku, aku tidak peduli, namun kasih aku kesempatan untuk menceritakan semuanya apa adanya tanpa ada yang aku rekayasa atau karang hanya karena mencari pembelaan diri dari kamu."


Tenri berjalan ke sisi tempat tidur, dia diam menunggu Reno untuk melanjutkan ucapannya. Rasa penasaran dalam diri Tenri semakin menggebu, untuk sekian lama barangkali ini ekspresi paling serius Reno saat mengajak Tenri berbicara.


"Dengar aku baik-baik, kamu boleh percaya boleh tidak. Namun jangan potong apapun yang kukatakan sebelum aku selesai bicara."


Tenri mengangguk.


Reno menatap Tenri lekat-lekat, dia menarik napas pelan dan memejam sebentar sebelum memulai semua ceritanya.


"Aku tidak pernah tidur dengan Elsa."


Satu kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Reno, kalimat yang akan menimbulkan kecaman atau sindiran dari berbagai pihak yang selama ini mengikuti perkembangan cerita mereka. Tidak ada yang bisa percaya kepada ucapan Reno barusan, bahkan Tenri sekalipun.


"Sekali lagi, AKU TIDAK PERNAH TIDUR DENGAN ELSA."


"Daeng, dengan apa aku harus percaya itu?"


"Aku memang sering menemui dia saat mabuk, saat terpuruk, saat aku tak punya pijakan, tapi demi Tuhan aku tidak pernah tidur dengannya atau bahkan berhubungan layaknya suami isteri dengan dia. Dia memang selalu merayu, menggodaku bahkan memaksa aku agar aku mau melakukan itu, tapi percaya padaku aku tidak pernah melakukan itu dengan Elsa."

__ADS_1


"Sulit untuk aku bisa percaya daeng, setelah semua bukti yang dikirim Elsa padaku."


"Kamu lebih percaya Elsa atau suami kamu, Tenri?"


"Bukankah daeng bilang sendiri aku boleh percaya juga boleh tidak percaya, sekarang aku belum percaya cerita bahwa kamu tidak pernah berhubungan badan dengan wanita itu. Wanita yang bahkan namanya saja daeng sebut sudah merobek-robek hatiku."


"Oke. Kamu boleh tak percaya, namun satu hal yang perlu kamu tahu, Elsa hanya pelarian dari masalahku. Aku memang ke apartemennya, dia sampai menyerahkan diri sekalipun aku tidak melayaninya Tenri. Aku tidur di kamar yang lain, sedangkan dia di kamarnya sendiri."


"Tapi kenapa harus lari ke wanita itu daeng? Bukankah ada aku, aku yang menunggu kamu di rumah sepanjang hari bahkan sepanjang malam hanya agar kamu mengatakan 'hei isteriku, aku butuh kamu'."


"Aku akui aku memang salah, sudah menjadikan Elsa sebagai pelarian. Tapi intinya itu, aku tidak pernah meniduri Elsa apalagi berhubungan badan dengannya."


Tenri beranjak dari tempat tidur, dia menghapus air matanya yang sempat jatuh di pipinya. "Tenri, kasih aku kesempatan memperbaiki semuanya."


Tenri sudah menutup pintu kamar itu. Dia tidur di kamar lain. Malam itu adalah malam pertama di mana mereka tidur terpisah namun masih dalam satu rumah. Bagaimana Tenri harus percaya, setelah semua foto-foto yang dikirim oleh Elsa. Memang di situ wajah Reno selalu dalam keadaan tidur, tidak dalam kondisi berpelukan atau hal lainnya. Hanya saja, pakaian yang dipakai Elsa saat itu seperti menjadi saksi bahwa mereka baru saja melakukannya.


Mereka pun akhirnya pisah ranjang. Reno yang baru merasakan bisa berjalan lagi, harus menelan kenyataan bahwa Tenri tidak memercayai dirinya. Dengan langkah gontai, dia mendatangi kamar Tenri. Dia mengetuk pintu kamar itu dengan sisa tenaga yang dimilikinya.


"Tenri, buka pintunya. Kasih aku kesempatan. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya lagi."

__ADS_1


"Daeng, sudahlah. Aku ingin sendiri dulu."


"Apa tidak ada cara agar kau bisa memercayaiku lagi?"


"Aku berusaha untuk memercayaimu sejak awal daeng, aku berusaha untuk cinta padamu meski kita tak pernah berhubungan sebelum menikah, aku berusaha menjadikan kamu laki-laki satu-satunya dalam hidupku, tapi apa semua itu tak percuma jika daeng hanya menganggapku seperti angin lalu?"


"Mungkin cara satu-satunya agar kita berdua dapat mengoreksi diri adalah, seperti ini dulu. Kita lebih baik berpisah ranjang untuk sementara."


Tenri dari balik pintu kamar terduduk di lantai menahan isak yang sudah menyesaki dadanya. Sementara Reno terus berusaha meminta maaf pada Tenri dan agar dia mau membuka pintu itu dan memaafkannya. Namun apa yang harus Tenri lakukan? Sekian lama dia berusaha menenangkan dirinya sendiri agar apapun yang dilakukan Reno di luar sana selama dia tak melihatnya maka dia tak akan mempermasalahkannya. Hanya saja, sekarang pertahanan dia mulai goyah untuk sesuatu yang tak bisa dia percayai.


"Kenapa harus berbohong daeng? Tidak masalah kalau daeng tidur dengan Elsa asal jangan bohong seperti ini dan mengatakan bahwa daeng tidak pernah tidur dengan wanita itu. Siapapun akan mustahil bisa percaya? Jangankan aku daeng? Tuhan saja mungkin akan sanksi dengan pernyataan itu, setelah semua yang terjadi di antara kita selama ini."


"Tapi aku benar tidak melakukannya, Tenri. Aku masih memegang teguh yang namanya sirik, pantang bagiku untuk melakukan itu bukan kepada orang yang halal aku sentuh."


"Sudah daeng, cukup! Aku tidak mau dengar lagi. Tolong berhenti,"


Akhirnya tangis Tenri pecah. Dia memeluk lututnya dan menangis seorang diri.


'Tuhan, bagaimana aku bisa percaya? Setelah semua yang terjadi dan telah dilakukannya, bisakah aku memercayai itu? Sampai saat ini bahkan disaat foto itu dikirim oleh Elsa, aku berusaha untuk tak percaya tapi namanya hati perempuan akan tetap sakit dan cemburu melihat semua itu. Meski aku berusaha tegar sekalipun. Tidak bisakah badai rumah tanggaku berakhir sampai di sini dulu? Aku tidak kuat, Tuhan ....'

__ADS_1


__ADS_2