
Tidak pernah terlintas dalam benak Reno akan mengalami kejatuhan yang sampai ke dasar paling dasar sekaligus. Kebakaran, ditipu, ibunya meninggal, rumah tangganya hancur, semua itu membuatnya sangat terpukul.
Hingga dia tiba di titik yang sekarang, setelah semua hal dilaluinya, hanya isterinya yang benar-benar bertahan di sisinya. Tidak ada yang lain. Tenri terluka dan juga kecewa, tapi dia memilih menelan semua luka dan kecewa itu demi mempertahankan rumah tangganya yang sudah ada di ujung tanduk.
Satu hal yang diyakini oleh Tenri adalah bahwa tidak selamanya rasa sedih berdiam di suatu tempat, suatu saat namanya kebahagiaan akan mendatanginya juga.
Hari ini, Tenri menemani Reno berjemur di taman samping rumahnya. Ada hal yang luput dari penglihatan Tenri selama ini, cincin kawin mereka yang ada di tangan Reno sudah tak pernah dilihatnya lagi.
Tenri menahan diri untuk bertanya, apalagi situasi sekarang belum memungkinkan. Hubungan mereka baru saja terjalin baik, biar nanti Tenri tanyakan tentang itu.
"Apakah daeng ingin berlatih berjalan?" tawar Tenri untuk mengusir kesedihan di hatinya yang mendadak mencuat saat dia tahu cincin di tangan Reno sudah tak di jarinya.
"Boleh."
Tenri berusaha memapah tubuh Reno agar bisa berdiri tegak dan memulai latihannya. Baru langkah pertama, Reno sudah berteriak.
"Aarggh ...."
"Tahan daeng, jika sudah terbiasa maka rasa sakitnya pun akan menghilang sedikit demi sedikit. Ayo pelan-pelan, kita mulai lagi."
Reno pun kembali berlatih langkah demi langkah, sampai akhirnya dia bisa berdiri sendiri di atas dua kakinya.
"Tenri ... aku bisa, aku bisa Tenri!" pekiknya bahagia.
__ADS_1
Tanpa disadari Reno menarik tubuh Tenri ke dalam pelukannya, sejenak ada jeda di antara mereka. Setelah sekian lama, akhirnya dia kembali merasakan pelukan suaminya. Hal yang sudah lama dinantikan Tenri.
"Nanti daeng pasti bisa kembali berjalan normal, sekarang kita masuk lagi. Matahari sudah mulai tinggi, latihannya besok kita lanjutkan."
Baru saja mereka berjalan menuju pintu masuk, sebuah mobil memasuki halaman rumah mereka. Seketika mereka berhenti untuk melihat siapa yang bertamu di pagi hari ke rumah mereka.
Tenri berada di belakang Reno, memegang tuas dorong kursi roda suaminya. Mereka sempat dilanda rasa penasaran karena orang itu tak kunjung turun dari mobil.
Lalu pintu mobil terbuka, sebuah kaki jenjang turun dari sana. Dari situ mereka tahu kalau tamunya adalah perempuan. Menit berikutnya mereka terperangah karena yang datang adalah Elsa. Mantan pacar Reno.
Langkahnya terkesan angkuh, tatapannya meremehkan, senyumnya menusuk bagai mata pisau. Menit berikutnya, perasaan Tenri menjadi tidak enak.
"Mau apa lagi wanita itu?" bisik Reno dengan geram.
"Sudahlah, kita lihat saja apa yang dia inginkan, daeng."
Elsa pun kini sudah berada di depan mereka, rambutnya agak dikibaskan ke belakang. Semakin menonjolkan sifat keangkuhannya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Reno sinis.
"Tenang, aku tidak akan mengacaukan apapun. Aku ke sini cuma mau mengembalikan sesuatu. Kebetulan tadi pagi aku menemukan ini di laci rias milikku." jawab Elsa yang lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas genggamnya.
Tenri masih tidak mengerti dengan ucapan Elsa. Reno kayaknya sudah tahu maksud Elsa itu, sehingga wajahnya langsung berubah drastis. Ekspresinya itu tertangkap jelas oleh Elsa, sehingga wanita itu lebih leluasa menyindir Reno.
__ADS_1
"Kenapa Reno? Nih, cincinnya aku kembalikan. Tertinggal di apartemenku saat terakhir kamu berkunjung saat mabuk." Elsa mengambil tangan Reno dan meletakkan kotak kecil itu di telapak tangan Reno.
Akhirnya terjawab sudah pertanyaan Tenri tentang cincin kawin yang menghilang di jari manis suaminya. Dia tak bisa berkata-kata, lidahnya keluh, dia sudah membuat terlalu banyak kesalahan pada Tenri.
"Apa urusan kamu sudah selesai? Jika sudah selesai, silakan angkat kaki dari rumah kami." ucap Tenri yang lalu membalik kursi roda Reno dan mendorongnya menjauh dari Elsa.
"Tidak usah sombong kamu Tenri, sampai kapan pun Reno tidak akan pernah mencintai kamu." Elsa sampai berteriak kepadanya.
Kalimat Elsa memang sangat menyakitkan tapi Tenri lebih memilih untuk menutup telinga dan matanya saat ini. Dia menarik napas panjang, lalu membuka pintu dan menutupnya kembali. Tidak melihat lagi apakah Elsa sudah pergi dari sana atau tidak, dia tak peduli.
Sesampainya mereka di kamar, ada jarak yang luas meski mereka satukan lagi. Hal yang menurut Tenri akan baik-baik saja, kini kembali ternoda noktah hitam karena perbuatan Reno.
Dia berusaha untuk tenang, meski gemuruh di dadanya kian besar. Dia membuka kunci penahan kursi roda di kaki Reno, lalu membantu suaminya itu untuk naik ke tempat tidur. Tidak ada suara, tidak ada kata, yang ada hanya bunyi napas mereka yang terasa sesak.
"Tenri---
"Jangan dibahas lagi daeng," potong Tenri dengan cepat.
"Tidak perlu dijelaskan mengapa dan bagaimana, anggap itu tak pernah terjadi. Aku tidak apa-apa, daeng." tambahnya.
Reno tak berucap apapun lagi. Menit berikutnya, Tenri keluar dari kamar tanpa sepatah kata.
'Aku tahu hatimu sakit, aku tahu hatimu patah berkali-kali karena aku, meski kata maaf ini tak berarti lagi buatmu aku akan terus meminta maaf sampai kau benar-benar memaafkan aku, Tenri.'
__ADS_1