
Usia kehamilan Tenri sudah memasuki usia 4 bulan, perut Tenri pun sudah terlihat menonjol. Berat badannya naik pesat karena nafsu makan Tenri semakin meningkat. Walau dia mengalami ngidam, namun dia berusaha agar hal itu tak mempengaruhi aktifitasnya. Dia benar-benar wanita yang kuat.
Hubungan dia dan Reno belum memiliki titik terang. Seminggu ini mereka sudah tidur terpisah, Reno kerap membuka kamar Tenri dan melihat isterinya itu sedang tidur. Seperti malam ini, dia baru saja pulang dari bengkel. Dia melihat Tenri sudah tertidur di meja kerjanya dengan laptop yang masih menyala.
Reno mendorong pintu kamar itu sedikit agar tubuh dia muat untuk masuk dan tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Tenri. Dia mengendap-endap ke arah Tenri, isterinya itu tertidur sangat pulas. Sampai kedengaran sedikit dengkuran saking lelapnya.
"Kamu sudah bekerja terlalu keras, Tenri. Sampai tidur pun kamu lupa kalau sudah tertidur di meja kerja." lirihnya.
Bermodal dua lengan kekarnya, dia pun mengangkat tubuh Tenri ke tempat tidur. Dia baringkan tubuh Tenri di kasur dengan pelan. Saat hendak menutup tubuh Tenri dengan selimut, tak sengaja matanya jatuh ke arah perut Tenri.
"Astaga, aku sampai lupa kalau Tenri bahkan sedang hamil anakku." Reno sedikit mendekat. Dia mengusap perut Tenri, saking pelannya dia tak ingin saat dia mengusapnya baju Tenri sampai berantakan.
"Hei sayang, maafkan ayah yah. Ayah sudah menyakiti hati ibu kamu, doakan ayah bisa mendapatkan maaf ibumu dan kita berdua bisa tidur bersama lagi."
Setelah dia melakukan itu, Reno menarik selimut ke atas tubuh Tenri hingga menutup bagian dadanya.
"Selamat tidur, Tenri."
Dia pun keluar dari kamar tidur Tenri dan berjalan gontai ke lantai atas. Jas yang disampirkan ke bahu kirinya nampak sama kusutnya dengan wajahnya saat ini. Dia belum menemukan cara bagaimana agar Tenri percaya bahwa dirinya memang belum pernah tidur dan berhubungan layaknya suami istri dengan Elsa.
__ADS_1
Reno memijit kedua pelipisnya, matanya redup dan kelihatan lelah sekali seharian berada di bengkel. Dia kembali melakukan tugasnya sebagai bos sekaligus marketing agar bengkel dia dan Doni semakin dikenal banyak orang dan mempercayakan kendaraan mereka untuk diservis di sana.
Dia memasuki kamarnya yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Tak ada lagi Tenri yang menunggunya sambil menyiapkan air hangat untuk dia mandi. Dengan malas dia membuka sepatunya juga meletakkan jas dan kemejanya di atas tempat tidur.
Reno menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, saat masuk dia tak menyangka kalau Tenri sudah menyiapkan air hangat untuknya. Bahkan handuk juga sudah terlipat dengan rapi di tempatnya.
"Kau masih saja melakukan semua itu untuk aku, Tenri." ucapnya lirih.
Percikan air mulai membasahi tubuhnya yang lelah seharian bekerja. Dia sudah konsultasi ke Doni untuk permasalahan yang tengah dialaminya. Namun akal sehat siapapun tidak akan menerima jika dua orang manusia laki dan perempuan berada di dalam satu ruangan dimana status mereka adalah mantan kekasih, tidak akan melakukan apa-apa.
Isteri manapun akan merasa kecewa dan terluka, Tenri sudah terlalu baik padanya selama ini. Menyerahkan dirinya kepada seorang lelaki bernama Reno, meski pada akhirnya apapun yang dia lakukan tak pernah dihargai.
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan?" ucap Reno di bawah air yang mengalir di atasnya. Kedua tangannya bertumpu ke dinding kamar mandi, mempertegas tubuh atletisnya yang semakin terlihat seksi karena dia agak kurusan.
Setelah membiarkan air mengguyur seluruh permukaan kulitnya, dia pun meraih handuk yang terlipat di rak. Menutup tubuh bagian bawahnya dengan menggulung handuk tersebut. Lalu meraih lagi handuk kecil untuk digunakan di wajahnya.
Reno keluar dari kamar mandi dan memakai baju tidur. Dia membersihkan sebentar baju yang menumpuk barusan lalu naik ke tempat tidur.
Di tatapnya langit-langit kamar, cukup lama. Kemudian dia teringat ucapan Doni tadi siang.
__ADS_1
"Apakah berisiko jika aku meminta Elsa jujur ke pada Tenri bahwa memang aku dan dia tidak pernah tidur bersama?" tanya Reno saat itu.
"Jangan main api lagi Reno, Tenri sudah cukup terluka. Lagi pula aku tidak yakin Elsa akan mau melakukan itu, apalagi dia harus jujur pada wanita yang selalu dianggapnya sebagai perebut kekasihnya."
"Jadi aku harus bagaimana, Don?"
"Bukti itu sebenarnya tidak perlu ditunjukkan, Ren. Sekalipun kamu bisa melakukannya, aku tidak yakin Tenri akan percaya juga. Jadi saranku adalah sudahlah cooling down dulu. Biarkan Tenri dengan keinginannya untuk saat ini. Kamu fokus untuk perbaiki diri kamu dulu. Kamu mau untuk berubah lebih baik kan? Karena itu buktikan pada Tenri bahwa kamu bisa memperbaiki diri dan juga hubungan kalian."
"Jujur aku takut kehilangan dia, Don."
"Ke mana aja selama ini, Ren?"
"Wanita sebaik Tenri tidak bisa disia-siakan begitu saja. Aku malah menyebut kamu itu pria yang beruntung dapat menikahi wanita seperti Tenri. Jika wanita yang kamu nikahi bukan Tenri, mungkin sudah lama dia meninggalkan kamu Ren."
Semua obrolan siang itu seperti bergulir lagi di kepalanya. Mengingatkan dia akan segala sikap buruknya pada Tenri selama ini. Setiap kali dia mengingat kata kasar yang pernah terlontar dari mulutnya, dia seakan merasakan rasa sakit dan kecewa yang dirasakan Tenri karena dirinya.
'Maafkan aku Tenri ... maafkan aku ...'
Sayangnya bahkan kata maafpun kini tak lagi menjadi penolongmu, Ren. Maka nikmatilah penjara hidupmu saat ini. Anggap kamu belajar untuk lebih bisa menghargai kehadiran seseorang di sisimu.
__ADS_1
Sebab sesuatu baru terasa lebih nyata dan menyakitkan ketika kita telah kehilangan. Hargai apapun yang menjadi milikmu sekarang, karena tak semua yang berharga akan bertahan pada orang yang pernah menghargainya.